Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 22 : Pergi Ke Ibukota Kerajaan Elysium


__ADS_3

Kerajaan Elysium adalah salah satu kerajaan terbesar di benua Lemuria ini yang mencangkup beberapa kota besar yang terkenal sebagai pusat perdagangan.


Jika menengok ke belakang kota terdapat sebuah istana megah yang menjulang tinggi, dengan bangunan berwarna putih serta bendera berlogo dua pedang yang menyilang satu sama lain di atas menara tersebut.


Sementara di sekitarnya bangunan tinggi memperindah suasananya, semua tempat di dunia ini memang terlihat seperti di abad pertengahan bahkan lantainya juga masih menggunakan batuan biasa.


Aku berjalan bersama Lulu untuk pergi ke sebuah arena mirip Colosseum dimana pertandingan antar guild akan dilaksanakan di sana, mungkin hanya pikiranku tapi Lulu terlihat menganggap hal ini sebagai kencan.


Untuk yang lainnya mereka akan menyusul saat pertandingan di mulai tiga hari dari sekarang.


"Aksa, sebaiknya kita menginap di mana?"


Harusnya bukan itu yang lebih dulu di pikirkannya, aku dan Lulu mengisi formulir keikutsertaan kami lalu meninggalkan tempat itu secepat mungkin. Petualang lain pasti akan menganggap kami hanya main-main saja.


Sudah termasuk guild yang lemah perwakilan kami juga hanya aku seorang, sudah sewajarnya mereka menertawakan kami.


Biarlah mereka bicara seenaknya, ketika kami berdua memilih-milih tempat untuk menginap, pilihan Lulu jatuh ke penginapan mencurigakan yang semuanya dihiasi lambang cinta.


"Kita di sini saja."


Jelas aku menolaknya dan menyeret Lulu ke tempat lain.


"Aku tidak mau pergi... lepaskan aku."

__ADS_1


Tak lama kemudian seorang pria mengenakan pakaian kesatria muncul menyapa kami berdua, sama seperti Vivia dia juga membawa pedang di pinggangnya.


Ia memiliki rambut biru serta sebuah anting yang dikaitkan di telinga kirinya.


"Apa ada yang bisa aku bantu? Namaku Richard Rufus."


Kepribadiannya sangat tenang serta penuh martabat namun, di saat yang sama terdapat sebuah kerendahan hati.


"Maaf sudah mengganggu ketenangan kota indah ini," kataku demikian.


"Jangan khawatir, terlalu tenang juga tidak baik untuk sebuah wilayah ternama di kerajaan ini, lalu siapa kalian?"


Itu mengingatkanku belum memperkenalkan nama kami.


"Aku Aksa, petualang biasa."


"Kota Antares yah... belakangan ini kota itu sangat terkenal."


"Terkenal?"


Aku maupun Lulu baru mendengar hal ini.


"Kalian belum tahu, semenjak Vivia dan Lesoria tinggal di sana orang-orang mulai mempertimbangkan keberadaan kota pemula, kebanyakan mereka bilang bahwa kota tersebut pasti akan melahirkan seorang pahlawan baru."

__ADS_1


"Bukannya itu malah gawat, bisa saja raja iblis menargetkannya sebagai ancaman."


Richard hanya tertawa kecil.


"Selagi ada kedua orang itu, aku tidak yakin raja iblis mau cari masalah dengan keduanya... kalau begitu aku permisi untuk melanjutkan pekerjaanku, kalian bersenang-senanglah, kalau aku ada waktu aku juga ingin melihat pertandinganmu."


"Terima kasih."


"Sampai nanti."


Richard berjalan melewatiku selagi melambaikan tangan, jika di duniaku dia pasti tipe pria populer yang mampu menggaet ratusan wanita dengan hanya senyumannya.


"Pria itu memang luar biasa, tapi dia bukan tipeku."


Aku lebih baik mengabaikan pernyataan Lulu dan melanjutkan perjalanan kami untuk menemukan penginapan murah.


Kami menyewa satu kamar dengan dua ranjang serta kamar mandi di dalam. Lulu melebarkan tangannya selagi membaringkan tubuhnya.


Dia benar-benar tanpa pertahanan.


"Sudah lama sekali aku tidak keluar dari kota Antares, ternyata ibukota telah banyak berubah.. dulu pemandangannya tidak seperti ini, aku cukup menikmatinya."


Aku hanya tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


Pantas saja dia memaksa untuk ikut kemari.


__ADS_2