Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 131 : Lawan Yang Harus Dihadapi


__ADS_3

Di ruangan yang hanya diisi kami bertiga, Sirius duduk di meja selagi menikmati permennya sementara aku dan Naula saling menatap satu sama lain.


"Jika kerajaan hilang, bukannya orang yang pertama diuntungkan adalah para bangsawan, entah itu dari kelompok Aliansi ataupun Federasi."


"Karena itulah aku mengandalkanmu untuk mencuri uang mereka dan membagikan rata kepada orang-orang di wilayahnya."


"Hah."


Naula hanya diam melongo.


"Itu pekerjaan sulit, kau tahu? Bagaimana dengan Sirius?"


"Sirius itu suka bermain-main, aku takut dia tidak sengaja menghancurkan benua ini."


"Sebenarnya dia ini makhluk apa?" kata Naula menjatuhkan kepalanya ke meja sementara aku melanjutkan.


"Setelah aku berhasil mengalahkan seluruh kerajaan di benua ini maka sistem pemimpin akan dihilangkan hingga nantinya para kepala desa dibantu masyarakatnya akan lebih memajukan kesejahteraan penduduk di wilayahnya sendiri, jika menyangkut hal sulit mereka akan lebih mengandalkan guild untuk membantu mereka."


"Meski kau mengatakan itu, dari awal semua wilayah memang mengandalkan guild, kerajaan terlalu sibuk mengurusi peluasan kekuasaan mereka. Aku sedikit kasihan untuk negara yang tidak ingin ikut berperang hingga menyerah dan bersekutu dengan negara lain serta banyak para wanita menangis untuk ini."


Aku mengeluarkan uang lalu mendorongnya di meja ke arah Naula.


"Gunakan uang itu untuk menyewa beberapa orang dari job pencuri, mereka bisa diandalkan untuk hal seperti ini."


"Baiklah, soal informasi yang kau tanyakan aku telah membuatnya di sini."


Aku menerima kertas yang diberikan Naula.

__ADS_1


"Di sana adalah kerajaan yang memiliki peran penting di benua ini, pertama dari kelompok Aliansi yang disebut 12 rasi bintang, 12 kerajaan ini memiliki kekuatan tempur luar biasa dan dikatakan akan memenangkan peperangan."


"Begitu."


"Dan untuk kelompok Federasi hanya satu orang bernama Liz Calista, julukannya si ratu es kematian.... Dia sudah mengalahkan banyak kerajaan sendirian, aku pikir akan jauh lebih mudah jika kita merekrutnya juga."


"Di lihat dari julukannya sudah jelas dia tipe yang berbahaya, tapi akan kumulai dari sana."


"Semoga berhasil, aku tidak tahu ini benar atau salah? Yang jelas aku sudah muak dengan sistem kerajaan seperti ini, akan lebih baik jika menjadi benua netral tanpa pemerintahan."


Aku hanya diam melihat kepergian Naula dari pintu, disaat yang sama Sirius telah menghabiskan permennya.


"Master, minta lagi."


"Terlalu banyak makanan manis tidak baik loh."


Marahnya Sirius lebih ke arah imut jadi aku tidak keberatan untuk melihatnya seperti itu.


Aku mengambil topeng dari balik jubah hitamku lalu memakainya di wajahku, kecuali menutupi identitasku tidak ada kekuatan khusus dari topengnya.


Sirius berubah menjadi pedang yang kubawa di punggungku sementara aku menciptakan motor lalu menaikinya pergi. Dengan kecepatan 50km/jam aku sampai di sebuah hutan es abadi yang merupakan wilayah dari Liz Calista.


Karena tertutup salju hampir mustahil untuk melewatinya dengan kendaraan karena itu kuhilangkan kendaraanku lalu berjalan maju, penduduk kota yang melihatku berhamburan dengan ketakutan, seorang anak perempuan jatuh di depanku hingga boneka ditangannya terlepas, ibunya yang panik lalu memeluknya dengan erat selagi menutup matanya.


Aku berlutut di dekat mereka, mengambil boneka itu lalu kuberikan pada anak perempuan tersebut.


Keduanya terbelalak terkejut saat aku mengelus kepala anak kecil itu lalu melanjutkan perjalanan menuju istana es yang berada jauh di belakang kota.

__ADS_1


Di luar gerbang tampak seorang wanita duduk di sebuah singgasana terbuat dari es seolah menunggu kedatanganku, ia memiliki rambut perak panjang yang dibilas dengan warna biru, memiliki mata ungu serta berpenampilan serba putih.


Walau di udara dingin dia mengenakan rok pendek serta stoking selutut.


"Aku sudah tahu kau akan datang kemari," bersamaan itu salju tiba-tiba saja turun.


Dia bisa merasakan siapa saja yang masuk ke dalam kawasannya.


Aku mengambil pedang lalu menancapkannya di salju.


"Maaf Sirius, sepertinya aku harus melawannya dengan sihir juga."


"Tak apa master, aku akan melihatnya dari sini saja."


Aku berjalan mendekat ke arah wanita tersebut dan ia menciptakan tombak-tombak es yang di lesatkan ke arahku.


Aku membuat pusaran api untuk meleburkannya.


"Heh, Magic Script kah? Menarik."


Magic Script adalah pola lingkaran sihir yang disatukan dengan pola keempat roh dari berbagai elemen dasar agar kau tidak perlu merapal.


"Bagiku kau yang lebih menarik karena hanya menggunakan formula dari roh es."


"Kau tahu juga."


Liz berdiri lalu berkata.

__ADS_1


"Pertarungan sesungguhnya baru dimulai Black Death."


__ADS_2