
"Ngomong-ngomong kenapa belakangan ini banyak kesatria ditempatkan di kota ini, Aku bisa mengerti alasan Vivia Legal tapi Jeanne dan Lesoria, kalian berdua pasti memiliki alasan lain bukan?"
"Heh, kau ingin tahu."
Aku mengangguk sebagai jawaban.
"Sebagai kakak seperguruanmu aku akan mengatakannya, sebenarnya kami dikirim ke ibukota untuk memantau keadaan sekaligus menjaga putri yang akan datang ke kota ini."
"Maksudmu putri Alma?"
"Benar sekali," kami mengatakan itu selagi berbisik satu sama lain agar tidak terdengar siapapun.
Jeanne melanjutkan.
"Sebenarnya tuan putri ingin mencoba hidup sebagai petualang beberapa tahun ke depan, kurasa dia sedikit bosan selalu tinggal di istana."
"Kapan dia datang?"
"Beberapa minggu lagi."
"Begitu, ngomong-ngomong Jeanne sebelumnya kau bisa menyelinap ke wilayah naga, bisakah kau memberitahukan caranya padaku?"
Pernyataanku membuat Jeanne terdiam sesaat sebelum membuka mulutnya.
"Arta, jangan bilang kau.."
__ADS_1
Tiba-tiba saja Kazel menerobos masuk dengan wajah pucat hingga keheningan tercipta karena ulahnya, dia berteriak.
"Kita diserang."
Mengikuti perkataannya aku maupun Jeanne keluar untuk menyaksikan apa yang ditakuti Kazel bersama petualang lainnya. Lulu juga bersama kami selagi memegangi lenganku.
"Bukannya itu?"
Tepat di langit sekitar 100 malaikat muncul dengan senjata di tangan mereka.
Jeanne yang berdiri di sampingku menggigit ujung bibirnya kesal.
"Jadi rumor itu benar, para ras malaikat telah bergabung dengan fraksi raja iblis."
"Lulu kembali lah ke dalam guild, kami akan mengatasi ini semua."
"Berhati-hatilah Aksa."
"Aah."
Aku memunculkan pedang di tanganku lalu menggunakan sihir terbangku untuk melesat maju, Jeanne juga melakukan hal sama hingga kami berdua terbang bersama-sama.
Para malaikat mengarahkan ujung senjata mereka lalu menembakan petir dari sana.
"Biar aku atasi, Aksa majulah."
__ADS_1
Jeanne berdiri di depanku untuk menciptakan lingkaran sihir di tangannya, lingkaran itu menahan setiap serangan kemudian mengembalikannya ke penggunanya sendiri hingga meledak dan menciptakan kepulan asap ke udara.
Bersamaan itu aku menerobos masuk untuk mengincar pemimpinnya yang merupakan pria bertubuh besar, para malaikat ini memiliki empat sayap di punggungnya.
Mereka adalah eksistensi yang melayani Dewi, aku tidak mengira mereka berubah haluan untuk mendukung raja iblis, aku menebaskan pedangku dan dia menahannya dengan baik dengan tombak besar miliknya hingga menghasilkan suara yang memekakan telinga bercampur kilatan petir.
Jika dilihat dari dekat para malaikat ini jelas bertindak bukan karena keinginan mereka, ini sihir pengendali pikiran.
Pria yang menjadi lawanku mengayunkan tombaknya untuk kedua kalinya membuat tubuhku meluncur jatuh ke bawah, kalau bukan karena Jeanne aku akan langsung menghantam tanah barusan.
"Aksa kau baik-baik saja?"
"Aku tak apa, para malaikat ini sedang dikendalikan... pastikan untuk tidak membunuh mereka," kataku pada para petualang dan mereka mulai menyebar untuk menghentikan para malaikat.
"Kalian semua bagi diri kalian beberapa kelompok dan ikuti aku... pastikan untuk tidak bertarung seorang diri."
"Baik."
Kazel bisa diandalkan dalam situasi seperti ini.
Pria yang barusan kulawan mulai mendaratkan kakinya tepat di depan kami berdua. Jeanne menghunuskan pedangnya di udara untuk menciptakan bilah cahaya berbentuk setengah lingkaran.
Dengan santai pria di depanku menepisnya ke samping hingga membuat ledakan di sisi kirinya, dengan wajah datar dia berkata.
"Namaku Ribel, komandan dari ras malaikat... aku akan menghabisi semua pengganggu."
__ADS_1