
Tangan itu kembali menyatu dengan tubuh utama Frena.
Jika demikian aku menciptakan machine gun dengan kaliber 50, serta jumlah peluru 3000 buah. Setiap peluru yang menghantam tubuh Frena menghasilkan dentuman keras seolah sedang menyerang sebuah tank baja.
Prang.. prang.. prang.
Aku menghilangkan machine gun lalu menggantinya dengan Hecate, bahkan senjata anti material pun tak bisa menembusnya.
Dia meluncur terbang ke arahku, memukul beberapa kali di wajah kemudian menendangku hingga terlempar jauh.
Aku bangkit dari reruntuhan selagi menepuk badanku yang kotor, jika ingin mengalahkannya aku harus menggunakan kekuatan penuh.
Kedua mataku berubah menjadi emas dengan pola angka enam romawi.
"Apa-apaan itu?"
"Itu adalah mata jam, setiap angkanya membuat penggunanya semakin kuat," balas Marine.
"Mari kita lihat seberapa kuat itu."
Aku muncul tepat di depan wajah Frena yang belum siap?
"Sejak kapan?"
Aku mengepalkan tinjuku menghantam perutnya.
"Guakh."
Darah menyembur dari mulutnya sebelum dia diterbangkan ke langit, aku pun mengikutinya hingga kami berdua melayang di atas kota saling berhadapan.
"Bagi seorang manusia kau sangat kuat."
__ADS_1
"Aku tidak perlu pujianmu."
Aku melemparkan granat tepat ke bawah Marine, kurungan yang mempenjarakan Marine hancur berserakan sementara Marine sendiri terbang ke arahku lalu menempelkan bibirnya di bibirku.
"Kalian sangat menjijikan."
"Kontrak dibuat, sekarang Anda tuanku yang sebenarnya."
Aku mendesah pelan dan seketika jam raksasa muncul di belakangku, aku memegangi pinggang Marine dan memintanya berubah menjadi pedang sedia kala.
"Memangnya dengan itu kau bisa mengalahkanku."
Aku mengayunkan pedangku dan tubuh Frena terbelah dua.
"Mustahil, tubuhku."
Tentu tubuh itu akan menyatu kembali.
"Apa kau mau menyerah? Dan dengan senang hati pergi ke menara Altima."
Saat Frena sadari dia telah berada di ruangan gelap gulita.
"Di mana ini?"
"Di dalam dimensi yang tidak terhubung oleh ruang dan waktu, kau ingin hidup di sini atau hidup dengan adikmu adalah pilihanmu sendiri, aku akan datang kemari lagi nanti."
"Tunggu."
Aku keluar dari dalam dimensi tersebut lalu mendaratkan kakiku di tanah, Marine kembali ke wujudnya sebagai pendeta.
Dengan kerusakan kota sehebat ini, aku tidak yakin kota ini akan pulih dalam waktu dekat, kuciptakan mobil di mana bisa kami pakai bersama.
__ADS_1
Aku juga mengajak Labina untuk duduk di kursi belakang saat mobil kami melewati gerbang berikutnya, tujuanku adalah Ibukota jadi tidak ada alasan untuk beristirahat, terlebih aku mengkhawatirkan keadaan ketiga anggotaku.
"Sudah lama aku ingin bertemu Apolis-sama, apa dia sama seperti dulu ya, dia selalu menghukumku sangat berat, aaah... aaah... haaa, aku tidak sabar untuk mendapatkannya lagi, bagaimana kalau tuan melakukannya padaku? Aku pasti akan menikmatinya."
Aku sangat keberatan untuk memuaskan orang mesum ini.
Di sisi lain Labina terlihat melirik ke arah samping selagi memikirkan sesuatu di dalam kepalanya.
Ini mungkin terlalu berat baginya seharusnya dia tidak boleh ikut untuk melihat bagaimana aku membunuh semua orang.
Kami tiba di ibukota selanjutnya, kumunculkan sebuah Bazoka yang kuberikan pada Marine.
"Gunakan itu."
"Baiklah."
"Tarik pelatuknya."
Marine berdiri dari tempat duduknya selagi menenteng Bazoka di bahunya.
"Tembak."
Peluru Bazoka itu meluncur untuk meledakan seluruh prajurit yang menghalangi jalan kami.
"Hahaha ini sangat keren, apa ada lagi yang menarik?"
Aku memunculkan sekantong penuh granat yang kuberikan padanya.
"Lemparkan saja semaumu setelah menarik penguncinya."
"Okay."
__ADS_1
"Aku juga ingin membantu," kata Labina.
Seiring mobil kami yang berjalan maju, ledakan tak henti-hentinya terdengar dari arah belakangku.