Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 216 : Hari Damai Seperti Biasanya


__ADS_3

Pagi berikutnya aku dan guruku pergi ke bukit untuk mengumpulkan berbagai tanaman herbal, dalam beberapa hari aku dilarang mengambil quest bersama anggota partyku karena itu aku memutuskan untuk membantu guruku.


Tanaman terbaik adalah tanaman yang tumbuh di alam liar khususnya di tempat yang bagus seperti di atas bukit atau di pinggir sungai yang memiliki udara yang sangat bersih.


Aku melirik guruku yang memiliki penampilan berbeda tanpa jubah penyihir maupun topinya hanya gaun putih berenda.


"Bagaimana penampilanku?"


"Yah kita hanya mengumpulkan tanaman obat, bukannya cukup sulit dengan pakaian seperti itu."


"Fufu aku ingin memakai sesuatu yang berbeda hari ini, bahkan jika Aksa menginginkan aku memakai pakaian pelayan atau hanya mengenakan celemek aku akan melakukannya."


"Itu cukup berbahaya bagi mentalku tolong jangan lakukan."


"Mungkinkah kau menganggapku selama ini hanya sebagai nenek tua."


"Bukan itu maksudku."


Dengan keabadian yang dia miliki dia akan terus terlihat seperti orang diusia dua puluhan selamanya.


Aku memetik beberapa dedaunan yang mana kumasukkan ke dalam keranjang.


"Owh Aksa, aku menemukan jamur yang bagus aku akan memakannya?"


Aku segera menepis jamur itu.


"Ada lagi."


Dan aku terus melakukannya.


"Jangan memakannya."


"Ini jamur yang bagus kau tahu?"

__ADS_1


"Aku ini bukan orang yang sama seperti yang dulu yang tidak tahu apapun, jamur ini membuat siapapun yang memakannya akan terangsang dalam waktu tertentu."


Sementara aku membakar jamur itu nona Heliet mengembungkan pipinya lalu merajuk.


Tingkahnya seperti anak-anak.


"Nanti siang aku harus mengantar obat-obatan ke wilayah pusat kesatria suci di ibukota, Aksa mau ikut?"


"Kurasa itu bukan pilihan bagus, setiap aku datang ke sana mereka selalu mencoba memaksaku untuk masuk ke dalamnya."


"Orang seperti Aksa memang sangat dibutuhkan banyak orang.. apa yakin tidak ingin bergabung dengan mereka?"


"Aku lebih suka menjadi petualang seperti sekarang rasanya aku bebas pergi ke manapun yang aku sukai."


"Begitu, dulu juga aku memikirkan hal sama hingga keluar dari urusan kerajaan... Aksa dan aku memang sedikit mirip."


Setelah cukup banyak mengumpulkan bahan kami berdua duduk di bawah pohon selagi menikmati roti lapis yang dibuatkan oleh Nicol.


"Bagaimana kalau Aksa membaringkan kepala di pahaku."


"Bantalan paha bukan yang bisa diberikan pada siapapun dengan mudahnya."


"Tentu saja aku tahu, karena itulah bagiku Aksa yang special, aku memaksa."


"Kalau begitu aku menerimanya dengan baik."


Selagi memainkan rambutnya, Heliet berkata.


"Sebelumnya aku belum mengatakannya tapi Aksa terima kasih banyak, tak hanya menjadi muridku, Aksa bahkan membawa guruku kembali Vivia juga berfikiran sama. Aku selalu yakin saat pertama bertemu bahwa aku tidak boleh melepaskanmu bagaimanpun caranya."


"Itu malah terdengar menakutkan," kataku demikian.


Aku bisa mengingat saat pertama kali aku bertemu dengan guruku. Tepat saat aku memikirkannya suara lain terdengar.

__ADS_1


"Kupikir semua orang selalu terikat dengan takdir, hanya saja saat takdir itu datang jalan seperti apa yang akan kita ambil akan menentukan semuanya."


Suara itu berasal dari Vivia yang berdiri selagi bersandar di pohon.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Nona Heliet.


"Aku sempat melihat kalian berjalan kemari, kupikir akan terjadi hal seru jadi aku memutuskan untuk mengikutimu bersama yang lainnya."


Hal seru kah?


"Yang lainnya juga?"


"Ada aku."


"Dan aku juga."


Yang dimaksud adalah Alma dan Lesoria.


"Kalian semua?"


"Aku bertanya-tanya kapan adegan ciumannya terjadi, bukannya ini pertunjukan romantis."


"Tidak ada hal seperti itu," bantahku pada pernyataan Lesoria.


Namun guruku setuju dengannya.


"Mari lakukan."


Aku mendorong wajahnya yang terus mendekat ke arahku.


"Awawa... aku sudah dewasa sebagai putri, aku bisa melihatnya."


Aku akan senang jika Alma tidak dekat-dekat dengan mereka bertiga.

__ADS_1


__ADS_2