
Kami tiba di sebuah desa yang telah hangus terbakar, di antara puing-puing reruntuhan dapat kulihat beberapa mayat yang tergeletak begitu saja.
Nona Heliet mencari ke arah kiri, Richard ke kanan dan aku lurus berjalan ke depan, kulihat seorang gadis kecil terbaring di sana selagi memegang boneka miliknya, ada sebuah pedang yang menancap di tubuhnya karena itu aku mencabutnya dan meletakkan ke dua tangannya di dada.
"Maafkan kami karena terlambat," aku hanya bisa mengatakan itu dengan kesedihan yang tidak bisa kutahan, jika dunia ini sangat mengerikan pantas saja para Dewi ingin menghancurkan semuanya dan jika itu dilakukan bahkan orang yang tidak bersalah ikut di dalamnya.
Di sisi lain apa yang Leonardo katakan adalah sebuah kebenaran yang dicampur dengan keputusasaan.
Hal yang bisa kulakukan untuk semua orang di sini hanyalah menguburkan mereka dengan layak.
Aku berdoa ke semua makam yang kubuat untuk mereka, beberapa orang telah kehilangan bagian tubuh mereka kendati demikian aku masih menguburkan mereka dengan batu nisan dibuat dari dahan pohon.
"Aksa, kita pergi."
"Aah."
Mengikuti nona Heliet ke dalam kereta, kami telah mengetahui tujuan para penyihir selanjutnya. Dengan menggunakan jalan memotong kami akan sampai sehari lebih cepat dibanding para kultus penyihir itu.
Penyihir yang kami lawan berasal dari pengikut Ariesta dimana penyihir yang memimpin sebagai Oracle bernama Dominic, dia pengguna boneka kutukan yang bisa membunuh siapapun hanya dengan mengambil bagian dari musuhnya, awalnya Richard berfikir hanya bagian rambut saja yang bisa digunakan akan tetapi darah pun termasuk.
Jika aku menemukannya aku akan menebasnya.
__ADS_1
Kami sampai di sebuah kota sederhana dimana penduduknya sendiri sekitar 1000 orang, seluruhnya di kelilingi tembok tinggi sebagai pertahanan, meski kuat untuk menahan monster atau binatang iblis tapi jika lawannya penyihir itu tidak berarti apapun.
Di sana kami memperkenalkan diri sebagai kesatria dari kerajaan Elysium, setelah mengetahui bahwa para penyihir Dewi jahat akan datang mereka semua sangat berterima kasih bahkan beberapa orang juga turut bergabung.
Apapun yang akan terjadi kami akan menyelamatkan kota ini.
Selagi duduk bersila di atas tembok, aku memakan roti lapis di tanganku. Isinya memiliki variasi sayur-sayuran serta daging rusa yang terasa sangat enak.
Jika untuk Richard dan guruku keduanya sedang mengatur strategi bersama yang lainnya. Kudengar mereka akan membagi kelompok menjadi empat grup.
Ketika aku asyik memakan makananku empat orang muncul dan berteriak ke arahku.
"Apa-apaan kau ini, kami semua sedang bekerja keras di bawah tapi kau malah bersantai di sini," teriak salah satunya yang kubalas.
"Orang ini."
"Sudahlah, kita hajar saja orang ini."
"Benar."
Mereka semua berlari ke arahku dengan kekuatan penuh, kota ini cukup menarik karena memiliki orang-orang yang bersemangat seperti ini.
__ADS_1
Aku menarik pedangku dari punggung kemudian mengayunkannya pelan menciptakan angin kuat yang menerjang mereka ke belakang.
"Jika kalian ada waktu melakukan hal tidak berguna ini, gunakan waktu kalian untuk hal yang lebih baik."
"Apa? Kaulah yang tidak berguna."
Aku menunjuk ke atas langit di mana sebuah lingkaran sihir raksasa tercipta di sana, keempat orang yang melihatnya tampak shock hingga lutut mereka jatuh dengan keringat membasahi tubuh mereka.
"A-apa itu?"
"Itu adalah Magic Script yang kubuat untuk kota ini, ketika kalian bertarung kalian tidak akan kelelahan karena kehabisan mana. Jika kalian sudah mengerti pergilah dari sini."
Mereka tiba-tiba membungkuk setengah badan padaku dan berkata di waktu bersamaan.
"Maafkan kami."
"Tidak perlu dipikirkan, sana pergi."
"Baik, terima kasih banyak."
Karena kegelisahan yang terjadi mereka jadi cepat emosi.
__ADS_1
Aku kembali memakan roti lapisku.
"Enak sekali, jika Sirius sudah bangun aku akan membelikannya sangat banyak."