
Union melanjutkan setelah menuangkan teh untukku kemudian memberikan cangkir baru untuk Nermala.
"Apa kau masih ingin mendengarkan pergerakan raja iblis?"
"Kurasa sudah cukup, aku masih harus melawan empat binatang bencana, untuk raja iblis paling tidak kita bisa serahkan ke kerajaan lain dulu untuk ditangani."
"Seperti yang kubilang bukuku tidak bisa melihat masa depan, saat ada pergerakan yang tertulis akan kuberitahukan padamu."
"Terima kasih, aku akan sering mampir mulai sekarang," kataku singkat.
"Itu baru yang kuinginkan, kau juga bisa mengambil semua pengetahuan di sini."
Nermala berdiri selagi membusungkan dadanya yang besar.
"Aksa sudah berlatih banyak dengan kami, dia tidak memerlukan lagi buku-buku seperti ini."
"Apa itu benar?"
"Memang benar, tapi aku tidak menolak jika ada seseorang yang memberikan bantuan seperti ini, aku akan mengambil seluruh pengetahuan, apa tidak masalah?"
Nermala mengembungkan pipinya dan aku mengelus rambutnya.
"Entah kenapa kalian malah lebih seperti pasangan."
"Hehe."
Nermala tersenyum aneh sementara Union melanjutkan.
"Aku tidak keberatan tapi kecuali aku menghafal semuanya agak mustahil."
"Tidak, aku akan menyalinnya dengan sistemku."
"Sistem? Aku tidak mengerti, yang kulihat kau hanya menekan-nekan udara kosong."
Hanya aku dan dewi yang bisa melihatnya.
__ADS_1
"Apa aku terlihat aneh?"
"Tentu saja, bagi orang awam kau mungkin dianggap seperti orang gila."
"Tidak sejauh itu juga."
Aku diam sesaat untuk memikirkannya sampai kuputuskan melakukan hal yang biasa dilakukan banyak orang yaitu menggunakan Smartphone.
Apapun yang kau butuhkan entah itu infomasi atau hal lainnya semua orang cenderung melihat ponsel.
Smartphone jatuh dari langit dan langsung berada di tanganku.
"Aku akan memindahkan sistemku kemari dan selanjutnya mencopy seluruh pengetahuan di perpustakaan ini ke dalamnya."
"Hoh itu menarik," tambah Nermala dan Union masih kebingungan.
Walau tidak bisa kugunakan selayaknya seperti ponsel pada umumnya, menyimpan informasi masih bisa kulakukan jadi itu tidak masalah.
Pada dasarnya Union tidak perlu tahu apa yang sedang kulakukan.
"Kurasa sudah cukup."
Aku melemparkan kembali ponselku ke atas dan sebuah lubang menelannya seutuhnya, dengan ini pertemuanku dengan keduanya telah selesai untuk hari ini.
Pagi berikutnya diluar dugaan kini aku bertemu dengan Vivia legal di kediamanku atau lebih tepatnya dia mengunjungiku.
"Ada apa Aksa?"
"Apa kau salah minum obat atau sesuatu?"
"Tidak baik berkata pada seorang gadis seperti itu, kau tahu?"
Tidak seperti sebelumnya Vivia yang berada di depanku mengenakan gaun terusan berenda serta terlihat jauh dari kesan kesatria yang melekat padanya.
Dia seperti Vivia yang kukenal saat pertama kali bertemu denganku.
__ADS_1
"Hari ini aku libur, sungguh membosankan jika terus berada di sini, mau pergi bersama."
Hanya dalam hitungan detik guruku dan semua penghuni mansion mengelilinginya.
"Hoh, kau berani sekali Vivia... sejak kapan kau menyukai Aksa?"
"Apa maksudmu Heliet? Aku lebih dulu bertemu dengannya."
Ayumi memotong.
"Kau tahu seluruh penghuni di mansion ini sedang menunggu gilirannya untuk berkencan dengan Aksa, dan kau tiba-tiba muncul dan bilang 'Mari berkencan' sungguh curang."
"Tapi Aksa kencan bersama Jeanne beberapa hari sebelumnya."
Kini semua pandangan mengerikan itu dikirim ke arahku.
"Kalian semua ini kenapa?"
Lulu yang menjawabku.
"Aku tidak ingin bicara dengan Aksa selama seminggu."
"Heh, Nicol?"
"Aku juga."
Bahkan Nicol yang selalu berada di sampingku pun ikut-ikutan.
"Haha kau punya masalah di sini Aksa."
"Vivia gaya bicaramu berubah lagi."
"Ya ampun, aku masih harus banyak menahan diri fufu."
"Sebenarnya kepribadianmu itu yang mana?"
__ADS_1
Jika begini aku juga harus berkencan dengan semua orang di mansion, terlebih sekarang orang yang tinggal sangatlah banyak.