Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Side Story : Pertemuan Dua Naga Kembar


__ADS_3

Setelah kekalahannya melawan Aksa. Frena dikirim ke menara Altima tepatnya di lantai pertama bernama Arcana, di sini semua orang hidup dengan damai dan kebanyakan orang hidup sebagai petani dan juga pemilik restoran termasuk Freya sang Dewi Naga yang menyamar sebagai Avelin pemilik kedai biasa.


Dengan ragu, Frena berjalan melewati banyak kerumunan hingga ia sempat terkejut saat seorang pria pedagang menyapanya.


"Gadis cantik, apa kau mau permen apel... kau pasti baru datang kemari jadi kuberikan gratis."


"Terima kasih banyak."


"Yos, datang lagi... aku akan memberikan diskon padamu."


Frena yang selalu menganggap manusia itu jahat tampak terpukul dengan kejadian yang barusan dia alami, untuk menenangkan dirinya dia duduk di alun-alun kota selagi mengawasi semua orang yang berlalu lalang di depannya.


Berbeda dengan jalan yang dilaluinya sepertinya adiknya telah berhasil sedikit merubah dunia ini dengan baik, beberapa keluarga berjalan dengan senyuman di wajah mereka dan beberapa pemuda tertawa bersama selagi saling merangkul satu sama lain.


"Anu... apa Anda mau bunga?"


Frena sedikit terdiam dengan sosok gadis yang tiba-tiba muncul di depannya selagi menawarkan bunga.


"Aku tidak punya uang."


"Jangan khawatir, ini gratis koq."


"Gratis, tapi apa kau tidak rugi?"


Gadis itu meletakkan bunga di antara telinga Frena selagi tersenyum senang.


"Cocok sekali, bagiku memberikan kebahagiaan kepada orang lain lebih berharga dibanding sebatas uang, boleh aku duduk?"


"Silahkan," balas Frena pelan.

__ADS_1


"Kulihat kamu sedang sedih, apa terjadi sesuatu?"


Frena sedikit ragu untuk mengatakannya namun dia memutuskan untuk berbicara.


"Sebenarnya aku sudah lama bertengkar dengan kakakku dan mengatakan hal buruk padanya, aku ingin menemuinya akan tetapi rasanya sangat berat."


"Hubungan persaudaraan yah... aku sangat iri, kalau saja adikku masih hidup aku akan sangat bahagia."


Mendapatkan pernyataan itu, Frena tampak schok.


"Aah, jangan dipikirkan... sebelum datang kemari desaku diserang oleh monster hanya aku dan ibuku saja yang selamat... tapi bagi kami entah adikku dan ayahku, mereka selalu hidup selamanya di hatiku.


Manusia terkadang lemah dan tak berdaya meski begitu manusia selalu memiliki kekuatan untuk bangkit kembali entah itu dukungan dari diri sendiri ataupun orang lain, semua orang pasti akan bangkit seiring waktu karena di dunia ini tidak ada pilihan menyerah melainkan terus maju... aaah, aku malah melantur. Kurasa jika kau ingin berbaikan dengan adikmu langsung datangi saja dan berikan bunga ini padanya... aku yakin dia akan memaafkanmu."


"Kau memberikan bungamu lagi."


"Tak apa, anggap saja bonus dariku... cepat pergilah, dia mungkin menunggumu."


"Terima kasih banyak."


Frena membulatkan tekadnya hingga ia sampai di sebuah pintu kedai yang masih tertutup, saat dia membuka pintu tampak saudara kembarnya sedang merapikan kursi.


"Maaf, kami belum bu.."


Freya mengembungkan pipinya selagi menaruh kedua tangannya di pinggang.


"Kakak terlambat, aku sudah menunggumu sejak lama tapi baru datang kemari."


"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku. Hueeeeeehhh."

__ADS_1


Tangisan yang mirip teriakan itu menggema di ruangan yang sepi hingga Freya memeluk Frena dengan erat.


"Freya?"


"Sudahlah, aku tidak mempermasalahkan hal itu lagi... yang penting kakak sudah ada di sini, kakak pasti lelah, kakak bisa menggunakan kamarku sementara ini."


"Aku tidak apa-apa, aku ingin membantu."


"Begitukah, akan kuambilkan seragam pelayan yang mantap."


Frena memutar-mutar dirinya dengan ringan selagi memamerkan pakaian barunya, sementara bunga yang diberikannya pada Freya, ia taruh di dalam pot bunga.


"Ngomong-ngomong Freya, apa kau mencium orang bernama Aksa? Kau memasukan air liurmu ke dalam tubuhnya."


"Aaah, kakak bertemu dengannya?"


"Dialah yang memaksaku datang kemari."


"Begitu."


"Kuharap kau tidak akan melakukan hal nekat seperti memaksanya menikahimu."


"Itu mustahil."


"Sudah kuduga."


"Ada pelanggan, ke posisi."


Bel pintu berbunyi.

__ADS_1


"Selamat datang, silahkan duduk di tempat yang Anda sukai."


Keduanya melayani para pelanggan yang mulai bertambah banyak.


__ADS_2