
Aku baru saja hendak berjalan sampai tiba-tiba saja sesuatu jatuh dari langit tepat di depan mataku.
Itu bukanlah sebuah meteor atau benda langit melainkan hanya seorang pria dengan tubuh dililit beberapa perban di tubuhnya.
"Aku datang untuk mengambil bukunya, bisakah kau memberikannya padaku."
"Aku tidak membawa buku apapun, kau salah orang," jawabku asal asalan sampai Lust memotong.
"Dia membawa buku lain di balik bajunya, cepat lari."
"Tidak secepat itu. Thunder."
Sebuah petir ditembakan ke arahku selain bangunan yang hancur tubuhku baik-baik saja, orang-orang mulai berhamburan dari dalam rumah demi menyelamatkan diri mereka.
"Sihir pelindung, cukup baik."
Apa-apaan dengan orang ini? Dia tidak menggunakan Magic Script tapi bisa menembakkan sihir tanpa rapalan.
"Sudah kuduga, dia menggunakan kekuatan roh langsung dari tubuhnya," tambah Lust.
Apa maksudnya?
Petir lain ditembakan ke arahku yang mana memaksaku melompat ke atas genteng rumah, di situasi seperti ini Greed malah tertawa seolah menikmatinya.
Aku menariknya lalu membalas sihir dengan sebuah tembakan. Letupan senjata terdengar secara terus-menerus.
"Kau merubah buku dosa mematikan menjadi benda lain, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan orang lain, siapa kau?"
"Cuma penyihir biasa," balasku ringan.
Aku melompat ke bawah lalu berlari ke arah si wajah mumi tersebut. Kupindahkan Greed ke tangan kiri sedangkan tangan kanan menarik pedang Lust.
"Jangan khawatir Aksa, pelindung Meliana cukup kuat hingga dia tidak mungkin bisa menggunakan kekuatannya dengan baik."
"Menurutmu begitu."
Guakh.
__ADS_1
Sebuah pukulan menghantam perutku kemudian melemparkanku seperti sebuah meriam udara yang sanggup menembus tiga bangunan sekaligus.
"Apa-apaan itu? Kau mendapatkan musuh yang kuat.. kau akan mati Aksa."
Seperti biasa perkataan Greed tidak terlalu membantu.
Si wajah mumi mendekat lalu menunjukkan dua buku di tangannya, yaitu Wrath dan Sloth.
Lust yang menyadari keanehan itu menjelaskan.
"Dia menyerap kekuatan buku dosa ke dalam tubuhnya."
"Tepat sekali, sekarang dua buku ini juga," tanpa ragu wajah mumi menghancurkan ke dua buku tersebut kemudian menyerap energinya ke dalam tubuh miliknya sendiri.
Aku bertanya ke pada Lust.
"Bagaimana dengan rohnya?"
"Sayang sekali, mereka sudah mati, dalam arti sesungguhnya. Roh berasal dari makhluk hidup yang mati, karena masih belum menerima kematiannya dia bergentayangan dan sekarang saat seseorang menghancurkannya itu sama saja mengirimnya langsung ke akhirat."
Difinisi roh secara umum, jika roh bisa mengumpulkan Od mereka juga bisa memiliki bentuk manusia.
Bola api ditembakan ke arahku yang mana kutebas dengan sekali ayunan, ketika jarakku lebih dekat dengan si wajah mumi aku mengirim bilah dari samping dan ia dengan mudah menangkapnya.
"Dengan menyerap energi dari kelima buku, aku sudah mendekati kekuatan Dewa, tinggal mengambil dua milikmu aku pasti akan sempurna," katanya.
Tangan mumi memukul perutku dan di saat aku hampir tumbang sebuah tangan mencengkeram wajahku kemudian menghantamkanku ke tanah hingga menghasilkan ledakan ke udara.
"Kuambil pedang dan senjata anehmu ini."
Saat pria itu mengambilnya aku tersenyum.
"Apa ada yang lucu?"
"Biar aku tanya satu hal, apa kau ini Oracle dari Dewa jahat."
"Benar, sekarang Dewaku telah bangkit jadi kurasa sebentar lagi kota ini akan hancur olehnya."
__ADS_1
"Begitu, dia pasti akan kecewa karena memiliki utusan bodoh sepertimu."
"Apa?"
Si wajah mumi menendang wajahku beberapa kali hingga darah mengucur tak terbendung dari sana.
"Apa yang kau tertawakan, sialan?"
"Tidak, sebenarnya cara yang kau gunakan ini awalnya ingin kulakukan juga tapi berkat seseorang aku tidak melakukannya."
"Apa yang ingin kau katakan?"
"Kekuatan di buku itu terlalu besar untuk ditampung satu orang, terlebih menjadikan dirimu sebagai wadahnya, aku kira sebentar lagi kau akan meledak."
"Konyol, hal itu tidak..."
Ekpresi si wajah mumi memucat saat tahu bahwa Greed dan Lust tengah mengalirkan energi miliknya padanya.
"Mustahil?"
Perlahan tubuhnya mulai membengkak lalu terlihat bercak-bercak api yang menyala.
"Hentikan."
Aku bangkit lalu memukul perutnya hingga ia memuntahkan darah dari mulutnya, saat Greed dan Lust terlepas dari tangannya kutendang dia sampai meluncur ke belakang.
Tanpa harus kuberitahu.
Tubuhnya langsung meledak dahsyat.
Aku mengambil Greed dan Lust secara bersamaan.
"Dia terlalu serakah haha."
Aku tidak ingin mendengar perkataan itu dari Greed.
Tak lama kemudian Lust berkata ke arahku.
__ADS_1
"Lihat di atasmu, pemimpin sebenarnya telah datang."
Aku menengadah ke langit di mana seorang pria melayang di sana selagi mengawasiku secara seksama, tidak salah lagi dia pasti Dewa jahat dari orang yang barusan kukalahkan.