
"Kenapa kau begitu ingin mati?" aku bertanya demikian saat Nene mengubah pedangnya ke dalam bentuk iblis.
"Untuk mendapatkan kekuatan pedang ini aku harus membunuh seluruh penduduk desa di mana aku tinggal, sampai sekarang aku menyesali hal itu dan memilih mati... jika ada orang yang lebih kuat dariku maka aku tidak akan menyesal jika aku mati, anggap saja ini adalah keegoisanku sendiri."
"Kalau begitu aku akan merubah peraturannya, jika aku menang, aku akan membawamu ke tempatku dan kau akan hidup untuk melayaniku."
"Itu tidak mungkin, lagipula meski aku menyetujuinya sepertinya kau orang yang lemah.. bahkan kau perlu bantuan iblis di atasmu itu untuk bertarung barusan, seharusnya aku tidak memandangmu tinggi."
Berlina yang turut mendengarkan tertawa lepas.
"Kau salah paham gadis kecil, tuanku lebih kuat dariku dia hanya suka berakting. Kau tahu?"
"Jika demikian aku ingin melihat seberapa kuat dia menahan pedangku."
Nene melesat maju, tidak seperti sebelumnya aku akan melawannya dengan semua kemampuanku. Kuciptakan dua pedang di tanganku lalu menahan tebasan Nene dari depan.
Pijakan esku sedikit goyah tapi tidak sampai membuatku kehilangan keseimbanganku, ada sedikit angin yang berhembus di antara kami sebelum akhirnya kami berdua kembali menebaskan pedang.
__ADS_1
Gerakan yang cepat yang digabungkan dengan pola serangan bertahan akan sulit diperlihatkan dengan mata biasa, itu seperti kami menghilang dan muncul di waktu bersamaan.
Bagi Berlina mungkin bukan hal sulit untuk memperhatikannya, aku menciptakan 5 armada kapal raksasa di langit yang secara serempak mengarahkan setiap moncong senjatanya ke arah Nene yang bergerak menghindarinya dengan cepat.
Ledakan terjadi beberapa kali di sana yang dibarengi oleh semburan air yang terlontar ke udara.
Nene tampak tersenyum senang sebelum melompat ke depan salah satu armada, aku hendak mencegahnya namun dia memukulku jatuh dengan keras.
Di atas sana dia menebas seluruh armada hingga terbakar sebelum akhirnya berjatuhan masuk ke dalam keabadian dari lautan, dia mendarat dengan puas.
Sebelum akhirnya dia melangkah maju kembali, aku melakukan hal sama dimana dua ahli pedang yang saling bertarung memang merepotkan.
Nene menjatuhkan pedangnya di permukaan es yang mana berubah menjadi goresan kecil sebelum melebar menjadi jurang, aku juga melakukannya agar aku bisa mempertahankan es di belakangku dan bongkahan es meluncur ke udara dengan ledakan mengerikan.
Percikan air berjatuhan layaknya sebuah hujan yang berjatuhan.
"Asssha... itu kekuatan yang luar biasa, syukurlah aku Tidka pergi kemana-mana dan masih melihatnya."
__ADS_1
Aku mengabaikan komentar Berlina saat Nene melesat padaku dengan cepat, kakinya tidak berada di pijakan namun benar-benar melayang di udara.
Aku melindungi diriku dengan sepuluh lingkaran sihir yang masing-masing dari mereka dihancurkan seperti sebuah kaca pecah.
Aku membuang pedangku lalu menggantinya dengan Dark Shield, sebuah perisai yang lebih keras dari apapun, sebelumnya aku pernah menggunakannya beberapa kali namun baru sekarang bisa dihancurkan dengan mudah.
Momentum serangan Nene telah selesai, membuatnya melompat mundur tentu aku tidak membiarkannya, sebuah tangan monster menyeruak dari bawah kakinya.
Tangan itu dibuat dari air laut yang dipadatkan sedemikian rupa, tanpa bisa menahannya tangan itu langsung menutup ruang keluar Nene dan langsung meledak bersamaan air yang berhamburan ke udara.
Dia berdiri dengan pakaiannya yang basah namun tidak menunjuk bahwa dia telah mencapai batasnya. Jika orang normal itu sudah membunuhnya dengan mudah.
Berlina tampak tercengang dia beberapa kali melontarkan pernyataan berani.
"Haha apa barusan teknik dewa, memadatkan air dan menciptakan bentuk yang lain.. itu jelas bukan sihir."
Seperti yang kukatakan iblis bisa melihat semuanya dengan mudah.
__ADS_1