
Aku dan Kazel mulai mencoba berkeliling kota di lantai satu ini saat semua orang sudah tertidur pulas.
Kazel yang tampak bersemangat terus melirik setiap toko yang kami lewati.
"Sebenarnya apa yang kau cari? Ini sudah malam ayo pulang."
"Apa kau tidak penasaran tentang sesuatu Aksa?"
"Tentang apa?"
"Aku pikir di sini ada semacam kafe yang dijalankan oleh pelayan Succubus atau gadis kucing."
"Tidak biasa kau melibatkan keduanya?"
"Setelah melakukan penelitian berbulan-bulan, semua petualang di guild sepakat bahwa entah Succubus atau gadis kucing, keduanya sama-sama mantap."
Padahal sebelumnya mereka bertengkar karena mempermasalahkan hal itu, lagipula penelitian apa yang telah dia lakukan.
Apa sebaiknya aku memanggil polisi atau semacamnya?
Langkah kami terhenti tepat di sebuah bangunan yang cukup tinggi, di depannya terdapat beberapa karyawan berpakaian kelinci.
"Bahkan di tempat seperti ini ada kasino," gumamku lemas.
"Mari pergi Aksa."
"Bukannya kita kemari untuk mencari toko Succubus atau gadis kucing."
__ADS_1
"Tempat seperti ini juga tidak masalah haha."
Aku sebenarnya tidak ingin masuk ke dalam sana, akan tetapi aku khawatir dengan Kazel yang akan membuat masalah kemudian dia akan mati sebagai kosekuensinya.
Kami berjalan ke pintu masuk di mana para bunny girl menyambut dengan senyuman ramah, sebagai seorang pria aku tidak akan menyangkal mereka sangat cantik.
"Silahkan tuan, ikuti saya."
Aku berbisik ke arah Kazel.
"Memangnya kau memiliki uang?"
"Soal itu jangan khawatir, aku pergi ke dungeon tadi siang. Saat aku mengalahkan mereka monster itu benar-benar berubah menjadi koin," balas Kazel selagi menunjukan kantong uang yang di sembunyikannya.
Aku mendesah pelan selagi mengikutinya dari belakang, aku hanya akan mengawasinya tidak lebih dan tidak kurang.
Ini adalah sebuah perjudian yang sering ada di film-film.
Saat wanita itu menjatuhkan mangkuk di atas meja tanpa menunjukkan mata dadu, semua orang mulai memasang taruhannya.
Sekali taruhan itu sekitar 100 koin yang setara melawan monster lemah sebanyak 50 ekor.
"Menurutmu Aksa, mata dadu berapa itu?"
"Jangan tanya aku, aku tidak pandai hal seperti ini."
"Kalau begitu pilih dua."
__ADS_1
Si wanita tersenyum lalu mengangkat mangkuknya ke atas dan ternyata itu menunjukkan seperti apa yang dikatakan Kazel.
"Uwah.. aku menang."
Sebagai pemenang Kazel menerima dua kali lipat uang yang ditaruhnya.
"Aku mulai terbiasa sekarang," kata Kazel ketika menang tiga kali berturut-turut.
Aku berbisik padanya.
"Ketika kita sudah menang dalam berjudi kau harus tahu waktunya untuk berhenti, mari kembali."
"Tidak Aksa, aku baru memulainya... pulanglah duluan, aku akan bertaruh sebentar lagi."
Inilah yang tidak kusukai dari hal seperti ini, setelah memulai kau tidak akan bisa berhenti bagaimana pun caranya. Pada akhirnya setelah larut aku kembali ke penginapanku.
Satu kamar diisi oleh aku, Richard dan Kazel sementara kamar sebelah oleh Sirius dan Vivia, aku masuk kembali ke dalam futonku sampai.
"Oi Aksa."
"Ada apa?"
"Kazel belum kembali ke penginapan."
"Ini masih pagi nanti juga pasti kembali."
"Sejujurnya ini sudah siang."
__ADS_1
Saat kusadari matahari benar-benar sudah berada di atas.