
Ketika aku melangkahkan kakiku tiba-tiba saja kumpulan kelopak sakura berterbangan tertiup angin, saat kumpulan itu pergi semakin jauh kulihat seorang wanita berdiri di sana dengan sebilah katana di tangannya, katana itu lebih tinggi dari tubuhnya serta ia mengenakan kimono panjang.
"Apa kau menyukai bunga indah ini?" tanyanya demikian.
Aku mengarahkan senjataku lalu menembaknya tepat di dadanya hingga tubuhnya melebur menjadi bunga. Ketika aku melakukan itu dua orang pria muncul di atasku selagi mengayunkan pedangnya.
Aku hanya mengarahkan senjataku ke atas lalu menembaknya hingga mati dan satu lagi kutembak saat dia menyerangku dari samping. Mereka bertiga adalah ketiga perampok yang kutemui siang tadi.
Sebuah tepuk tangan terdengar dari wanita sebelumnya yang dengan ringan berdiri di atas kanal.
"Aku sudah menyewa mereka dengan harga mahal tapi tetap saja kalah."
"Siapa kau?"
"Namaku Anastasia... Aku salah satu empat jenderal yang melayani kerajaan Cygnus, salam kenal," balasnya selagi memegangi rambut hitamnya yang berkibar tertiup angin.
"Dari kelompok Aliansi kah."
"Lebih tepatnya dari 12 kerajaan rasi bintang."
Orang bernama Anastasia menarik pedangnya sesaat lalu memasukannya kembali dalam sarungnya dan kemudian beberapa rumah jatuh ke bawah setelah terpotong rapih.
"Apa kerajaan Cygnus, menginginkan wilayah ini."
"Bukan hanya kami, semua orang menginginkannya, terlebih sosok yang ada di bawah kota ini."
"Sosok di bawah kota?"
Tanda tanya muncul di atas kepalaku.
__ADS_1
"Sepertinya aku terlalu banyak bicara, jika kau ingin mengetahui banyak hal kau harus mengalahkanku."
"Aku benar-benar tidak ingin selalu berurusan dengan wanita."
Aku menembakan senjataku dan dengan sekali ayunan dia menebasnya menjadi dua bagian.
"Kau ini buruk sekali memperlakukan wanita bocah, wanita itu sama seperti sebuah bunga yang indah, saat kau memperlakukannya dengan baik maka mereka juga akan memperlakukanmu dengan lembut, namun sebaliknya."
Saat aku sadari Anastasia sudah berada di belakangku selagi menempatkan tangan kirinya di leherku sementara kanan kanan bersiap menusukku dari depan.
"Selamat tinggal."
Sebelum dia menusukannya ketiga anggota partyku sudah menahannya.
Naula memegangi tangan kanannya, Sirius menahan tangan lainnya sementara Liz menempatkan pisau terbuat es di lehernya.
"Kau sangat dicintai para bunga ini."
"Benarkah."
Tubuh Anastasia melebur menjadi bunga dan ia kembali berdiri di permukaan air.
"Apa-apaan ini? Apa barusan sihir Ilusi?" teriak Naula.
"Aku yakin barusan tubuh aslinya."
"Tuan Aksa, apa tuan tidak terluka? Nyawww."
Aku memegangi kerah baju Liz agar tidak terlalu menempel padaku, sementara Anastasia tertawa.
__ADS_1
"Pasangan yang aneh. Aku akan memberikan sedikit informasi.. Dalam tiga hari semua jenderal dari kerjaan Cygnus akan menyerang kota ini, alangkah lebih baik jika kalian sedikit mempersiapkan diri."
Wanita itu menjadi kelopak bunga sakura lalu hilang terbawa angin.
Aku menghilangkan senjataku lalu merogoh sesuatu dari balik pakaianku, sebuah kertas yang ditulis jelas dengan tinta tebal 'Black Death' dengan gambar hati di ujungnya.
Ini dari wanita barusan.
"Sungguh wanita yang aneh," aku membakar kertas itu dengan sihirku lalu berjalan pergi.
"Harusnya kau mengatakan terima kasih, kalau tidak ada kami barusan kau akan mati loh."
"Wanita itu dari awal tidak berniat membunuhku, dia hanya main-main saja."
"Benarkah?" Naula melirik ke arah Liz dan Sirius yang hanya membalasnya dengan mengangkat bahu selagi menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah, besok aku akan mentraktir kalian, jadi cepatlah tidur."
Ketiganya menatapku dengan mata berbinar.
Meski begitu.
"Aku meminta kalian tidur di kamar kalian bukan bersamaku," kataku lemas.
"Kyaa, jangan memegang dadaku."
"Ah itu tanganku Liz," balas Naula.
"Kau ingin kubunuh."
__ADS_1
"Hah."
Orang-orang ini memang merepotkan.