
Freya mengubah tangannya menjadi cakar kemudian bergerak ke arahku, aku melompat ke belakang hingga tempat sebelumnya aku berdiri telah menjadi puing-puing kehancuran.
Freya menghancurkan batu di tangannya sangat mudah.
"Aku mencium aroma Dewi Nermala di tubuhmu, bisakah kau jelaskan itu?"
"Saat aku dipindahkan kemari aku meminta agar bisa bertemu beliau semauku."
"Jangan bilang kau ingin melihat dadanya yang boing-boing."
"Bukan begitu, Dewi Nermala terlihat seperti ibuku," bantahku.
"Aku mengerti, kau ingin menyusu padanya, pria memang seperti itu."
"Oi."
Freya mengarahkan tangannya membentuk sebuah bola air yang dilesatkan padaku, aku menggunakan sihir tanah membuat tembok penghalang, sebagai serangan balasan aku gunakan angin tornado.
"Sepertinya kau bisa menggunakan seluruh elemen, menarik."
Hanya dengan sekali ayunan tangan, tornado tersebut tersapu bersih, Freya menunjukkan tangannya yang membesar dengan kilatan dari ujung kukunya.
"Aku tidak ingin menunjukkan bentuk asliku dengan sosok naga kepada suamiku, kuharap kau tidak takut padaku."
"Memangnya kapan aku jadi suamimu, aku masih belum kalah loh."
Aku menciptakan empat lingkaran sihir yang segera mengelilingi Freya dari setiap arah.
"Disaster."
__ADS_1
Masing-masing dari keempat lingkaran sihir itu menembakan elemen mereka membungkus tubuh Freya kemudian meledak dahsyat menghancurkan sekelilingnya tanpa ampun, kecuali Freya lubang tercipta di sana.
"Kau tidak lupa bahwa naga memiliki tubuh yang kuat."
Wus.
Dalam sekejap Freya telah berada di depan wajahku, sebelum aku bisa bereaksi tangan naganya memukul perutku hingga aku terhempas ke belakang dengan posisi terguling-guling di tanah sebelum akhirnya berlutut.
Freya muncul di atasku mengirim tendangan samping yang mana kutahan dengan punggung tangan menghasilkan hembusan udara.
"Sihir penguat kah."
Freya melompat ke belakang begitu aku bangkit.
"Naga memang sangat kuat."
Yang dikatakan Sirius benar, wujud naganya lebih besar dari yang terlihat. Aku menyeka darah yang keluar dari ujung mulutku sebelum melangkah maju.
"Melawanku secara dekat adalah pilihan salah."
"Kita lihat saja dulu."
Aku mengirim tinjuku ke wajah Freya, dengan kecepatan tinggi kami beradu pukulan yang dapat merobek udara di sekitar.
Sebelum efek sihir penguatku habis aku harus segera mengalahkannya. Aku mengirim tendangan yang mampu dihindari oleh Freya, di saat yang sama dia memukul dari bawah ke atas mengenai daguku hingga menerbangkanku sekitar dua meter di permukaan lantai.
"Guakh..."
Aku menciptakan lingkaran sihir pelindung sesaat sebelum pukulan menghantam perutku, kendati demikian tubuhku masih terlempar jauh, saat aku rasa aku akan jatuh ke bawah kugunakan sihir untuk membuatku melayang di udara.
__ADS_1
"Sihir tanpa rapalan memang sangat berguna," kata Freya mengangkat bahunya ringan.
Aku mendaratkan kakiku lalu mengarahkan tanganku ke langit, saat Freya menatap ke langit dia tertawa.
"Aku tidak menyadarinya, sejak kapan kau membuatnya."
"Dari awal... Hell of the Abyss."
Sebuah api dijatuhkan dari lingkaran sihir raksasa tersebut yang mana menciptakan pilar api yang menembus langit. Terdengar teriakan Freya yang dibarengi kehancuran tak terkendali, dengan serangan seperti ini aku yakin bahwa itu sudah cukup melemahkannya.
Aku terkapar ke lantai saat tiba-tiba saja tubuhku melemah.
"Aku terlalu banyak menggunakan mana," kataku sebelum kehilangan kesadaran.
Saat aku sadar aku telah berada di tempat tidur yang di sekelilingnya dihiasi renda-renda, aku menyadari ada seseorang memelukku dari samping hingga aku melonjak bangun.
"Freya," teriakku.
"Hoaaammm... kau sudah bangun Aksa," katanya selagi menggosok kedua matanya.
"Bagaimana dengan pertarungannya?"
"Kau sudah mampu memojokkanku, aku pikir kau menang."
"Benarkah," Freya mengangguk mengiyakan lalu melanjutkan.
"Meski begitu, aku tidak akan menyerah... suatu hari akan kubuat kau jatuh cinta padaku."
Aku hanya bisa tersenyum masam, aku tidak tahu bagaimana cara untuk berhadapan dengan orang seperti ini? Padahal ketika dalam sosok Avelin dia lebih pengertian.
__ADS_1