
Di depan para penduduk yang menonton, aku menarik granat dari tanganku lalu melemparkannya tepat di bawah salah satu pohon.
Dan.
Bam.
Ledakan menggema dengan asap menelan seluruh bagian pohonnya.
"Tidak berhasil," perkataan Liz mewakili situasi sekarang.
Jika demikian bagaimana kalau ini.
Aku mengeluarkan lima granat sekaligus yang masing-masing penguncinya kutarik lalu kulemparkan secara bersamaan.
Rentetan ledakan menggema di udara bersama rasa khawatir penduduk, kecuali debu pohonnya tampak baik-baik saja. Jika begitu hanya ada satu jalan.
Aku memanggil Marine dan Sirius hingga keduanya berubah jadi pedang dan lalu melesat ke tanganku.
Hembusan angin berkibar di sekililingku bertepatan saat aku mencengkeram keduanya, aku bisa menggunakan satu saja akan tetapi mereka pasti akan bertengkar, akan lebih baik menggunakan keduanya sekaligus.
Pertama aku mengayunkan pedang Marine dan itu memotong cukup baik, selanjutnya Sirius hingga pohon-pohon yang kulalui mulai berjatuhan.
Pada saat aku hendak akan menebas pohon yang terakhir seorang penyihir muncul dengan sapu terbangnya lalu menembakan sihir ke arahku yang mana kutangkis dengan punggung pedang.
"Aku tidak akan biarkan kau menghancurkan pohonku."
"Kau merebut energi kehidupan para penduduk untuk membuatmu abadi, benarkan Evil."
Atas pernyataanku penyihir itu mendecapkan lidahnya.
"Kau menyadarinya yah."
__ADS_1
"Mudah saja, aku pernah mempelajari metode seperti ini saat berlatih dengan guruku."
"Meski kau tahu juga, kau tetap saja akan mati di tanganku."
"Kubuat api untuk menghancurkanmu, Fire Arrow."
Tepat saat Evil selesai merapal panah-panah api mulai berjatuhan dari langit, dengan skala besar seperti ini, dia jelas ingin menghancurkan kotanya juga.
"Biar aku saja," Liz menawarkan dirinya untuk menciptakan dinding pelindung dari es, menahan setiap panah tersebut, sementara aku melesat ke arah si penyihir dengan dua pedang besar di kedua tanganku.
Aku mengayunkan keduanya hingga si penyihir mundur menjaga jarak.
"Seranganmu tidak akan sampai padaku."
"Menurutmu begitu."
Aku mengarahkan kedua pedangku yang berubah menjadi senjata tembak, dengan cepat sebuah laser di tembakan yang mana menghantam si penyihir dari depan, menciptakan sebuah ledakan besar.
Para penduduk berjalan ke arahku dengan berlinang air mata, salah satunya pria yang aku temui di toko.
"Kami benar-benar bebas."
"Aah, kalian bebas."
Aku memunculkan sekantong uang dari sihir penyimpananku.
"Bagikan uang ini dan gunakan untuk berbelanja, paling tidak kalian bisa mencoba menanam sesuatu."
"Terima kasih banyak."
Mereka semua menangis.
__ADS_1
Aku menciptakan sebuah mobil, anggotaku naik lebih dulu kecuali aku dan Naula.
"Setelah ini mereka pasti akan baik-baik saja, ngomong-ngomong penyihir itu abadi tapi kenapa kamu bisa mengalahkannya?"
"Kurasa keabadian yang dimilikinya tidak seperti keabadian mutlak, hanya umurnya saja yang panjang, jika seseorang membunuhnya tubuhnya tidak beregenerasi."
"Begitu, sihir memang mengagumkan."
"Bagiku kau yang mengagumkan Naula."
"Apa kau berbicara soal tubuhku?" katanya selagi berpose bagaikan seorang model.
Aku menghembuskan nafas panjang lalu naik ke kursi pengemudi tanpa mengatakan apapun.
"Hey, kenapa kau tidak menjawabku... cepatlah, bagian mana yang menurutmu bagus, dadaku atau pahaku."
"Berisik, naiklah atau kita tidak jadi ke pantai."
"Aaah... jangan sampai hal itu terjadi, tapi aku penasaran?"
Pada akhirnya aku melanjutkan perkataanku.
"Naula tidak bisa menggunakan sihir namun kemampuanmu melebihi orang yang memiliki sihir."
"Aku merasa tersanjung."
"Aku juga setuju dengan tuan Aksa. Naula bisa diandalkan barusan," tambah Liz yang mendapatkan anggukan semuanya.
"Kalian terlalu memuji, tapi sejujurnya aku tidak melakukan apapun tadi... apa kalian sedang mengejekku? Kemarilah kalian semua."
Aku hanya fokus mengendarai mobilku tanpa memperdulikan keributan yang terjadi.
__ADS_1