
Di dalam sebuah hutan rimbun Nene yang berjalan bersama Shinji segera menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa Nene?"
"Aku pernah bilang bahwa setiap pengguna pedang iblis terikat satu sama lain bukan?"
"Aah, kalau tidak salah kau mengatakannya kemarin."
"Semua pengguna iblis telah terbunuh."
"Jadi begitu, di luar sana ada orang yang merepotkan.. mungkin kita juga akan berhadapan dengan orang seperti itu nanti."
"Kau benar."
Tiga puluh menit sebelumnya.
Setelah menerima banyak pukulan aku terus terpental ke segala arah, selagi menahan rasa sakit aku terus bangkit dan bergerak untuk menghindari serangan selanjutnya.
Saat tendangan Draco tidak bisa mengenaiku, aku membalas tendangan yang sama padanya yang mana membuat tubuhnya menabrak dinding dengan dentuman keras.
Orang-orang berteriak panik selagi berhamburan menyelamatkan diri mereka sementara Draco menembakan sebuah tembakan laser ke arahku, aku menciptakan dinding besi untuk menahannya.
Walau meleleh setidaknya aku masih selamat.
Draco melesat ke arahku dan dia mencekikku sebelum aku bereaksi padanya, dengan kekuatan monster dia melemparkanku hingga aku tertahan di dinding rumah.
Darah menyembur dari mulutku sebelum aku jatuh ke bawah.
Aku bangkit selagi mengatur nafasku yang terengah-engah selanjutnya menghilangkan pistolku untuk menggantikannya dengan sebuah pedang, selama ini aku belajar pada Athena jika aku kalah itu sama saja latihanku selama ini sia-sia.
Dibanding bangga saat menggunakan kekuatan Sirius ataupun Marine aku memilih untuk menggunakan kekuatanku sendiri dalam pertarungan seperti ini, aku menyeka darah di bawah bibirku untuk memulai serangan kembali.
Dengan dua pedang aku bisa mengimbangi kekuatan Draco.
__ADS_1
Ketika ada celah aku menusukan pendangku pada bahunya.
"Apa? Tubuhku tidak meregenerasi."
"Aku sudah sering melawan orang abadi sepertimu jadi kuciptakan sihir yang bisa melawan kalian."
"Kau."
Aku kembali mengayunkan pedangku dari samping, Draco yang panik melompat ke belakang akan tetapi tangan kirinya terpotong.
Ketika tangan itu jatuh ke tanah aku menusuknya dengan pedang lalu membakarnya.
"Sialan kau?"
"Bagaimana rasanya berada di posisi terpojok."
"Manusia sepertimu jangan sombong."
Tubuh Draco membesar kemudian saat kusadari dia berubah menjadi naga sesungguhnya, dia membuka mulutnya untuk menciptakan pusaran bola kehancuran.
Di saat tembok terakhir tertembus aku mengulurkan tanganku lalu berkata.
"Pindahkan."
Bersamaan itu ledakan terjadi jauh di luar kota hingga getaran di tanahnya masih bisa dirasakan kakiku. Aku hanya berharap ledakan barusan tidak membunuh seseorang tidak bersalah.
Di sisi lain Draco tampak kesal.
"Sialan, kalau begitu satu kali lagi."
Aku menyeringai sebagai balasan sebelum mengaktifkan lingkaran yang telah kubuat di atas kepalanya, lingkaran itu adalah lingkaran Hell of the Abyss milikku hanya saja kubuat menjadi tiga tahapan.
"Rasakan itu."
__ADS_1
Pilar cahaya menghantam naga itu tanpa ampun meniadakan seluruh bangunan di sekelilingnya dengan dahsyat bahkan bangunan lainnya juga terhempas ke segala arah, yang tersisa dari sana hanyalah sebuah lubang raksasa dengan Draco yang terbaring di bagian tengahnya.
Aku meluncur ke bawah lubang.
"Mustahil, aku kalah lagi?"
"Jangan remehkan manusia, dengan kekuatanku aku akan menghentikan perang di dunia ini dan menyelamatkan dunia ini."
"Sungguh naif, perang tak akan pernah berakhir."
"Tidak, perang akan berakhir... entah itu naga, raja iblis ataupun Dewa sekalipun jika mereka menghalangiku akan kubunuh."
"Dasar monster," setelah mengatakan itu aku menusuk jantungnya hingga Draco kehilangan nyawanya.
Ini akan menjadi kuburan untuknya selamanya.
Dengan tenaga yang masih tersisa aku berjalan keluar kota, darah menetes dari setiap tubuhku kendati demikian aku berusaha untuk mengabaikannya dan melihat anggota partyku yang sebelumnya bertarung dan terbaring di tanah.
Aku memeriksa mereka semua, sepertinya mereka masih hidup dan hanya tertidur saja sementara musuhnya telah mereka kalahkan beserta pedangnya, yang kulihat dari pertarungan ini hanyalah bencana di mana lubang-lubang besar tercipta di sekitarnya.
Mereka lebih kuat dari yang kubayangkan.
Selagi duduk di dekat jendela aku melirik ke arah anggota partyku yang tertidur lelap selagi memeluk Neko di atas ranjang penginapan.
Neko adalah seekor kucing yang kupanggil dari sihir pemanggilanku.
Sebelum kembali ke Benua Lemuria aku memutuskan untuk bersantai di kota ini, aku bangun lalu mengalihkan pandanganku ke arah jendela yang memancarkan cahaya hangat dari matahari yang sepenuhnya belum muncul.
Di sana orang-orang tampak bergembira selagi berlarian ke sana kemari, beberapa penjual koran tampak memberikan selembaran berita yang ditunggu banyak orang.
"Benua Utara kembali terlepas dari pengaruh pihak kerajaan, baca ini... dan siapa sebenarnya identitas dari Black Death?"
Aku tanpa sadar tersenyum kecil lalu meletakkan buku Jeanne di dekat jendela selagi meletakan bunga di atasnya.
__ADS_1
Kurasa aku akan berjalan-jalan sebentar.