
Ada beberapa jamur raksasa di sini, sayang jika dilewatkan karena itu aku memotong mereka kemudian memasukannya ke dalam sihir penyimpananku.
"Apa itu ingin kau jual Aksa?" yang bertanya itu adalah Yuki.
"Tidak, aku pikir aku akan memasaknya nanti, di dalam sihir penyimpanan tidak akan membusuk jadi akan tahan lama sampai kita kembali."
Yuki menatapku dengan air liur membasahi mulutnya.
"Pasti sangat enak."
"Jika kamu mau bagaimana kalau kalian juga nanti ikut makan dengan kami, lebih banyak orang lebih baik."
"Bolehkah?"
"Tentu saja, kita bisa mengadakan pesta makan bersama."
"Sudah sejak lama aku diajak pesta makan"
"Apa Lisa tidak pernah mengajakmu makan?"
"Semenjak anggota kami meninggal dia terlalu fokus untuk membalas dendam. Aku tidak tahu tapi rasanya setiap hari dia terlihat tersiksa."
Aku bisa mengerti hal itu.
Aku juga tidak jauh sepertinya, sebelum bisa membalaskan dendam hatinya tidak akan terselamatkan.
"Apa karena itu juga kalian pergi ke hutan ini untuk membunuh naga?"
"Sejak kapan kau mengetahuinya."
"Sejak awal."
"Jadi begitu... kami bersalah telah menyeretmu dalam hal seperti ini, tapi jujur semua itu adalah rencanaku. Kudengar di Elysium ada seorang yang berhasil membunuh naga kehancuran khususnya seorang bernama Aksa, saat aku tahu namamu Aksa kurasa aku ingin memanfaatkanmu."
Yuki menjulurkan lidahnya jahil seolah tidak bersalah.
"Demi kebaikan Lisa?"
"Demi kebaikan kita semua, Lisa terlalu terburu-buru jadi aku takut itu hanya membuat kami terluka pada akhirnya."
__ADS_1
"Jadi begitu."
"Kau tidak marah?"
"Kami sudah terlanjur terlibat, tidak ada alasan lagi untuk marah."
"Aku senang mendengarnya, jika selesai main ke kamarku."
"Ogah."
Aku melesatkan sihir api untuk membunuh para monster yang mendekat, sebelum api menjalar kugunakan sihir es untuk mematikannya.
Dengan dua sihir ini semuanya bisa teratasi.
Ketika aku memungut batu sihir kaki Amanda berada di depanku.
Itu sangat putih.
"Kau tidak mengumpulkan batu sihirnya?" kataku demikian.
"Kudengar kau tahu soal naga dan Lisa, aku benar-benar berterima kasih."
"Berisik, pokoknya aku sudah mengatakan apapun yang aku inginkan... jika tiba saat kami berhadapan dengan naga tolong jaga Lisa."
"Aku mengerti."
Mereka memikirkan teman satu sama lain, mereka benar-benar baik.
Liz muncul dari belakangku seperti hewan liar lalu memelukku dari belakang.
Dia mengigit leherku dengan bibirnya.
"Nyam~nyam aku akan memangsa Aksa."
"Tolong hentikan itu," kataku lemas.
"Kenapa mereka jadi begitu dekat dengan Aksa, aku cemburu."
"Itu sudah wajar, kita kan anggota party mereka berdiskusi soal pertarungan."
__ADS_1
"Aku masih meragukannya."
Aku hanya tersenyum masam sebagai balasan bagaimana pun itu hanya sebuah kebohongan kecil.
Malam harinya aku menciptakan dua tenda untuk kami pakai, yang satu untuk ditempati para elf dan satu untuk kami pakai.
Percuma saja membuat tenda untuk mereka pada akhirnya mereka akan menyelinap ke dalam tendaku dan berakhir seperti yang sekarang terjadi.
Naula dan Liz menjepit lenganku di paha mereka sementara Alyssa tidur di atasku. Kupikir hal seperti ini sudah sering terjadi meski begitu aku sama sekali tidak terbiasa.
Pagi berikutnya setelah berburu banyak monster akhirnya kami tiba di pertengahan hutan, tampak seekor naga merah sedang terbaring selagi melingkarkan tubuhnya.
Aku bisa melihat bahwa dia memang menyerap mana dari sekitarnya, jumlahnya sangat banyak.
Lisa yang berjalan di depanku tersenyum.
"Kita menemukan mangsa yang bagus, mari serang dia."
Naula yang tidak mengetahui apapun mengutarakan pendapatnya.
"Tunggu, kau yakin ingin melawan naga itu tapi dia tidak ada di dalam daftar buruan kita."
"Bagaimana pun dia berada di sini, maka sudah sepantasnya kita memburunya."
"Meski kau bilang begitu."
Liz yang mengetahui situasinya meletakkan tangan di bahu Naula.
"Kita lakukan seperti yang dia inginkan, lagipula dia pemimpin kita di sini."
"Jika Liz bilang begitu."
Alyssa yang berada di sampingku bertanya.
"Kita yakin akan melakukan ini Aksa?"
"Tidak masalah, aku pasti akan melindungi kalian semua."
"Um."
__ADS_1