
Pagi itu aku mengunjungi guild di kota Antares untuk bertemu Mavis, dia duduk di salah satu bar dengan beberapa manisan di meja.
"Aku sudah menunggumu Aksa, kukira kau tidak ingin mengambil bayaranmu."
"Aku punya sedikit urusan."
"Maksudmu soal kota baru."
"Sepertinya rumornya sudah menyebar," kataku selagi mengambil tempat duduk di depan Mavis yang menyodorkan kantong uang padaku.
Aku segera menyimpannya ke dalam sihir penyimpananku lalu bertanya.
"Kau tidak bersama temanmu?"
"Maksudmu Lu Xie Lin, aku sudah mencarinya tapi dia tidak bisa aku temukan kupikir dia telah mengambil pekerjaan tanpa sepengetahuanku."
"Begitu."
"Makanlah beberapa, aku yang traktir."
Aku menerima tawaran yang diberikan oleh Mavis, sensasi manis menyebar ke dalam mulutku.
Bahkan ini terlalu manis untukku.
"Ngomong-ngomong soal Lulu, apa dia akan berhenti bekerja di sini?"
"Soal itu aku berencana membuat portal yang terhubung antara kota ini dan kota yang sedang kubangun, jadi dia masih bisa bekerja."
"Senang mendengarnya, dia sudah lama berada di sini saat aku masih jadi pemula... jika dia menghilang aku pasti sedikit kesepian."
Mavis hanya salah satu orang yang merasa demikian.
__ADS_1
Kazel muncul selagi merangkul leherku, kudengar Jun dan Hilda tengah berada di desa untuk merayakan pesta mereka jadi dia sendirian.
"Yo kawan, kau sedang makan."
"Aku bukan kawanmu," balasku.
"Apa? Padahal kita best friend forever.. aku bahkan sudah membuat lagu untuk kita nyanyikan berdua."
"Aku tidak ingin mendengarnya," kataku tersenyum masam.
"Soal kota baru sangat mengejutkan kau benar-benar jadi bangsawan Viscount."
"Yang lebih mengejutkan bahwa kau juga bangsawan yang mengelola tanah ini."
"Apa?" teriak Mavis.
Dia memiliki ekpresi keterkejutan sama sepertiku.
"Ssssh... kuharap kalian menyembunyikannya, akan memalukan saat orang lain tahu bahwa pemilik tanah di sini suka mengintip dan berbuat asusila setiap harinya."
"Apa aku perlu membenturkan perisaiku pada kepalanya Aksa."
"Jangan lakukan itu oi, aku bisa mati dengan Demon Shieldmu, lebih dari itu aku punya pekerjaan yang bisa kita lakukan untuk hari ini."
"Biarku tebak mengintip cewek mandi?"
"Itu memang yang ingin kulakukan tapi hari ini berbeda aku ingin membawa Mavis juga untuk mencari serangga emas, kudengar ini sangat jarang dan harganya sangat mahal."
"Lupakan saja mungkin itu hanya lelucon, tidak ada serangga emas."
"Tapi ada beberapa orang yang menemukannya."
__ADS_1
"Biar aku banting dengan perisaiku."
"Jika banyak berarti itu bukan langka," kataku.
"Aku tidak peduli pokoknya kita harus pergi."
Selama ini Kazel selalu menghiburku saat aku kehilangan Richard maupun anggota partyku, sesekali mungkin aku harus membantunya juga.
"Untuk kali ini saja, aku ikut... bagaimana denganmu Mavis?"
"Cukup membosankan berada di sini, aku juga ikut."
Pada akhirnya kami mengunjungi hutan untuk mencarinya, apa yang kami cari hanyalah kumbang tanduk emas.
Kazel berteriak saat kami menyebar.
"Aku mendapatkannya, lihat ini... aku kaya."
Kami berdua memasang wajah bermasalah, perisai Mavis menghantam wajah Kazel hingga dia terbang sejajar tanah.
"Dasar Loli kejam."
"Sudah jelas seseorang mewarnai serangga ini dengan sihir.. sudah kukatakan serangga seperti itu tidak ada."
"Kau hanya iri."
"Itu benar."
Aku menggunakan sihir air dan warna dari serangga tersebut memudar.
"Apa? Siapa yang berani membohongi pria tulus dan polos sepertiku."
__ADS_1
"Untuk sekarang mari cari siapa dalangnya... aku pikir pasti sudah banyak yang tertipu karenanya."
Dari awal aku sudah mengatakannya, jika serangga emas langka, aneh jika mereka bermunculan dengan banyak.