
Aku duduk di trotoar selagi menatap kincir angin yang terus berputar, terkadang beberapa anak kecil akan berhenti di depanku selagi memberikan bunga serta manisan, termasuk seorang wanita paruh baya yang dengan senang memberikan kue padaku.
"Terima kasih."
"Bagaimana menurutmu desa ini?"
"Tampak damai," jawabku singkat.
"Sebelumnya kami menderita karena pajak tinggi, sekarang kami bisa hidup selayaknya tanpa memikirkan hal tersebut."
Wanita itu membungkukan badannya lalu berjalan pergi saat aku memakan kue pemberiannya, akibat peperangan kerajaan mengambil suami-suami mereka untuk ikut dalam peperangan saat mereka tak bisa membayar pajak.
Hal seperti ini hanya membuatku muak.
Aku berdiri lalu memutuskan kembali ke penginapan, di dalam kamar kutemui anggota partyku yang telah selesai mandi. Masing-masing dari mereka mencoba menggodaku akan tetapi aku tidak harus kehilangan akal hingga menyerang mereka.
"Tuan Aksa, bagaimana kau kita bersenang-senang malam hari ini?"
"Tidak, kita punya tugas untuk melindungi kota ini.. sebentar lagi para bandit akan muncul dan kita harus mencegahnya."
Ketiganya malah menatapku kesal.
Sebelum senja tiba, aku menciptakan senapan Barrett M82 di atas sebuah dataran tinggi, di sampingku Naula mengawasi dengan teropong jarak jauh.
"Ada pergerakan di arah jam 9, dapat diklasifikasikan bahwa itu mata-mata dari musuh" mengikuti arahan Naula aku mengalihkan senjataku dan kutemukan seseorang bersembunyi di balik pohon.
"Aku melihatnya."
__ADS_1
"Tidak ditembak?" tanya heran Naula.
"Targetku adalah ikan besar, karena itu dengan membiarkan orang ini lolos dia akan kembali bersama teman-temannya."
keheningan terasa di antara kami berdua sampai Naula mendesah pelan.
"Aku sudah tidak tahan lagi denganmu, kau harusnya meniduri kami atau sebagainya bukan terus berperang, bukannya kau juga harus memiliki kehidupan yang menyenangkan seperti kebanyakan orang lain tapi malah melibatkan diri dengan hal merepotkan."
Aku menjawabnya setelah diam beberapa saat.
"Karena dunia ini, temanku hidup dalam penderitaan bahkan sampai akhir hayatnya, aku hanya ingin agar hal itu tidak terjadi pada siapapun lagi."
"Dengan mencegah peperangan dan membunuh hatimu sendiri."
"Jika itu merupakan jalan satu-satunya, aku akan mengambilnya."
"Tidak semuanya."
Naula hanya menghembuskan nafas panjang.
Setelah matahari terbenam para bandit mulai bermunculan, di saat itu Liz dan Sirius telah keluar untuk menyerang mereka dari kegelapan, sementara aku menembaki mereka dari atas.
"Sepuluh kaki ke arah kiri."
Door.
"Kena, dua puluh ke kanan."
__ADS_1
Door.
"Kena, di arah jam tiga seseorang berhasil menyelinap, Kena... Semua terget berhasil dilenyapkan."
Aku dan Naula turun ke desa dan menemukan Liz telah menahan satu orang dengan sihir esnya hingga tak bisa bergerak.
Aku berjalan mendekat lalu membuka penutup wajah dengan tanganku sendiri, seperti yang kuduga dalang dari semua ini adalah orang yang kutemui olehku siang tadi yang mana menawarkan dirinya sebagai penjaga.
"Kau tidak terlalu terkejut denganku?' katanya menyeringai senang dan Naula memukul wajahnya keras-keras.
"Dari awal memang sudah terasa aneh, kau kebetulan datang ke desa ini dan juga menawarkan bantuan, bukannya itu terlalu pas."
"Haha benar, aku yang membuat para bandit itu untuk menyerang desa lain dan aku juga yang menipu semua orang agar mempercayaiku, bukannya aku hebat... dengan ini kami bisa mendapatkan uang dengan cara mudah, lalu bagaimana? Apa kau akan melaporkanku."
"Itu terdengar seperti aku orang baik saja."
"Apa maksudmu?"
"Kami akan membantai semua rekan-rekanmu, seperti apa yang kulakukan pada seluruh kerajaan."
"Tunggu, tunggu sebentar... jangan-jangan kau?"
Naula menepuk pundaknya.
"Kau harusnya sudah bertobat sejak lama."
Aku menciptakan sebuah pisau di tanganku lalu melemparkannya menembus tengkorak kepalanya, di akhir hayatnya pria itu berkata secara terpatah-patah.
__ADS_1
"Black, Death."