Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 112 : Berbelanja


__ADS_3

Sebuah ketukan terdengar dari pintu kamarku, saat pintu itu terbuka sosok nona Heliet dengan pakaian Lingerie hitamnya masuk dan berkata dengan wajah memelas.


"Aku tidak bisa tidur, boleh tidur di sini."


Jika aku menolak dia akan menangis dan jika aku lari dia juga akan menangis, walau guruku adalah penyihir hebat, ia memiliki hati yang rapuh.


"Aku mengerti, tidurlah di sampingku."


Aku bergeser ke sudut dan guruku segera mengambil tempat di sana, berbagi selimut bukan hal aneh bukan?


"Nah Aksa, besok mereka akan pergi? Kau yakin tidak ingin mencegah mereka."


"Aku tidak memiliki hak seperti itu, mereka memiliki keluarga di negara Animalia sudah waktunya mereka pergi."


"Begitu."


Yang kami maksud adalah Lucia, Claudine dan Lauren, semenjak pergerakan penyihir Oracle Dewa jahat semakin aktif mereka sedikit khawatir dengan keadaan panti asuhan.


Seperti apa yang dikatakan Nermala, para Dewa-Dewi telah bangkit kembali, sudah waktunya aku juga turut berperang.


Melihat ekspresiku yang tampak memikirkan sesuatu nona Heliet menusuk wajahku dengan jarinya.


"Apa yang kau pikirkan?"


"Aku sedang memikirkan kedamaian dunia."


"Itu bukan pikiran dari pria yang sedang memasuki pubertasnya."


Merasa ada yang aneh aku langsung berkata.

__ADS_1


"Selamat malam guru."


"Heh."


Keesokan paginya aku dan guruku berjalan di kota untuk mempersiapkan pesta perpisahan, di jalan kota yang ramai kami berdua saling bergandengan tangan seolah kami seorang pasangan.


Aku akan mengatakan bahwa guruku sedikit manja, meski begitu semua orang di kota ini sudah tahu hubungan kami hanyalah murid dan guru.


Hari ini dia mengenakan gaun terusan berwarna putih yang dipadukan dengan pita berwarna biru di sekeliling pinggangnya, untuk gaya rambutnya masih seperti biasanya, rambut hitam terurai panjang dengan poni menutupi mata kirinya.


Jika untukku aku hanya mengenakan pakaian serba hitam seperti karakter jahat di film-film action. Aku membeli dua crepe untukku dan guruku.


"Um enaknya... Aksa kau ingin mencoba punyaku?"


"Tidak usah."


"Dengan ini ciuman tidak langsung telah terjadi."


Aku tidak berfikir ciuman tidak langsung adalah sesuatu yang istimewa.


"Apa yang akan ingin kau buat Aksa?"


"Aku ingin membuat olahan dari makanan laut seperti ikan, kepiting atau kerang, tapi kalau bisa aku juga ingin membuat makanan yang semua orang sukai."


"Soal itu aku sudah menyiapkannya."


Nona Heliet merogoh belahan dadanya dan mengambil secarik kertas dari sana, aku tidak tahu tapi wanita di dunia ini selalu menyimpan barang penting di dalam sana.


"Aku menuliskan banyak hal yang mereka sukai kita hanya harus membelinya saja."

__ADS_1


"Lebih enak kalau kita membuatnya sendiri."


"Tapi itu akan memakan waktu lama."


"Makanan enak disiapkan dengan hati, dengan begitu kenangan indah akan terus melekat sampai kapanpun."


"Jika Aksa bilang begitu, apa boleh buat."


Nona Heliet semakin melekatkan dirinya padaku saat kami meneruskan perjalanan, di sela-sela pembelian bahan makanan Vivia muncul selagi merangkul kami berdua dari belakang.


"Sepertinya aku akan menjadi kakak ipar sebentar lagi."


"Itu terlalu cepat Vivia."


"Sana pergi, kami sedang sibuk."


"Aku ini kesatria hebat berani sekali kau mengusir diriku."


Aku menatap dengan pandangan bermasalah.


Orang ini memiliki sikap buruk, bahkan ketika pertemuan pertamaku dengannya dia berusaha menipuku dengan penampilan feminim.


"Sebenarnya ada yang harus kukatakan padamu, ini soal Richard... Sepertinya besok pagi dia akan memburu orang yang telah membunuh rekannya, aku sedikit khawatir karena dia pergi sendirian."


"Aku sudah memutuskan untuk membantunya, aku akan menemaninya."


"Richard memiliki teman yang baik, namun saat dia berubah kau harus membunuhnya, hanya itu yang ingin kukatakan, selamat bersenang-senang kalian berdua."


Kami berdua hanya melihat kepergian Vivia sampai sosoknya menghilang dalam kerumunan orang-orang.

__ADS_1


__ADS_2