
Ada semacam benteng yang dibuat dari kayu, tempat ini memang jauh dari kota di mana panti asuhan berada.
Saat aku turun dari kereta beberapa orang menghampiriku, diantara mereka ada tiga orang yang sangat kukenal baik yang tanpa pemberitahuan melompat ke arahku hingga aku terjatuh.
Aku mengerenyitkan alis.
"Kalian bertiga."
"Lama tak bertemu guru."
"Aah."
Ketiganya adalah orang yang ingin kutemui.
Pertama ada Lucia, Lucia memiliki rambut merah sebahu dengan pedang di punggungnya berjob swordman.
Kedua ada Claudine seorang pendeta, ia memiliki rambut pirang dengan tongkat besi yang selalu dia bawa kemanapun berada.
Dan ketiga seorang pemanah Lauren, seperti saat aku bertemu dengannya dia masih mengikat rambutnya bergaya ekor kuda.
Sudah sejak lama aku bertemu dengan mereka.
Lucia mengulurkan tangannya untuk membantuku.
"Apa yang membuat guru datang kemari?"
"Banyak hal... khususnya soal."
Kami semua mengarahkan pandangan ke arah Vira yang mana membuat semua orang terkejut.
"Ini aneh, nona Vira yang tidak mau pergi akhirnya datang kemari."
"Benar sekali."
__ADS_1
Claudine dan Lauren mengutarakan pendapatnya sementara Vira mengembungkan pipinya.
"Orang itu memaksaku pergi kalau tidak ikut dia tidak akan mengembalikan gerejanya."
Mereka semua memiringkan kepala, saat aku masuk ke dalam kawasan wilayah mereka semuanya terkejut saat aku mengeluarkan bangunan panti asuhan.
"Aku membawanya dari kota," kataku ringan.
"Lalu siapa mereka?"
"Aku belum memperkenalkan mereka, yang ini Liz, Naula dan Alyssa mereka anggota partyku."
Liz maupun Naula merangkul tanganku bersamaan Alyssa yang memeluk kakiku.
Claudine yang memberikan tanggapannya.
"Guru sangat dicintai."
"Tak hanya rekan petualang, kami juga memiliki hubungan khusus dengannya."
"Benar sekali."
"Nona Heliet pasti menangis setelah melihat ini, untuk sekarang masuklah kami akan senang mendengarkan semuanya secara rinci."
Kecuali bangunan yang kukeluarkan tidak ada bangunan lagi di sini, hampir seluruhnya dihiasi tenda-tenda besar seolah sebuah perkemahan yang kau bisa kunjungi saat liburan sekolah.
Lauren membawakan kami masing-masing teh yang diseduhnya, adapun untuk Vira ia lebih suka menghabiskan waktunya bersama anak-anak dari panti asuhan yang terdiri dari beberapa ras.
"Jadi begitu, sungguh hal merepotkan tapi kami tidak bisa membantu apapun, kami sungguh minta maaf."
"Tidak perlu dipikirkan kalian berencana membuat desa baru di sini bukan?" balasku pada Lucia.
"Benar, tadinya kami hanya ingin menjauhkan diri dari para penjaga kerajaan, entah kenapa diluar dugaan kami juga bertemu dengan penduduk yang melakukan hal sama hingga pada akhirnya kami berniat untuk tinggal di sini bersama-sama."
__ADS_1
"Begitu, syukurlah.... awalnya aku hanya khawatir dengan keadaan kalian, tapi aku senang bahwa kalian baik-baik saja."
"Tiba-tiba jantungku berdetak kencang apa ini jatuh cinta?"
"Aku juga merasakan hal sama."
"Um."
"Kalian bertiga."
"Hanya bercanda, mari buat sambutan untuk guru kita dan teman-temannya."
"Hoh."
Mereka seharusnya tidak melakukan itu, tapi sulit juga untuk menolak saat mereka mengatakannya begitu senang.
Malam harinya di dekat api unggun semua orang berdansa termasuk aku yang melakukannya bersama seluruh anggota partyku maupun ketiga muridku juga.
Di akhir acara di saat semua orang tertidur karena sebuah minuman keras, aku mengulurkan tanganku pada Vira.
"Heh, kamu mengajakku berdansa.. tapi aku tidak bisa melakukannya."
"Ikuti saja langkahku."
"Jika Aksa bilang begitu."
Aku maupun Vira berdansa secara perlahan.
Aku bisa mendengar suara gembira dari Nermala yang memperhatikan di alam dewi.
(Kalian sangat serasi, sayang kamu tidak mau menikahinya)
Aku hanya membalas dengan senyuman pahit.
__ADS_1
Kami akan melanjutkan perjalanan kami jadi ini hanya salam perpisahan saja.