Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 92 : Pintu Tersembunyi


__ADS_3

Hari itu setelah memancing aku bersama Sirius mengunjungi kedai milik Avelin yang belakangan ini semakin ramai.


"Hoh Aksa.. kau datang untuk membantu."


Setelah melihat kesibukannya jelas aku tidak bisa tinggal diam, aku pergi ke dapur untuk mencuci piring kotor sementara Sirius membantu di bagian depan sebagai pelayan.


"Kita punya dua pesanan lagi," kata sirirus datar.


"Serahkan padaku, apa piringnya masih belum beres?"


"Aku sudah menyelesaikannya."


"Tolong ambil piring dan mangkuk bekas pelanggan."


"Okay."


Hari ini benar-benar sibuk, setelah pukul 8 malam akhirnya selesai juga, tidak ada pelanggan lagi jadi Avelin menutup toko lebih awal.


"Kerja bagus kalian berdua mari makan, aku akan membuatkan kalian kari."


"Sepertinya enak."


Aku mengangguk atas perkataan Sirius. Tak perlu lama menunggu hidangan telah tersaji di meja.


"Selamat makan."


"Makan yang banyak, ada beberapa makanan sisa di dapur akan kubawa kemari."


"Terima kasih."

__ADS_1


Avelin pergi dan kembali dengan beberapa makanan seperti sup jagung, roti serta susu. Jika dibilang makanan sisa semuanya tampak mewah bagiku.


"Ngomong-ngomong Aksa, bagaimana penaklukan lantainya?"


"Semakin sulit saja, terakhir kami babak belur."


"Haha begitukah, bagaimana kalau kau mencoba pergi ke labirin lantai 600."


"Maksudmu dungeon?"


"Bukan, maksudku labirin yang berbeda.. kudengar jalan itu tersembunyi di atas bebatuan, jika kau memasukinya kau bisa langsung muncul di lantai 1000."


"Mana mungkin, bukannya Dewi Naga Freya itu sedikit keras terhadap peraturannya sendiri."


"Benarkah, tapi itu yang dibicarakan oleh orang-orang yang datang kemari, kupikir Dewi Freya tidak seburuk seperti yang kau katakan."


"Aku akan mencobanya nanti."


"Kemana Kariku?" teriakku.


"Dalam perutku master."


"Cepat keluarkan."


"Sudah menyatu dalam tubuhku."


Aku hanya bisa menghela nafas panjang.


Beberapa hari kemudian bersama yang lainnya kami pergi ke tempat yang dibicarakan oleh Avelin, di lantai 600 ada sebuah bukit bebatuan yang berada di dataran tinggi, aku menyentuh setiap batu yang ada.

__ADS_1


"Mana mungkin ada jalan tersembunyi ke lantai terakhir, orang-orang hanya bergurau saja," kata Kazel.


"Walau kemungkinannya kecil, aku tidak mengabaikannya," balasku padanya.


Vivia dan Richard hanya berdiri di belakang memperhatikan sementara Sirius saja yang membantuku.


"Ayo pergi?" bertepatan saat Kazel berbicara sebuah pintu terbuka tepat di dinding batu.


"Mustahil? Ternyata benar."


"Belum tentu pintu itu akan membawa kita ke sana, meski begitu mari kita periksa."


"Aku juga setuju, kita belum tahu apa yang menunggu kita," tambah Richard.


Kami memasukinya secara bergantian dan dalam sekejap kami tiba di sebuah labirin yang luas, ada beberapa golem batu yang menghalangi kendati demikian mereka hanya golem-golem yang sempat kutemui dilantai 500 ke bawah.


Kami terus berjalan maju sampai akhirnya sebuah cahaya memandu kami untuk mendekat, tepat di sana ada pintu lain, bukan hanya satu melainkan lima sekaligus dengan seekor kucing yang berjaga di depannya.


"Kupikir tidak akan ada yang menemukan jalan ini, selamat datang di labirin tersembunyi menara Altima, aku penjaga pintu.


Vivia menarik pedangnya lalu mengarahkan ujungnya ke arah si kucing.


"Kami perlu pergi ke lantai terakhir untuk bertemu Dewi bisakah kau menunjukan jalannya ke sana."


"Apa itu permintaan."


"Tidak, ini perintah."


Richard buru-buru menarik Vivia mundur.

__ADS_1


"Tahan dirimu, mungkin ada alasan kucing besar ini berada di sini."


"Benar sekali, hanya orang-orang yang diizinkan oleh sang Dewi saja yang bisa menemuinya.. jika tidak keberatan kalian harus memilih satu pintu dari yang tersedia, dan hanya satu pintu pula yang membawamu ke lantai terakhir sementara pintu lain akan mengeluarkanmu keluar menara, tentu saja yang memilih pintu yang salah tidak akan pernah memasuki menara ini lagi.. apa kalian masih mau mencobanya?"


__ADS_2