Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 38 : Kota Yang Ditinggalkan


__ADS_3

Berkat kearifan yang ditunjukkan oleh guruku kedua desa akhirnya bisa berdamai, maksudku dia menghujani mereka dengan kilatan petir hingga akhirnya kedua belah pihak memutuskan untuk mengikat perdamaian.


Yang akan kudengar di masa depan hanyalah sebuah desa penghasil anggur terbaik nantinya.


Aku, nona Heliet dan Alyssa melanjutkan perjalanan kami kembali ke beberapa desa berikutnya hingga akhirnya kami sampai di sebuah hutan rimbun, sudah 900 tahun lamanya tempat ini ditinggalkan dan hanya menyisakan reruntuhan dari puing-puing yang tidak utuh lagi.


Tanaman Ivy serta lumut telah tumbuh subur di atasnya, di tengah reruntuhan itu tampak sebuah kardus yang tak dimakan usia. Nona Heliet mendekat untuk menyentuh kardus tersebut sementara aku dan Alyssa mengikuti dari belakang.


"Sungguh lama sekali, aku menggunakan sihir untuk membuat kardus ini tak termakan waktu."


"Begitu."


Hanya sekilas aku melihat sosok kecil guruku sedang memeluk lututnya di dalam sana dengan pandangan kosong, dan seseorang yang membuatnya keluar dari tempat itu adalah sosok Vivia.


Setelah sebentar berada di sini, nona Heliet berjalan sedikit jauh dari reruntuhan, kutemukan sebuah gumpalan tanah yang diselimuti rumput hijau serta sebuah batu nisan yang ditempatkan di dekatnya.


Ini adalah makam guru dari nona Heliet dan Vivia. Walau sudah lama makam itu terlihat baik-baik saja, kami memanjatkan doa lalu bersantai sebentar di sini sebelum akhirnya kembali ke kota Antares.


Beberapa hari selanjutnya kami akhirnya sampai di rumah, seluruh toko tampak telah dipenuhi debu, seperti saat kami meninggalkan tempat ini tidak ada yang berubah sama sekali kecuali anggota kami yang bertambah satu orang.


Aku sudah mengembalikan kuda yang kusewa, sekarang sudah waktunya untuk bersih-bersih. Alyssa yang mengenakan gaun gothic tampak ikut membantu juga.


Aku mengeluarkan pengharum ruangan dan mulai menyemprotkan ke setiap sudut toko, baru keesokan paginya semua hal kembali berjalan seperti biasanya.


"Semuanya satu koin perak," kata Alyssa pada seorang pelanggan.


"Terima kasih banyak."

__ADS_1


"Silahkan berikutnya."


Alyssa juga membantu di toko walaupun kami sudah melarangnya dia tidak mau mendengar.


"Kalau begitu aku juga harus pergi, sampai nanti."


"Berhati-hatilah Aksa, pastikan kau melakukan tugasmu seperti biasanya."


Tugasku hanya mengalahkan slime yang lemah, tapi sekarang aku ingin mencoba sesuatu yang berbeda.


Di guild itu Lulu menyambutku ramah, sudah sejak lama aku tidak bertemu dengannya. Ada beberapa perubahan yang terlihat darinya seperti tingginya sedikit bertambah dan juga setiap dia bergerak itu menghasilkan "Boing"


"Mau mengambil quest seperti biasanya Aksa?"


"Hari ini aku ingin mengambil quest yang lain."


"Boleh aku lihat kembali statusmu?"


"Tentu."


Aku menunjukan kembali kartu petualangku hingga Lulu tersenyum simpul.


"Sesuai yang kuduga, selama mendapatkan pengajaran dari nona Heliet statusmu meningkatkan pesat, aku bisa menjadikanmu peringkat atas jika mau?"


"Itu pasti merepotkan, aku akan tetap di peringkatku yang sekarang," kataku selagi memasukan kartuku kembali ke dalam saku.


"Sepertinya Aksa tidak berniat pergi dari kota ini, aku sangat senang.. kalau soal quest kau bisa mengambil manapun tanpa perlu memperdulikan peringkat."

__ADS_1


"Apa boleh?"


"Serahkan semuanya padaku."


Sesuai yang diharapkan dari guild master, dia bisa membuat pengecualian satu atau dua peraturan untukku.


"Oh yah, kudengar Aksa sedang mencari masion untuk tempat tinggal?"


"Itu hanya rencana, aku masih belum memiliki uang untuk membelinya."


Para petualang di kota ini juga terkenal dengan mulut embernya.


"Kalau tidak salah ada masion yang sudah tak dihuni lagi, kalau mau kau bisa menepatinya."


"Yang benar?"


"Tentu saja, tapi sayangnya beberapa rumor mengatakan bahwa tempat itu berhantu... katanya ada seorang gadis yang selalu menangis di sana."


"Hantu kah, hantu juga termasuk roh aku mungkin bisa bernegosiasi dengannya."


"Sesuai yang diharapkan dari Aksa, kau tidak takut?"


"Para penyihir biasa berhubungan dengan hal tak kasat mata seperti itu," kataku bangga.


"Tidak, yang berhubungan dengan hantu hanya para pendeta saja."


"Kalau begitu aku akan mengambil quest dulu untuk hari ini."

__ADS_1


"Silahkan."


__ADS_2