Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 73 : Richard Rufus


__ADS_3

Vivia berjalan di antara orang-orang dengan pikiran dipenuhi dengan rasa senang serta keterkejutan, gurunya masih hidup dan itu sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan selama hidupnya.


Jika ini disebut keajaiban maka semuanya akan masuk akal.


Ia akhirnya mencapai kesimpulan hal itu saat tanpa sengaja berpapasan dengan Richard, Richard merupakan kesatria kerajaan sepertinya, dia memiliki rambut biru serta perawakan seorang kesatria yang tampan dan gagah.


Di masa lalu dia telah bekerja keras hingga mencapai posisi ini, bahkan ketika keluarganya difitnah oleh para bangsawan ia masih akan terus berdiri dengan tekad kuat. Vivia tahu itu karenanya dia selalu menghormati pria di depannya.


"Wajahmu tampak kusam Richard?"


"Cuma perasaanmu saja."


Richard hendak berjalan namun tangannya lebih dulu dicengkeram oleh Vivia, bagi Vivia melihat sikap yang ditunjukkan lawan bicaranya mempertegas bahwa ada sesuatu yang terjadi padanya.


"Mari bicara sebentar."


Vivia membawa Richard ke atas tembok yang mengelilingi kota, di sini tidak ada yang akan mengganggu mereka, bahkan jika seseorang muncul mereka harus bisa terbang kemari.

__ADS_1


Selagi merasakan hembusan angin yang menerpa wajah keduanya, Richard mulai mengatakan apa yang telah dilaluinya.


Kejadiannya dua Minggu sebelumnya, saat itu Richard pergi ke salah satu provinsi di kerajaan Elysium untuk menangkap salah satu penyihir Oracle yang menyembah Dewi Jahat Ariesta, tentu saja yang dia maksud adalah orang yang pernah menyerang ibukota waktu itu, bernama Dominic, saat itu semuanya berjalan lancar sampai mereka berhadapan langsung dengan penyihir tersebut.


Awalnya mereka berhasil memojokkan penyihir tersebut dengan membantai seluruh pengikutnya akan tetapi saat pria bernama Dominic mengeluarkan bonekanya tiba-tiba saja ketiga rekan Richard terbunuh secara tragis, setiap tubuh mereka dipelintir ke arah berbeda, bagi semua orang itu adalah pemandangan mengerikan yang tak akan pernah luput dari benak siapapun.


Stella, Gerald dan juga Lumia ketiganya telah tewas dalam sebuah pertempuran yang tidak bisa dimenangkan siapapun.


Setelah mendengar itu, Vivia hanya bisa menunjukkan pandangan belasungkawa.


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"


Vivia mengangkat satu tangannya menunjuk ke arah Menara Altima yang membentang menembus langit.


"Aku akan pergi ke atas sana bersama Aksa dalam seminggu, jika kau ingin pergi, kau bisa bicara padaku nanti atau pada Aksa."


"Aku akan memikirkannya."

__ADS_1


Vivia berbalik lalu berjalan membelakangi Richard, rambutnya yang pirang berkibar saat angin berhembus membelainya.


"Saat kau terbunuh apa seseorang melihatmu?"


"Tidak."


"Baguslah, kau juga abadi jadi jangan sampai seseorang mengetahuinya bukannya kau ingin mengembalikan nama keluargamu.... kalau begitu sampai nanti."


Vivia melompat ke bawah lalu berjalan tanpa ragu, sesekali dia menatap ke atas untuk memperhatikan Richard yang masih berdiri di sana.


Vivia telah hidup ratusan tahun, dia sudah mengalami banyak perpisahan entah orang yang dia kenal, sayangi bahkan rekan yang terus berjuang bersama, meski begitu dia tidak pernah merasa terbiasa.


"Perpisahan memang menyakitkan," gumamnya di dalam hati.


Vivia mulai menyusuri jalanan utama untuk menjaga keamanan kota ini, terkadang ada beberapa petualang yang bertengkar dan dia sendiri yang harus melerainya.


Kehidupan petualang sangatlah bebas jadi beberapa dari mereka memang tidak memiliki etika dalam bersikap, dengan tinju, itu sudah cukup menyelesaikan masalah. Kebanyakan petualang berfikir demikian.

__ADS_1


Ia terkadang berfikir kenapa dia sendiri menjadi petualang dulu.


__ADS_2