Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 165 : Cerita Tersembunyi


__ADS_3

Kami dibawa ke sebuah pemukiman kecil yang mana menjadi pemukiman para tupai, biasanya tupai akan bersarang di lubang-lubang pohon akan tetapi mereka malah membuat sebuah rumah-rumah kecil dengan tangan mereka sendiri.


"Ini luar biasa," perkataan Sirius mewakili pikiran kami, sekitar 50 ekor tupai berkerumun di depan kami, tentu para wanita dari kelompokku tidak membiarkan hal ini begitu saja, mereka semua memeluk seluruh tupai selagi berteriak " Imutnya.. imutnya... Imutnya."


Tupai yang sebelumnya aku temui berdiri di bahuku selagi mengunyah kacang, hutan ini disebut hutan ajaib di mana semua binatang di dalamnya bisa berbicara menggunakan bahasa manusia hal itu disebabkan oleh seseorang yang dulu pernah datang kemari, dia menggunakan sihir suci hingga menjadikan semua binatang di sini bisa berbicara.


Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan saat merubah hutan ini jadi seperti ini?


Tupai di bahuku mulai menjelaskan.


"Semua hewan di sini semuanya memutuskan untuk hidup dengan damai, bahkan pemangsa yang suka memburu kami beralih mencari makanan di sungai seperti ikan dan lainnya."


"Begitu."


Tak lama kemudian dua ekor tupai berlari dari kerumunan ke arahku.


"Mereka istri dan anakku, bukannya mereka sangat imut."


"Maaf mengecewakanmu, tapi bagiku kalian semua mirip."


"Mustahil."


Tupai di bahuku turun ke bawah lalu mereka saling berpelukan.


"Sudah kubilang jangan pergi terlalu jauh."


"Maaf-maaf tapi aku membawa tamu penting hari ini, bisakah mama membuat masakan yang enak untuk mereka."


"Serahkan padaku."


Aku merasa tidak enak memakan makanan tupai.


"Tuan Aksa, apa kita akan tinggal di sini?"


"Hanya sementara waktu, aku perlu mengajari mereka membuat obat, paling tidak kita akan tinggal selama tiga hari saja."


Mereka terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku ingin memainkan mereka sebanyak yang kuinginkan, mereka sangat imut."


"Aku suka yang empuk-empuk."


Di sisi lain para tupai seperti kewalahan dijadikan layaknya sebuah boneka. Aku merasa bersalah.


Kami diberi berbagai buah-buahan yang dikumpulkan para tupai, walau semua ukurannya kecil rasanya tetap saja enak. Sebagai balasan aku juga harus melakukan tugasku.


Aku mulai mengajari berbagi pengetahuan dari tanaman herbal, awalnya hanya ada satu tupai dalam sekejap jumlahnya bertambah banyak.


"Jadi begitu, ini bisa digunakan untuk luka ringan."


"Pastikan untuk menumbuknya sampai lembut."


"Kami mengerti."


Setiap harinya aku dengan tekun mengajari mereka sementara rekanku hanya bermain dengan mereka sepanjang hari.


Wajah mereka mengatakan sangat puas, hingga di hari keempat kami berpamitan.


"Aku juga... Hueeeh."


Naula yang serakah menangis, ternyata dia juga bisa menangis bukan hanya pada uang.


Pada akhirnya kami berangkat dan dua hari selanjutnya kami sampai di sebuah kota yang indah. Kota ini termasuk kota netral yang tidak berada di wilayah kerajaan apapun.


Orang-orang di sini juga terlihat sangat ramah.


"Kalian petualang, apa kalian melewati hutan ajaib?"


"Kami bermain dengan para tupai, mereka sangat imut," ucap Sirius.


"Bermain?"


"Aku seorang penyihir, tupai di sana memintaku untuk mengajari mereka membuat obat-obatan."


"Begitukah, kalian pasti sangat baik... tupai-tupai di sana sangat suka meniru kehidupan manusia."

__ADS_1


Aku ingat bagaimana para tupai memasak, jujur saja rasanya tidak enak untuk manusia, mereka menggunakan bumbu dari cairan ulat dan bunga-bunga.


"Aku juga terkejut."


"Apa kalian akan tinggal di sini?"


"Mungkin tiga hari."


"Baiklah, semoga kalian senang tinggal di sini.... kota ini sangat bersejarah."


Kami meninggalkan penjaga dan mulai menyusuri jalanan utama kota, berbeda dengan kota yang pernah aku lalui, kota ini jelas sangat damai.


Langkahku terhenti saat melihat sebuah patung yang sulit kupercayai, aku mendekat untuk memastikannya.


"Ada apa tuan Aksa?"


"Apa tuan jatuh cinta pada patungnya?" tambah Marine.


"Aku mengenal patung ini."


"Begitukah."


Tak lama seorang nenek mendekat ke arahku, dia berdiri di sampingku dan berkata.


"Beliau adalah orang yang menyelamatkan benua ini dari para monster, tapi sayangnya sebagian orang malah haus akan kekuasaan dan mulai menciptakan kerajaan mereka untuk bersaing satu sama lain."


"Apa dulu tidak ada kerajaan di benua ini?" aku balik bertanya.


Dan nenek itu mengangguk mengiyakan lalu melanjutkan.


"Benar, benua ini akan lebih baik apabila tidak ada kerajaan atau negara yang mengaturnya. Jika kau penasaran dengan sejarahnya, kau bisa pergi ke toko buku di kota ini dan membeli ceritanya."


Aku buru-buru berlari ke dalam toko untuk membeli salah satu buku yang dimaksud.


Di atas buku yang kupegang ada nama yang sangat kukenal, dia adalah....


"Jeanne d'Arc."

__ADS_1


__ADS_2