
Kami memilih tempat di atas bangunan tinggi selagi ditemani segelas bir dan juga Karaage, tentu aku memilih air putih saja dibandingkan bir.
"Fuwaah... jadi ini rasanya bir."
"Aku akan melarangmu agar tidak meminum terlalu banyak."
"Tak masalah, aku tidak akan mabuk dengan satu gelas."
Kuharap begitu.
Ayumi adalah gadis Jepang dengan kecantikan tradisional yang jarang di temui dalam waktu ribuan tahun, tidak berlebihan dia termasuk gadis populer di sekolah.
Aku akan mengatakan bahwa dia gadis cantik.
Dibanding dengan diriku yang sedikit memiliki hawa keberadaan dia malah lebih banyak memilikinya.
"Hidup di dunia lain terasa menyenangkan, tapi tak kusangka Aksa malah populer di sini.. aku merasa bahwa Aksaku direbut dari tanganku."
Dia jelas sudah mabuk.
"Tapi aku senang bahwa aku bisa bertemu denganmu, ayahku telah meninggal dan aku tidak mau tinggal sendirian... jadi aku sangat bersyukur... fuwaah."
"Kau sudah banyak minum tolong berhenti."
"Aku baru minum tiga teguk."
Aku menghela nafas dan hanya menikmati makananku, ketika habis dia membaringkan tubuhnya selagi melirik ke arah langit yang disii awan yang menyejukkan.
"Aksa, soal kau akan menikahiku apa itu benar?"
"Aku tahu sejak dulu kau menganggapku sebagai adikmu jadi kau bisa menolaknya."
__ADS_1
Ayumi melirik ke arahku dan berkata dengan serius.
"Baka."
Heh, apa aku salah bicara?
Di banding aku yang kebingungan, Ayumi mengigit bibirnya dengan wajah memerah.
"Meski aku bilang aku adalah kakakmu aku hanya menutupi hatiku saja, aku menyukaimu sejak lama.. bahkan ketika aku tersesat kau datang untuk menggendongku tapi jika aku mengatakannya maka kehidupanku akan berubah, aku tidak ingin dibenci Aksa atau mungkin kau berusaha menjauh dariku karena itulah... aku."
Dia tertidur.
Aku tidak tahu dia mengatakan yang sesungguhnya atau tidak, terkadang minuman alkohol bisa membuat seseorang bertindak tidak seperti yang diinginkannya.
Kurasa membiarkannya tidur sebentar bukanlah masalah.
Jika mengingat kebersamaan dengan Ayumi, itu hanya akan membuat wajahku memerah kami selalu melakukan hal bersama seperti mandi ataupun hanya bermain.
Aku ingat saat teman Ayumi datang ke rumah untuk mengajaknya bermain dia hanya bilang.
Pada akhirnya setiap dia pergi aku juga harus ada di sana disampingnya, masa-masa itu memang sedikit merepotkan tapi sesuatu yang berharga juga.
Ayumi terbangun selagi memegangi kepalanya.
"Kepalaku sakit."
"Sudah kubilang jangan minum alkohol."
"Tak masalah sesekali."
Dia menjulurkan lidahnya jahil.
__ADS_1
Karena hari sudah sore kami harus bergegas kembali, lagipula aku yakin apa yang dikatakan Ayumi sebelumnya dia sudah melupakannya.
"Kau masih pusing, biar aku yang menggendongmu."
"Maafkan aku."
Aku mengulurkan punggungku dan Ayumi mengambilnya, sensasi empuk menekanku dengan kelembutan yang sulit dijelaskan. Aku masih tidak terbiasa dengan sensasi ini.
Ayumi mengaitkan lengannya di leherku dan berbisik.
"Ini seperti waktu dulu, benar kan."
Dulu saat kemah sekolah Ayumi sempat tersesat dan aku harus mencarinya selama satu jam dan menggendongnya kembali di tengah kegelapan hutan.
Saat itu jelas cukup buruk.
Ayumi mencium pipiku hingga dalam seketika kepalaku yang penuh pemikiran aneh menjadi kosong.
"Kenapa bengong, cepat jalan... aku ingin segera pulang dan makan."
"Kau sudah makan barusan."
"Cuma sedikit, mana mungkin aku kenyang... hari ini Nicol masak apa yah?"
"Kalian terlalu mengandalkan Nicol, lain kali kita harus membicarakan soal tugas di rumah."
"Tapi tidak ada yang melakukan tugas sebaiknya, semua orang mengetahuinya."
"Kurasa aku harus menyewa pelayan untuk mengajari kalian."
"Ah... itu akan menyusahkan, mari adakan rapat lain kali."
__ADS_1
Seperti biasa dia masih malas belajar meksipun nilai akademiknya selalu tinggi.
Dan untuk ciuman barusan kami memilih tak membahasnya.