
Para pegawai penginapan membawa kereta kami ke gudang sementara kami sendiri mengambil kamar di bagian atas.
Aku meminta Naula dan Malifana untuk tetap di dalam kamar mereka bersama Alyssa sementara aku dan Liz akan mencari sesuatu yang terjadi di kota ini.
Di jalanan utama tidak ada hal yang mencurigakan, orang-orang berjalan semestinya tanpa menunjukan kejanggalan.
Liz berjongkok di dekat trotoar selagi menatap ke bawah gorong-gorong saluran air.
"Ada apa Liz?"
"Aku merasakan pergerakan di sana, mungkin itu cuma tikus... mari lanjutkan."
"Baiklah."
Liz mengambil lenganku seperti biasanya untuk datang ke sebuah bar khusus dewasa, khusus dewasa di sini mereka hanya menyediakan minuman alkohol kelas atas dengan harga yang sangat mahal.
Aku tidak suka alkohol jadi kuberikan gelasku untuk ditangani Liz selagi berkata ke arah bartender yang menyipitkan mata ke arahku.
"Pelanggan yang tidak meminum gelasnya, itu terlihat kasar."
"Aku tidak suka alkohol."
"Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal, akan kuberikan susu kucingku."
Aku menciptakan senapan laras panjang yang ujungnya tepat mengenai hidungnya.
"Apa kau pernah merasakan mati."
"Mana mungkin aku pernah merasakannya? Aku cuma bercanda, tolong turunkan benda anehmu."
Aku melenyapkannya dalam sekejap mata.
"Jadi apa yang kau inginkan dariku?"
"Sebuah informasi."
__ADS_1
Aku mengirim sekantong uang padanya.
"Hoh, kau sepertinya terbiasa dengan bisnis ilegal."
"Anggap saja seperti itu, kesatria cenderung melewatkan informasi dari bar, rumah bordil ataupun bisnis gelap lainnya tapi aku berbeda."
"Dengan kata lain kau bekerja untuk kesatria."
"Aku hanya sedikit membantu, kebetulan masalahnya sedikit terlibat dengan apa yang kuselidiki."
"Ikutlah denganku kita bisa bicara di dalam, di sini banyak pelanggan... hey kau, gantikan aku sebentar."
"Baiklah."
Liz yang meminum dua gelas mulai meracau.
"Huh, Aksa jadi dua orang tapi masih tampan."
Sedikit sihir air Liz terbangun.
"Baguslah kau sudah sadar."
"Bukannya cara barusan sangat kejam."
"Tidak juga."
"Tapi aku menyukainya."
Pria di depanku membalas.
"Kekasihmu sangat manja, kau pasti bersenang-senang di malam hari."
Aku menodongkan pistol ke arahnya.
"Fokus saja dengan apa yang kau lakukan."
__ADS_1
"Aku mengerti."
Ada sebuah pintu menuju dapur dan di dalamnya ada pintu lagi yang akan kami masuki, aku merasakan hal aneh di dalamnya dan berkata ke arah pria yang menunjukannya.
"Apa ada seseorang di dalamnya?"
"Tidak, semua pekerja selalu bekerja di depan."
"Liz mendekatlah pada tembok dan kau buka pintunya saat hitungan tiga."
"Aku mengerti."
Aku menciptakan granat asap di tanganku.
Saat aku selesai menghitung tiga, pria yang kusuruh, membuka pintu dan aku melemparkan granat di tanganku masuk ke dalam ruangan sebelum akhirnya pintu di tutup kembali.
"Apa yang barusan itu?"
"Cuma gas tidur."
Ketika pintu dibuka dua pria di dalam jatuh ke lantai tak sadarkan diri. Liz mengikat mereka dengan baik dan pria dari bar melanjutkan.
"Beberapa hari ini aku kedatangan orang-orang dari Animalia, mereka mengatakan ingin mengambil kota ini untuk diri mereka sendiri dan karena itu mereka menjadikan tempat ini sebagai tempat pertemuan rahasia yang dilakukan tiga hari sekali."
"Apa yang mereka bahas?"
"Aku tidak tahu jelas, tapi mereka hanya bilang butuh kota ini untuk menjalankan rencana selanjutnya.. apa mungkin Animalia sedang berusaha untuk menginvasi Elysium mengingat bahwa fraksi naga kehancuran telah lenyap."
Berita ternyata lebih cepat menyebar dari yang kubayangkan.
"Aksa?"
Menanggapi panggilan Liz aku melihat bahwa dua orang yang diikatnya telah tewas dengan mulut berbusa.
"Mereka bunuh diri dengan menggigit racun yang ditempelkan di lidah mereka," ucap Liz menjelaskan.
__ADS_1
Masalah ini lebih serius dari yang kuduga.