
Aku mengarahkan kedua tanganku demi menciptakan tornado yang menyapu apapun yang berada di depanku, si penyihir melakukan hal sama dimana kedua tornado itu bertubrukan kemudian menyatu lebih besar dari sebelumnya.
Dengan ini entah aku maupun dirinya sulit untuk bergerak, si golem sudah tidak bisa menahan tubuhnya lagi hingga ia terbawa ke atas kemudian melebur menjadi butiran pasir halus, jika aku terbawa bukan aneh aku juga akan mengalami hal itu.
Perlahan kakiku mulau terangkat sebelum aku terseret sebuah tangan memegangi lenganku.
Tangan yang halus itu berasal dari Tiffany.
"Kau mungkin berhutang padaku sekarang."
"Kuharap dengan sedikit koin perak hutangnya akan lunas."
"Mustahil."
Sementara itu si penyihir terbawa oleh angin dan selanjutnya tubuhnya melebur hancur.
"Aku baru tahu sihir angin jika saling bertubrukan malah menjadi seperti ini, atau lebih tepatnya sihirmu menyerap sihir musuhmu dan menjadikannya tak terkendali."
"Hal ini tidak disengaja."
Perlahan tornado itu mulai mengecil kemudian lenyap seutuhnya, gravitasi menarikku jatuh hingga wajahku tenggelam di dada Tiffany.
"Kau cukup nakal Aksa.... aku pikir tidak ada yang bisa lolos dari godaanku."
Kalau saja dia tidak memegangi kepalaku aku bisa bangun secepatnya.
"Tuan baik-baik saja?"
Itu suara yang aku kenal.
"Nicol, itu kau... tolong bantu aku keluar dari gunung ini."
__ADS_1
"Meski tuan bilang begitu aku tidak bisa melakukan apapun."
"Kau sengaja."
Setelah beberapa saat hampir mati karena kehilangan oksigen, aku akhirnya bisa menghirup nafas segar.
Nicol tampak khawatir denganku sementara Tiffany hanya tersenyum puas, ngomong-ngomong soal kendaraanku, dia telah hancur karena jatuh dari langit.
Aku kembali memeriksa sekelilingku dan kulihat undead di seluruh kota pun sudah tidak ada. Aku mendesah pelan sampai buku di tangan Tiffany menarikku kembali.
"Kau sudah berhutang barusan padaku, aku menuntut pembayaran segera mungkin."
"Menolong itu harus tampa pamrih."
"Memangnya aku peduli, cepat bayar hutangmu?"
Di saat Nicol kebingungan aku menjawabnya asal-asalan.
"Temani aku minum teh."
Entah kenapa melihat senyumannya membuatku merasakan firasat buruk, di penginapan yang sejujurnya telah aku tinggalkan beberapa saat lalu malah harus menjadi lokasi minum teh kami.
Aku duduk di sofa bersama Nicol sementara di depanku adalah Tiffany yang duduk selagi menyilangkan kakinya, dia dengan jahil terus menunjukkan buku di tangannya.
"Bukannya kau ingin buku ini, kenapa tidak coba menawarnya?"
"Aku tidak cukup bodoh untuk membuat kesepakatan dengan orang serakah."
"Kurasa pilihanmu benar, tapi sayangnya kitab ini tidak membuat seorang pemakainya sama seperti bukunya, aku serakah hanya kebetulan saja."
Itu bisa dimasukkan ke dalam sebuah kemungkinan.
__ADS_1
"Cobalah tawar aku?"
"Sepuluh koin perak."
"Bukan itu maksudku."
Aku mengalihkan pandangan ke arah Nicol.
"Bagaimana menurutmu?" aku sebelumnya sudah membicarakan soal tujuanku pada Nicol jadi dia tidak terkejut lagi.
"Aku tidak tahu apa yang bisa ditawarkan, tapi bagaimana jika nona Tiffany meminta langsung saja pada tuan Aksa."
"Lebih cepat seperti itu."
"Kalau begitu, izinkan aku bersamamu."
Air teh menyembur dari mulutku.
"Tidak, tidak, itu mustahil... aku merasa hal yang mencurigakan darimu."
"Jangan khawatir, aku bukan seperti itu.. keserakahan memang hal yang membuat manusia bersemangat tapi seiring waktu hatimu akan perlahan kosong dan membuatmu melupakan semangat itu, setiap aku meraih kemenangan aku sama sekali tidak senang, rasanya hampa... kuharap sebuah petualangan akan membuatku bersemangat kembali.
Aku tidak berfikir untuk pergi dengan wanita berdada besar.
"Aku menolaknya."
"Kau tidak ingin bukunya? Bukannya ini sangat berharga bagimu."
Pada akhirnya aku menyerah lalu membuat mobil untuk perjalanan kami selanjutnya.
Nicol duduk di belakang selagi mengelap Hecate miliknya sementara aku dan Tiffany duduk di depan.
__ADS_1
Aku berfikir ini pasti akan menjadi perjalanan yang panjang.