Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 202 : Kehidupan Dimulai


__ADS_3

Menyadari seseorang menindihku aku membuka mataku dan menemukan Ayumi tengah duduk di atas perutku.


Dia berkata selagi membawa sendok sayur di tangannya.


"Selamat pagi Aksa, kau ingin mandi dulu, makan, atau... aku."


"Aku ingin tidur lagi, selamat malam."


"Apa maksudmu ingin tidur, hari ini aku memasak jadi pastikan kau memakannya... apa kau ingin membuat nee-san terluka."


Seperti inilah karakter Ayumi, aku sudah tinggal bersamanya sejak kecil terkadang dia melakukan teknik gulat untuk membangunkanku, syukurlah dia tidak melakukannya sekarang dan memilih duduk di atasku dengan pakaian pelayan dan celemek imut.


"Baiklah, tapi tolong turun dari atasku dan tunggu di bawah."


"Begitu lebih bagus."


Ayumi mengintip dari balik pintu.


"Apa aku perlu membantumu untuk mengganti pakaian."


"Aku bisa melakukannya sendiri."


"Baiklah."


Aku hanya mendesah pelan saat kepergian Ayumi. Kelompok Ayumi memutuskan tinggal di mansion ini juga, sekarang tempat ini akan semakin ramai dan aku tidak keberatan soal itu.


Setelah mandi aku mengenakan celana hitam serta kaos berwarna serupa yang ditutup kembali mantel hitam tipis kemudian melilit leherku dengan sebuah syal pemberian Sirius.

__ADS_1


Tak lupa aku juga mengenakan sarung tangan hitam dengan dua pedang yang digantungkan di pinggangku.


Aku bisa membuat senjata apapun dengan sihir penciptaan hanya saja akan lebih mudah jika aku menggantungnya di sana dan jika dibutuhkan aku akan menciptakan senapan seperti biasanya.


Aku yang berjalan keluar dihentikan oleh guruku, dia menangkap kakiku dan menahannya di depan pintu.


"Jangan pergi, apa muridku tega meninggalkan gurunya sendiri mengurus toko, bagaimana kalau ada orang jahat yang datang dan mencoba untuk menggodaku?"


"Hal seperti itu tidak akan terjadi terlebih bukannya guru ahli sihir lagipula aku ini seorang petualang."


"Aku juga akan berpetualang."


"Ara, seperti inikah kelakuan muridku, aku tidak menyangkanya," ucap Meliana yang memegangi kakiku yang lain.


"Kau jangan ikut-ikutan," teriakku.


"Mari pergi."


"Baik."


Liz kini mengenakan gaun terusan putih yang melambangkan sihir esnya sementara Naula lebih suka mengenakan celana panjang hitam ketat dengan kemeja putih tanpa lengan, ia menggunakan senjata tombak yang bisa dilipat yang dia taruh di pinggulnya.


Apapun pakaiannya mereka terlihat cantik seperti biasanya.


Di jalanan kota, kami berpapasan dengan sosok yang tak terduga, dia adalah putri kerajaan Elysium bernama Alma. Ia memiliki rambut ungu lurus panjang dengan hiasan jepit rambut.


Berbeda dari yang kuingat ia kini mengenakan rok pendek serta pelindung dari kulit di pakaiannya serta ada pedang di pinggangnya.

__ADS_1


Dia benar-benar ingin mencoba hidup sebagai petualang, dua orang yang menjadi pengawal sekaligus anggota partynya adalah Jeanne d'Arc dan juga Lesoria Floresta.


Lesoria yang berjalan paling depan mulai berteriak-teriak.


"Kau menghalangi jalan, minggir... kau juga, hey siput lebih cepat dong, putri Alma mau lewat ini... Semut ini juga, cepat jalan apa kau tahu putri Alma mau lewat, mau aku penggal hah."


Tidak sejauh itu juga.


Jeanne tampak kewalahan dengan tingkah lakunya dan hany menarik nafas dalam-dalam.


"Yo Aksa, kalian juga ingin pergi ke guild."


"Aah, kami ingin mengambil beberapa quest tingkat atas."


"Begitu."


Putri Alma melirik ke arahku.


"Apa mungkin aku juga boleh ikut bergabung?"


Jeanne segera memotong.


"Itu mustahil tuan putri, Anda masih peringkat bawah mengambil quest tingkat atas itu sangat berbahaya mari mencoba bekerja di quest paling mudah dulu."


"Begitu, sayang sekali."


"Kurasa kita bisa pergi berbarengan ke guild"

__ADS_1


Liz maupun Naula segera menempel padaku, dan untuk alasan tidak kuketahui Alma tampak mengembungkan pipinya.


__ADS_2