Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 44 : Meninggalkan Benua Lemuria


__ADS_3

Beberapa hari berikutnya aku menggambar sebuah lingkaran sihir di halaman masion, menggunakan ingatanku di dunia lamaku kuciptakan sebuah motor sport hitam melalui sihir penciptaanku.


Berbicara soal penampilanku sekarang, aku sudah tidak terlihat seperti penyihir lagi, aku mengenakan mantel hitam selutut yang dipadukan dengan celana panjang serta kaos T-shirt polos.


Di pinggangku terdapat sebuah pistol dengan beberapa peluru yang telah kusiapkan dalam perjalanan ini.


"Kau yakin akan pergi? Padahal aku sudah senang bisa tinggal bersamamu."


Aku sudah tidak perlu menjelaskannya lagi dan hanya mengelus rambut guruku.


"Maaf, aku akan kembali."


"Sesekali kirimkan surat kemari."


"Tentu saja."


Dia memang sangat manja, adapun untuk Alyssa dia menangis selagi memegangi topi runcing yang kuberikan padanya.


"Aku akan sangat merindukanmu Aksa."


"Aku juga, kalau kau merasa lapar kau bisa menghisap darah Lulu."


"Aku akan memberikan darahku."

__ADS_1


"Terima kasih," kataku pada Lulu, kebetulan darahnya sama denganku.


"Sebisa mungkin aku akan menahannya sampai batasku."


"Jangan terlalu memaksakan diri Alyssa."


Aku mengalihkan pandangan ke arah ketiga muridku.


"Sampai guru kembali kami akan merawat masion dengan baik," kata Claudine yang mendapatkan anggukan kedua rekannya.


"Tolong yah," balasku ringan.


Aku menaiki motorku kemudian memakai helmku, aku sedikit menengok ke arah mereka semua sesaat sebelum akhirnya melaju pergi, orang-orang di sudut kota menatapku dengan heran, bagi mereka benda yang kukendarai jelas sesuatu yang sulit dibayangkan mereka.


Tidak seperti di dunia ini, motor ini bergerak dengan menghisap manaku, jika dihitung aku bisa berpergian selama seharian penuh.


Semuanya ada empat buah


Satu buah di pinggang, dua buah di pahaku serta satu lagi di pinggang belakang.


Aku memacu kecepatan di bawah 40 km/jam, saat melintasi gerbang utama kota Antares kulihat Vivia maupun Lesoria sedang bersandar di sana.


"Semoga beruntung," kata Vivia bersamaan aku yang melewati keduanya.

__ADS_1


"Aah.'


Aku hanya bisa tersenyum dari balik helmku.


Berkat tongkat yang dipakai guruku, dia masih bisa bertahan selama sepuluh tahun lagi. Walau tidak terlalu terburu-buru aku ingin segera menyelesaikan semuanya.


Tongkat itu bisa menyerap kutukan yang ada ditubuh guruku hingga membuat efeknya melambat, seseorang yang menciptakan tongkat itu adalah sosok yang luar biasa.


Selagi merasakan hembusan angin menerpa badanku, aku melewati beberapa perkebunan dimana orang-orang yang sedang bekerja ikut berhenti sejenak untuk memperhatikanku sampai sosokku menghilang dari pandangan mereka.


Tujuanku adalah benua barat yang sedikit jauh dari sini dimana di sanalah tempat ketujuh kitab dosa besar berada, dahulu kala penyihir dan manusia saling bermusuhan.


Manusia selalu menyalahkan penyihir ketika ada wabah ataupun keluarga mereka mati tak wajar, saat itulah terjadi peristiwa yang disebut 'Perburuan Penyihir," dimana manusia membunuh penyihir dengan cara menggantung mereka atau membakar mereka hidup-hidup yang mana memancing kemarahan penyihir untuk membalas dendam.


Diantara para penyihir itu sosok yang paling berpengaruh berjuluk penyihir kegelapan, saat itu dia menciptakan ketujuh kitab dari ketujuh dosa mematikan manusia untuk membalas dendam.


Saat itu rencananya digagalkan oleh penyihir bernama Meliana, yaitu guru dari Vivia dan nona Heliet.


Setelah menyelamatkan dunia dengan membuat perdamaian di kedua pihak, Meliana pergi ke benua Lemuria untuk menetap serta mengabdikan diri sebagai penyihir kerajaan Elysium, ketika tugasnya selesai dia memutuskan berlibur dan tak sengaja menemukan kedua muridnya tinggal di kota yang ditinggalkan, di sana ia menjalani kehidupan yang menyenangkan hanya saja penyihir kegelapan menemukan keberadaanya dan membunuhnya tepat di depan mata kedua muridnya.


Itulah kenyataan yang terjadi.


Entah kehidupan Vivia maupun nona Heliet keduanya hidup dengan menanggung rasa sakit.

__ADS_1


Karena itulah.


Aku tidak membiarkan salah satu dari keduanya mati begitu saja.


__ADS_2