
Sesuai yang kuduga aku telah berhasil melangkah ke final tanpa kendala, beberapa orang dilemparkan dengan sihirku ke luar arena sementara sisanya aku memukul mereka hingga tumbang, kini adalah pertandingan terakhirku melawan pria yang selama pertandingannya menggunakan otot.
Pertandingan dimulai saat aku menguap lebar, si pria otot mengirimkan tinjunya ke arahku yang mana kutahan dengan satu tangan.
"Mustahil."
Pria itu menjaga jarak untuk mengirimkan beberapa pukulan lanjutan, di dunia ini otot bukanlah sesuatu yang terpenting dalam pertarungan melainkan teknik sihir, dengan mengalirkan mana ke telapak tanganku serta memusatkannya di sana, aku telah memperkuat diriku sendiri dalam beberapa detik.
Ketika pria itu lengah kukirim tinjuku yang mana membuatku menjadi pemenang dalam pertandingan ini, semua orang bersorak senang saat putri sendiri yang akan memberikan hadiahnya.
Aku menerima uang yang dijanjikan, bersamaan itu.
Boom!
Ledakan terjadi dari luar arena ini.
"Orang-orang terlihat bertanya-tanya sampai mereka semuanya tiba-tiba tertidur, aku mengalihkan pandanganku ke arah nona Heliet yang tampak telah membuat sihir pelindung di sekitar sini. Dia menatap balik padaku lalu mengangguk sekali yang mana membuatku bergegas ke luar arena.
Nona Heliet sudah tidak bisa bertarung lagi dalam kondisinya yang sekarang karena itulah, aku yang akan menggantikannya untuk menyelamatkan kota ini, ledakan terus terjadi di segala arah bersamaan Boar yang entah muncul dari mana.
Dengan sedikit sihir api aku membakarnya dan seketika itu juga mereka menjadi kristal berwarna gelap, binatang iblis memiliki perbedaan mencolok dengan para monster dimana tubuh mereka akan berubah menjadi kristal saat berhasil dikalahkan.
__ADS_1
Kulihat beberapa kesatria sedikit dalam masalah karena itu aku membantu mereka dengan sihir penyembuh maupun sihir penguat. Aku melompat ke atap bangunan lalu berlari di antaranya.
"Kota ini dalam sekejap bisa hancur seperti ini, seseorang pasti mengendalikan para Boarnya."
pandanganku teralihkan pada Boar yang jauh besar yang tengah bertarung dengan Richard.
Richard menarik pedangnya lalu menebaskannya setelah mengambil jarak beberapa langkah ke belakang. Boar itu tidak merasa terganggu dengan gerakan pedang tersebut dan terus menyeruduk apapun di depannya.
Richard menghindari dengan baik meskipun beberapa bangunan di belakangnya hancur menyisakan puing-puing yang berserakan. Aku melompat ke dekatnya.
"Aksa."
"Kau tak apa?"
"Mari serang bersama-sama."
"Aah."
Si Boar raksasa mencangkul-cangkul tanah dengan kukunya kemudian melesat ke arah kami berdua, aku lebih dulu berlari ke depan mendahului Richard.
"Akan kuhentikan gerakannya, kau serang dengan kekuatan penuhmu.'
__ADS_1
"Aku mengerti."
Aku membuat dua lingkaran sihir dengan magic Script, tanpa merapalkan apapun, kubuat sihir tanah berbetuk tangan yang menjerat keempat kaki boar.
"Sekarang," kataku, membuat Richard berlari melewatiku dari samping kemudian pedang yang digenggam kedua tangannya bersinar terang.
Saat dia mengayunkannya itu menghasilkan jalur yang membekukan apapun yang dilewatinya.
"Ice Blade," teriak Richard.
Tubuh Boar itu terbelah dua lalu membeku menjadi kristal es sebelum akhirnya hancur berkeping-keping.
"Sihir yang bagus."
"Tidak, sihir Aksa yang jauh lebih hebat."
Sebuah tepuk tangan terdengar dari puing-puing yang berjatuhan, kulihat sosok pria berjubah hitam berjalan mendekat dengan kumpulan orang-orang berbaris di belakangnya.
"Yooooiiiii, aku tak menyangka ada orang yang bisa melawan binatang iblis yang kupanggil."
Ada apa dengan orang ini?
__ADS_1
Dia berputar-putar beberapa kali kemudian melompat-lompat dengan gerakan balet.
"Lalala lalala. Tarian yang sangat indah.. namaku Dominic seorang Oracle pemuja Dewi Jahat haha salam kenal untuk kalian berdua."