Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 102 : Gua Air Terjun


__ADS_3

Di antara deretan pepohonan rimbun, Jeanne menebas seluruh area di sekelilingnya hingga tanpa tersisa, bagiku yang dulu dikenal sebagai pendekar pedang apa yang dilakukan Jeanne adalah sesuatu yang mengagumkan, dulu aku pernah tinggal bersama seorang gadis bernama Ayumi dia pengguna katana yang begitu mahir bahkan setiap tebasannya tidak terlihat.


Jika harus dikatakan aku yakin kemampuan Jeanne dan Ayumi berada di tingkat yang sama, selagi mengawasi sekelilingku kulihat satu Hobgoblin melempar batu ke arahku, dengan berguling kemudian bersembunyi di pohon aku dengan mudah mengelabuinya, selanjutnya serangan akhir dari Lesoria mengakhiri pertarungan lelah ini.


"Kerja bagus kalian, aku sangat capek," kata Jeanne dengan ekpresi senyuman biasanya.


Kami telah bertarung dengan Hobgoblin selama tiga hari berturut-turut tanpa istirahat, setiap kami istirahat salah satu dari mereka pasti menemukan kami hingga pertarungan tak bisa dihindari.


Mungkin saja para Hobgoblin ini mampu mencium aroma kami, tanpa menunggu malam tiba kami memutuskan pergi ke sebuah gua air terjun tak jauh dari sini. Aku memanggil Sirius yang sejak tadi hanya mencoret-coret tanah dengan ranting kayu.


"Apa yang kau buat?"


"Aku."


Gambar yang dibuat Sirius cukup detail.


"Apa itu?"


"Itu master."


"Kau menggambarku seperti batu."


"Begitu lebih baik bukan."


Dia pasti marah karena lapar.

__ADS_1


"Kami mendapatkan satu rusa, aku akan memaksanya menjadi sangat lezat."


"Daging, aku suka daging."


Sirius melompat ke punggungku dan aku menggendongnya.


"Lagi-lagi kau memanjakannya Aksa?" kata Lesoria membawa pedangnya di tangan.


"Apa boleh buat, dia masih kecil."


"Aku masih tidak yakin menyebutnya kecil, dadanya besar begitu," atas pernyataan Lesoria Jeanne hanya tersenyum pahit.


Sesampainya di gua aku menggunakan sihir pelindung angin untuk membuat kami semua masuk ke dalam gua dalam keadaan kering, aku menyalakan api menggunakan sihir api kemudian pergi ke dekat air terjun untuk membersihkan hewan buruan kami yang kusimpan dalam sihir penyimpanan.


Jeanne dan Lesoria melepaskan armor di tubuh mereka terlebih sepatu besi yang terlihat berat hanya dengan melihatnya saja.


"Kau belum tahu, Aksa juga pernah mengalahkan Nona Vermilion di duel satu sama lain bahkan Astral miliknya dihancurkan olehnya."


"Oi, itu salah paham."


Kini Jeanne menatapku dengan pandangan bersinar layaknya seorang anak kecil melihat mainannya.


Setelah memegang beberapa daging aku memberikan dua sekaligus kepada Sirius dan masing-masing satu kepada Jeanne dan Lesoria.


"Ini tidak adil," kata keduanya.

__ADS_1


"Kita masih memiliki daging, akan langsung kupanggang untuk kalian."


"Kalau itu aku tidak keberatan," balas Lesoria.


Aku mengelus rambut Sirius saat dia hanya diam memakan makanannya.


"Nah Jeanne, apa kau bisa mengatakan seperti apa wilayah naga itu?"


Jeanne sedikit diam untuk memikirkannya lalu mengangguk sekali dan menjelaskan.


"Wilayah naga itu Waahh... Bam, dan Bukhaaa."


"Aku tidak mengerti, gunakan bahasa manusia."


Lesoria memotong.


"Maksudnya sangat luas, indah dan bikin hati deg-degan."


"Yah, dia tidak mengatakannya hal itu barusan," kataku lemas.


"Sama seperti dunia kita wilayah naga juga seperti itu tapi saat di sana kebanyakan naga lebih suka mempertahankan bentuk manusianya dan hidup di kota-kota besar, saat aku mencari informasi di sana, itu membuatku sedikit ragu."


"Ragu?"


Aku dan Lesoria bereaksi dengan perkataan Jeanne yang tiba-tiba tersebut.

__ADS_1


"Maksudku naga sering datang menghancurkan wilayah kita bukan? Tapi saat aku berada di sana aku baru tahu bahwa sebagian manusia lebih dulu berburu naga untuk dijadikan bahan makanan, armour dan sebagainya, kalau bisa aku ingin manusia dan naga bisa berdamai."


Aku pernah mendengar dari Dewi Naga Freya bahwa sebagian naga yang tidak suka bertarung mengasingkan dirinya ke tempat terpencil tapi ini pertama kalinya aku mendengar hal ini.


__ADS_2