
Di antara pegunungan terjal ada sekitar 50 orang sedang berpesta meriah, masing-masing dari mereka mengangkat birnya dengan senang selagi bersorak-sorai, mereka adalah kumpulan bandit yang belakang ini telah menghancurkan desa maupun kota di wilayah ini.
Mereka hidup sebebas mereka inginkan, tumpukan uang dibiarkan menggunung serta makanan yang berlimpah yang tak akan pernah berkurang.
Ketika mereka asyik dengan itu, aku berjalan mendekat, aku tidak ingin melibatkan anggotaku dalam hal seperti ini karena itu aku datang sendirian.
Menyadari kedatanganku orang-orang itu langsung berhenti melakukan aktivitas mereka dan bertanya-tanya siapa orang yang berada di depan mereka.
Aku menciptakan pedang di tanganku hingga mereka tertawa.
"Apa-apaan orang ini? Dia ingin menjadi pahlawan haha salah satu dari kalian bunuh dia."
"Serahkan padaku."
Menanggapi permintaan orang yang terlihat seperti pemimpin, pria itu mengambil kapak besar lalu berlari ke arahku selagi mengayunkan kapak dari atas ke bawah.
Aku juga turut menebaskan pedangku, entah itu senjatanya atau tubuhnya keduanya terbelah dua, darah memuncrat ke wajahku membuat semua orang yang melihatnya terdiam.
Sampai.
"Berhati-hatilah kalian, orang ini sudah terbiasa membunuh, bahkan aku sama sekali tidak melihatnya berkedip."
"Maju kalian semua," kataku demikian.
Semua orang kecuali pemimpinnya menyerangku secara bersamaan, mereka menembakan sihir namun sihir langsung terpental saat menimpa sihir pelindungku, mereka membacok namun tubuh mereka lebih dulu terbunuh.
Mereka meminta ampun namun aku tidak berhenti, setiap darah, setiap daging, setiap teriakan adalah hal yang menghiasi pertarungan ini.
__ADS_1
Walau hanya ada pemandangan mengerikan di depan mataku, aku sudah tidak bisa melihatnya.
Walau teriakan ketakutan dan putus asa begitu dekat, aku tidak bisa mendengarnya.
Yang bisa kulihat maupun kudengar hanyalah kekosongan.
Si pemimpin tampak terjatuh dari kursinya lalu merangkak mundur.
"Ampuni aku, jangan bunuh aku... kau bisa mengambil semua uang ini."
"Minta ampunlah pada orang-orang tak berdosa yang telah kalian bunuh... Inferno."
Api melahap tubuhnya, meniadakan semuanya tanpa sisa. Aku mungkin telah jatuh pada kegelapan, kendati demikian aku tidak menyesalinya.
Kepalaku tiba-tiba terasa berat dan pusing, saat aku hendak jatuh ke depan seseorang telah menangkapku dalam pelukannya.
"Belakangan ini, kau membuatku khawatir tahu, apa kau ini monster berdarah dingin," suara lembut itu membuatku melirik padanya.
"Dewi Nermala?"
"Memangnya siapa lagi, kau harus menenangkan dirimu di sini."
"Aku menolak."
"Aku memaksa. Ini perintah Dewi."
Aku menghela nafas panjang dan hanya menutup mataku setelahnya.
__ADS_1
Sebuah senandung merdu telah membangunkanku dari tidurku, aku bisa merasakan batal empuk di belakang kepalaku, tapi jelas itu bukan bantal sesungguhnya melainkan sebuah pangkuan dari Dewi yang cantik jelita.
"Kau sudah bangun."
Dia membelai rambutku beberapa kali selagi tersenyum lembut.
"Maafkan aku, aku harusnya tidak membuat seorang Dewi melakukan ini.. aku akan bangun."
Dia menahan kepalaku agar tidak bangun.
"Sudahlah, aku tidak keberatan.. aku akan sering melakukan ini jadi kau harus menerimanya."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapian, coba pikir berapa orang yang bisa bertemu Dewi seperti ini hingga mereka dimanjakan di atas pangkuannya."
"Tidak ada."
"Tepat sekali, ini perlakuan khusus yang kuberikan padamu."
Aku mungkin merasa senang sekarang.
Nermala melanjutkan.
"Aku tidak bisa melarang ataupun mendukung jalan yang ingin kau lalui, yang bisa kulakukan hanya ini saja, jadi jangan sungkan memperlakukanku sebagai temanmu."
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban dan diam beberapa waktu selagi merasakan hembusan angin yang menerpa wajahku.
__ADS_1