Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 228 : Serangan Bandit


__ADS_3

Pagi berikutnya aku berpamitan dengan semuanya, tempat ini sangat menyenangkan kurasa mereka akan baik-baik saja ke depannya.


Sebuah panah meluncur ke arahku, sebelum aku ingin bereaksi Lucia menangkapnya dengan satu tangan.


Kemampuannya sudah berkembang.


Aku menghela nafas panjang.


"Ada apa Aksa?" tanya Liz.


"Bukan apa-apa, sepertinya para bandit yang tersisa mengikuti jalan kita kemari, entah kenapa aku harus minta maaf."


Lucia menghancurkan anak panah di tangannya.


"Ini bukan hal sulit bagi kami, benarkan Claudine, Lauren."


"Tentu saja, kami bertiga sudah cukup mengalahkannya."


"Panahku akan mengatasinya jadi tolong tunggu sebentar biar kami yang pergi."


Aku melirik ke arah anggota partyku dan mereka mengangguk setuju. Jika mereka tidak keberatan mari serahkan semuanya.


Bersama pasukannya mereka mulai menyebar ke segala arah, aku bersama Vira maupun anggota partyku diam-diam mengawasi dari atas tembok kayu.


Lucia membagi dirinya dan kelompoknya menjadi tiga bagian yang masing-masing menyisir ke area hutan.


Tanpa menunggu mereka langsung disergap para bandit yang berjumlah ratusan.


Anak panah Lauren menembus setiap bandit yang berada di atas dahan pohon di saat itu Lucia memimpin pasukannya untuk menebas musuh di depannya dan Claudine menggunakan sihir pendukung maupun sihir penyembuhan secara bersamaan.


"Mereka hebat, apa itu semua Aksa yang ajarkan?" pertanyaan tersebut berasal dari Liz.


"Aku hanya mengajarkan dasarnya setelahnya kurasa mereka bekerja keras sendiri untuk mengembangkannya sendiri."

__ADS_1


"Kalau boleh begitu bisa ajarkan aku juga?"


"Bukannya Liz sudah kuat, tidak banyak orang yang menggunakan sihir es tanpa rapalan."


"Maksudku hal mesum di atas ranjang."


Aku menarik pipinya.


"Aku mana mungkin punya pengalaman seperti itu."


"Kalau begitu mari belajar bersama-sama."


"Curang Liz sudah mengirim serangan, aku juga."


Aku menarik kedua pipi mereka.


Dan Alyssa kebingungan dengan apa yang kami bicara.


Kuharap dia tidak belajar hal ini sebelum dia benar-benar dewasa, di sisi lain Vira hanya tertawa.


"Vira tolong jangan mengatakan hal aneh."


Suara dewi masuk ke dalam kepalaku.


(Bagus Aksa, sepertinya Vira jatuh cinta padamu)


(Semua wanita di dunia ini memang suka mengatakan hal kotor)


(Itu terlalu kasar mengatakannya hal kotor, mari katakan hal yang menggairahkan)


Suaranya menghilang setelahnya.


Kami kembali mengalihkan pandangan ke arah pertarungan, seperti yang kuduga semua orang telah berkumpul kembali dengan sebuah kemenangan tapi tidak lama sebuah ledakan terjadi di tengah mereka.

__ADS_1


Ledakan itu menciptakan kawah raksasa, beberapa orang terluka dan beberapa lagi tewas adalah pemandangan yang bisa aku lihat dari atas sini.


Vira tiba-tiba saja mendorong tubuhku ke samping.


Saat aku mengalihkan pandangan ke arahnya sebuah tombak cahaya telah menembus tubuhnya.


"Vira, kau?"


Aku menangkapnya sebelum dia jatuh.


Ini terlalu mendadak.


Liz dan Naula buru-buru mendekat ke arah Vira.


"Organ vitalnya terkena."


"Aku tidak akan biarkan dia mati."


Aku menggunakan sihir penyembuh namun itu tidak berhasil, kugunakan potion sama saja.


Sihir seperti apa yang digunakan orang yang melakukannya, aku bahkan tidak bisa merasakan kehadiran maupun bahaya dari pendeteksiku.


Aku segera menghubungi dewi.


(Apa Vira tidak bisa diselamatkan?)


(Ini sulit, aku juga tidak melihat orang yang menyerangnya? Apa manusia bisa memiliki kekuatan seperti itu)


Bahkan Nermala juga kebingungan sampai ia memberikan solusi yang terbaik.


(Berikan semua energi dewi yang selalu kuberikan padamu Aksa, setelah ini datang kemari lagi, aku akan menggantinya)


(Aku mengerti, tapi bagaimana caranya?)

__ADS_1


Aku saling berpegangan tangan dengan Vira selanjutnya ada titik cahaya keemasan yang keluar dari tubuhku dan masuk ke dalam tubuh Vira selanjutnya lukanya telah dipulihkan dengan mudah.


__ADS_2