
Karena khawatir aku dan Sirius mengikuti gadis bernama Avelin kemanapun dia pergi. Avelin adalah gadis yang sebelumnya menabrakku dan kini dia pergi ke warung untuk membeli beberapa bahan makanan yang nantinya dia olah sendiri.
Avelin sebelumnya adalah gadis yatim piatu yang kebetulan terdampar di dekat menara, dia memutuskan membuat kedai sendiri di lantai pertama yang cukup memenuhi hidupnya sekarang.
"Sebagai ucapan terima kasih, aku akan membuatkan makanan untuk kalian berdua desu, apa yang kalian inginkan?"
"Daging panggang," jawab Sirius tanpa ragu.
"Selagi semuanya enak, aku tidak masalah."
"Itu terdengar seperti aku menyajikan makanan tidak enak."
Aku hanya tersenyum masam sebagai balasan.
Avelin mulai memilah-milah barang yang diinginkannya sampai semua itu berada di kedua tanganku.
"Ini sangat berat, Sirius bantu aku?"
"Master harus malu karena menyuruh seorang gadis secantikku untuk mengangkat barang."
"Apa boleh buat, aku sendiri yang membawanya."
Setelah berputar-putar sebentar kami sampai di kedai yang dimaksud, kedai itu terlihat sederhana dan hanya menampung sedikit pembeli setiap harinya.
"Kedaiku buka saat sore hari sampai malam, aku masih memiliki banyak waktu menyiapkan makanan untuk nanti."
Aku dan Sirius masuk ke dalam kedai tersebut, bagian atas adalah ruangan pribadi Avelin karena itu kami dilarang untuk naik ke atas dan menunggu di dapur.
Beberapa saat kemudian Avelin muncul dengan celemek imut melekat di tubuhnya.
"Bukannya seharusnya kau melepaskan tudung kepalamu dulu?"
"Aku tidak ingin melakukannya desu, kau mungkin akan jatuh cinta padaku."
__ADS_1
Sirius memotong.
"Master sudah jatuh cinta mati padaku, dia bahkan terus bersujud padaku cuma ingin tidur bersamaku."
Aku menjitak kepalanya.
"Sakit.,"
"Bukannya kaulah yang seperti itu."
"Aku tidak ingat."
Avelin yang memperhatikan hanya bisa tersenyum masam lalu segera memasak untuk kami. Dia terlihat mahir menggunakan peralatan masak bahkan dia juga sesekali memamerkan atraksi yang cukup memukau.
"Aku sering melakukan hal ini untuk menghibur pelanggan, bagaimana menurut kalian?"
Aku dan Sirius bertepuk tangan, tentu pandangan Sirius tetap datar seolah terlihat mengejek. Aku akhirnya menarik kedua pipinya agar bisa tersenyum.
"Aku imut, Master selalu mengatakan itu."
"Begitu... mari coba masakanku sekarang."
Kami mencoba masakannya.
"Enak sekali, daging yang lembut seolah meleleh di dalam mulutku terlebih rasa dari rempah-rempah seketika menciptakan keharmonisan yang sangat sempurna."
"Itu artinya kau menyukainya desu."
"Tepat sekali."
"Ieni Eaneak sekoeli."
"Telan dulu sebelum berbicara," kataku pada Sirius.
__ADS_1
Setelah jamuan itu aku dan Sirius kembali ke penginapan Natalie, tampak Kazel sedang menyapu halaman depan, ekspresinya tampak murung.
"Kau sudah pulang Aksa?"
"Aku barusan cukup bersenang-senang di kota."
"Aku iri, aku malah harus melakukan tugas seperti ini."
Ini adalah hukuman dari Vivia untuknya soal hutang.
Aku mengambil sapu dari tangannya.
"Aksa?"
"Biar aku yang menggantikanmu hari ini."
"Terima kasih Aksa, kalau sempat aku akan pergi ke kafemu."
"Aah."
Aku mulai menyapu halaman sementara Sirius duduk di balkon selagi menikmati teh di tangannya, Natalie muncul dengan sepiring kue dango yang dia letakkan di dekat Sirius. Aku segera meraihnya tapi terlambat, tangan Sirius lebih cepat dariku.
"Aku juga ingin memakannya cepat bagi."
"Sudah habis."
Mulut Sirius berubah menjadi ikan buntal yang mana membuat Natalie tertawa kecil.
"Aku akan buatkan lagi nanti untuk Aksa."
"Benarkah, entah kenapa Natalie makin hari semakin cantik."
"Bisa saja, aku sudah berumur loh," kata Natalie tersipu malu.
__ADS_1