Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 215 : Di Kediaman Dewi Nermala


__ADS_3

Di meja tanpa kursi itu kami berempat meminum teh hangat yang memiliki aroma terbaik di alam dewi ini.


Nermala menjelaskan banyak hal tentang Sirius dan Marine, singkatnya mereka telah menjadi dewi resmi dan tinggal di kediaman Nermala selamanya.


Alasan sederhana karena aku sering datang kemari, entah Sirius atau Marine akan selalu melihatku di sini.


Nermala meletakan tangannya di dadanya yang besar selagi berkata.


"Mari kita sebut ini sarang cinta Aksa, di mana di sini dia bisa memperlakukan kita semaunya."


"Itu ide bagus, tuan Aksa pasti akan menyukainya."


"Aku juga setuju, Master pasti akan bahagia."


Aku tidak tahu harus menanggapi mereka seperti apa.


Bertemu dengan dewi secara langsung adalah sebuah hak yang istimewa bagiku itu lebih dari cukup.


Aku menyeruput tehku lalu membalas perkataan mereka.


"Kalian berdua yakin masih memanggilku begitu?"


"Kenapa tidak?" balas Sirius.


"Yah kalian berdua dewi aku pikir panggil saja Aksa."


"Memanggil Aksa itu sulit bagaimana, suamiku?"


"Yang barusan bisa? Dan suamiku itu terlalu berlebihan."


"Itu contoh, bagaimana menurutmu Marine?"


Dia tidak mendengarkan protesku.


"Suamiku lebih bagus."


"Kalau begitu aku juga."


"Nermala jangan malah ikut-ikutan."


Nermala membalas dengan mengembungkan pipinya sementara aku melanjutkan.


"Terima kasih sudah membawa mereka berdua ke sini."

__ADS_1


"Tidak, tolong jangan membungkuk ke arahku... akulah yang harus berterima kasih, Aksa telah mencegah Leonardo membuat bencana, mengalahkan para dewi-dewa jahat bahkan mengalahkan naga kehancuran dan menghentikan Shinji maupun dewi naga Frena... prestasimu bahkan lebih dari siapapun, aku merasa jika bukan Aksa aku tidak tahu siapa lagi yang akan menyelamatkan dunia itu, sebelumnya aku sudah mengirim beberapa pahlawan tapi mereka gugur dalam pertempuran hingga pada akhirnya mereka tidak mau datang lagi ke dunia sana."


Aku bisa mengerti hal itu.


"Ini semua berkat seluruh dewi utama yang membantuku berlatih."


"Aksa cukup merendah padahal mereka malah memberikan syarat untuk pelatihanmu agar membantu dunia mereka di masa depan."


"Itu pertukaran yang setara," balasku ringan hingga Nermala tersenyum kecil lalu menambahkan.


"Semua dunia yang mereka kelola tingkat kesulitannya tinggi aku akan selalu mendukungmu jangan sungkan untuk datang dan mengandalkanku, aku juga cukup pandai dalam hiburan..."


Hiburan apa maksudnya?


"... kurasa sudah waktunya kamu bangun."


Aku bisa melihat tubuhku mulai memudar.


"Suamiku sudah mau pergi."


"Kami akan sedikit kesepian loh suamiku... terutama aku belum menerima siksaan yang nikmat."


"Tolong hentikan itu, yah.. aku akan sering mampir nanti."


Aku menghela nafas panjang.


"Dia hanya mengajariku hal aneh-aneh."


Saat aku sadari aku telah berada di kamarku di kota Antares, aku melihat nona Heliet tertidur di sebelahku sementara tubuhku telah banyak menerima balutan perban.


Aku mengelus kepalanya hingga dia terbangun.


"Aksa."


Dia melompat ke arahku lalu memelukku erat


"Sakit, sakit."


"Maafkan aku... syukurlah kamu sudah sadar."


"Berapa lama aku pingsan?"


"Seharian, semua orang menunggu di ruang tamu."

__ADS_1


"Begitu."


"Aku akan beritahu yang lainnya, Aksa berbaring saja."


Nona Heliet pergi lalu kembali beberapa saat bersama yang lainnya, tak hanya seluruh penghuni mansion. Kelompok yang ikut pergi ke wilayah naga pun turut hadir.


Malifana juga terlihat sangat senang di sana.


"Sepertinya aku telah membuat banyak orang khawatir."


"Benar sekali, Kazel bahkan datang kemari untuk memberikan koleksi pribadinya, ini dia."


"Jangan menyodorkan majalah dewasa padaku," teriakku pada Vivia yang tersenyum jahil.


"Aku sempat melihatnya katanya ini tipe yang disukai Aksa."


Untuk alasan yang tidak ingin kuketahui semua orang memegangi dada mereka termasuk Noela yang merupakan hantu.


Orang itu malah membuatku sakit.


Lain kali aku akan mengirimnya ke tempat suci agar pikirannya jernih.


"Mata dan tanganku?"


Ayumi yang menjelaskan.


"Tiba-tiba saja tangan dan matamu kembali, aku yakin pasti dewi Nermala yang melakukannya."


Dia memang benar.


Aku mengangguk sebagai jawaban


Tak lama Alyssa naik ke atas ranjang lalu memelukku erat.


Meliana berkata.


"Bagi yang ingin mendapatkan pelukan Aksa silahkan berbaris."


"Kalau begitu aku juga."


Jeanne malah berada di dalam antrian mengikuti semua orang yang berbaris.


Aku hanya tersenyum masam menanggapi kelakuan orang-orang ini.

__ADS_1


__ADS_2