Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 208 : Sebuah Penjelasan


__ADS_3

Setelah merawat luka di mata kiriku aku menutupnya dengan penutup mata, kemudian bangkit kembali dengan pistol di tanganku sebelum berlari pergi.


Aku melompat ke atas rumah selagi memperhatikan sekelilingku yang diisi dengan pertempuran.


Beberapa naga juga memutuskan untuk bertarung dengan wujud aslinya dan salah satunya berhadapan dengan Ayumi serta Meliana.


Meliana menggunakan sihir cahaya untuk menjerat naga, di saat yang sama Ayumi melompat di atas naga tak berkutik itu selagi mengangkat kedua pedangnya ke atas menyilang.


Dia menjatuhkannya, membelah tubuh naga menjadi dua bagian dengan cara menyilang.


"Kerja bagus," kataku mendekat membuat Meliana maupun Ayumi terkejut.


"Matamu?"


"Aah, aku kehilangan mataku."


"Apa? Akan kuhabisi para naga ini."


"Tenanglah Ayumi, aku baik-baik saja... lebih dari itu aku memiliki informasi yang jauh lebih penting, bukan hanya para naga ini lawan kita, kelompok yang dinamakan Kagutsuchi juga turut ambil bagian dalam situasi ini."


Meliana memiringkan kepalanya.


"Aku baru mendengarnya?"


"Ketuanya memiliki mata Ouroboros."


"Ah, jadi musuh dari masa lalu... dia juga masih hidup sampai sekarang rupanya," balas Meliana.


Meliana telah hidup paling lama diantara kami semua termasuk saat era penyihir kegelapan jadi dia pasti mengetahuinya.


Untuk sekarang selesaikan pertempuran ini lalu setelahnya mengadakan pertemuan di kediamanku.


Di ruangan yang tertutup itu, Nicol gadis serigala membawa teh untuk kami semua.

__ADS_1


Dia mengenakan pakaian pelayan yang cocok dengannya.


"Dia sangat imut, boleh aku menyentuh ekormu?" yang berkata itu adalah Jeanne yang mana dihentikan oleh Vivia.


"Bagi demi-human ekor adalah bagian sensitif, kau tidak bisa menyentuhnya begitu saja."


"Benar, hanya tuan Aksa yang boleh melakukannya."


"Kau sangat dicintai di sini Aksa," tambah Ayumi.


"Terima kasih Nicol," kataku mengabaikan perkataan sesat dari semua orang.


"Tidak, ini sudah tugasku.. kalau begitu aku permisi."


Di ruangan ini diisi oleh Jeanne, Vivia, Ayumi, Meliana serta nona Heliet yang sedang marah selagi terus mengutuk.


"Mereka telah melukai Aksaku, aku akan membunuhnya, bunuh, bunuh, bunuh."


Itu berlebihan.


Setelah aku menjelaskan apa yang terjadi, akhirnya mereka mengerti.


"Jadi begitu, Shinji kah... orang itu memanfaatkan kita untuk menghabisi para naga sementara dirinya menghancurkan wilayah naga," ucap Vivia selagi menyilangkan tangannya di depan.


"Jika begitu apa semua orang yang ada di pertemuan ini akan pergi ke sana."


"Aah, lawan yang kita hadapi bukanlah sesuatu yang bisa ditangani banyak orang.... mungkin hanya kita saja yang bisa melakukannya untuk sisanya akan tetap berjaga di kota kalau misal pasukan raja iblis memanfaatkan situasi ini untuk menyerang kota."


"Memang benar kita juga harus mengawasi pergerakan mereka. Aku tidak memiliki apapun yang harus dikatakan, aku ikut," potong Meliana begitu yang lainnya juga.


"Karena ada Lesoria, putri akan baik-baik saja."


Walau naga telah menyulut api peperangan di benua ini, tetap saja apa yang dilakukan Shinji salah.

__ADS_1


Diantara para naga itu ada naga yang tidak bersalah, pembantai tanpa pandang bulu sesuatu yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.


"Aku akan balas dendam untuk muridku."


Aku hanya tersenyum masam ke arah guruku, sementara Ayumi sudah membara penuh semangat.


"Akan kupotong-potong mereka."


Keduanya tidak jauh beda.


Besok pagi kami akan pergi menggunakan sihir teleportasi sampai saat itu kami akan memulihkan tenaga sebelum keberangkatan kami semua.


Terlebih aku juga harus mengunjungi Kazel yang terkena luka parah.


Di rumah sakit satu-satunya di kota ini, aku menemukan Kazel berbaring dililit perban.


"Kau masih hidup?"


"Aksa, kau datang mengunjungiku.. aku terharu, kecuali Jun dan Hilda sepertinya aku tidak memiliki kenalan lain yang mau datang kemari."


"Yah, itu karena hampir seluruh petualang terluka... guild juga ditutup sementara waktu."


"Apa? Naga-naga itu sangat kuat."


"Paling tidak kalian semua selamat," kataku ringan.


"Tapi ngomong-ngomong apa yang terjadi dengan matamu?"


"Ini hanya luka kecil."


"Kau juga pasti kerepotan."


Aku hanya menyentuh penutup mata di kiriku selagi mengingat apa yang terjadi sebelumnya, mata Ouroboros membuat kemampuan di mana senjata atau apapun yang dikehendaki pemiliknya bisa membuat menembus objek apapun.

__ADS_1


Satu hal yang bisa kulakukan hanyalah bertanya pada pemilik sesungguhnya yang berada di menara Altima.


__ADS_2