
Ketika situasi bertambah buruk dua petualang tiba-tiba muncul di depanku, salah satunya adalah wanita bertubuh mungil berambut hitam dan berponi sementara satunya lagi pria bertubuh tinggi dengan rambut gondrong serta ekpresi suram.
Si wanita memegang sendok sayur di tangan kanannya sedangkan si pria membawa panci.
"Nee-san, sudah waktunya kita beraksi."
"Aah, aku sudah tahu hal ini akan terjadi."
"Ini bukan waktunya ngelawak lu pada," teriakku hingga mereka berbalik.
"Nee-san siapa pria gila ini."
"Entahlah."
"Kalian yang gila."
Hal aneh seperti ini terkadang selalu terjadi, aku berkata ke arah Nicol.
"Sebaiknya kau pergi ke tempat aman bersama penduduk saja, biar aku yang akan mengatasinya."
"Tapi, aku juga ingin membantu."
"Ini perintah."
"Ba-baik."
Aku bergegas berlari menuju raksasa itu dan kedua petualang yang tadi juga mengikutiku dari samping.
__ADS_1
"Kalian berdua?"
"Kami berdua petualang elit yang disewa oleh kota ini, kami akan membantu," kata si pria dan si wanita mengangguk mengiyakan.
"Dengan peralatan itu?"
"Ah benar juga, kami tadi sedang memasak, jangan khawatir, kami punya perlengkapan yang bagus, benar kan Nee-san."
"Entahlah."
Wanita ini tidak basa membaca suasana, paling tidak katakan yang keren kek.
Keduanya membuang senjata mereka lalu menggantinya dengan peralatan yang disembunyikan mereka dalam sihir penyimpanan.
Untuk si wanita adalah pedang kembar hitam sementara si pria sebuah perisai dimana sekelilingnya bergerigi.
Aku mengambil dua pistol lalu menembakinya hingga meledak, begitu pula kedua petualang bersamaku yang mampu menggunakan senjata mereka dengan mahir.
Yang jelas mereka bukan petualang biasa.
"Majulah pria asing, serahkan semuanya pada kami," atas pernyataan si pria aku menerjang ke depan, setiap ada laba-laba si wanita sudah berada di sana untuk menebasnya.
Kemampuannya mirip seperti teleportasi jarak dekat, di sisi lain saat pria itu menancapkan perisainya, itu menciptakan gelombang api yang meratakan area di sekelilingnya membakar laba-laba tanpa ampun.
Untuk sekarang aku hanya fokus dengan apa yang ada di depanku.
"Nee-san apa kau juga merasakannya?"
__ADS_1
"Aah, dia menggunakan sihir seperti Meliana."
Aku melompat di udara seolah ada pijakan di sana, dengan senjata api sudah jelas tidak akan bisa menumbangkan raksasa di depanku ini, jadi kuputuskan untuk menyarungkan kembali dan kubuat sihir dari tombak angin.
Si monster yang mengetahui keberadaanku seketika menutup mulutnya kemudian menggunakan kedua tangannya untuk mencegahku mendekat.
Tapi terlambat, aku lebih dulu melesatkan tombak angin yang mana menembus jantungnya hingga seketika dia rubuh ke belakang.
Aku mendaratkan kakiku di atas perutnya yang penuh bulu, ini hanya tahap pertama selanjutnya pasti akan muncul monster yang lebih mengerikan lagi, aku kembali ke kota untuk memeriksa keadaan, kulihat ke sekeliling kota yang tampak kacau balau beberapa orang telah menjadi mangsa para laba-laba barusan termasuk petualang yang sebelumnya pernah kutemui di kedai itu.
Kalau tidak salah namanya Blitz.
Bagian kepalanya telah hilang.
Tak lama kemudian tubuhnya bergerak hingga bisa bangkit kembali.
"Sihir ini, sihir Undead."
Sebelum tubuh itu mendekat ke arahku sebuah pedang kembar merobek tubuhnya hingga hancur.
Orang yang melakukannya adalah wanita yang kutemui barusan dan di belakangnya pria itu mendampingi.
Aku berkata pada keduanya.
"Sebenarnya apa yang kita lawan ini?"
"Lawan kita adalah penyihir," jawabannya membuatku terkejut.
__ADS_1