
Aku melompat ke bawah saat Meliana selesai mengintrogasi salah satunya dan membiarkannya melarikan diri.
Tentu aku tidak begitu, kuayunkan pedangku dan itu menembus tubuhnya hingga tumbang ke tanah.
Seseorang tidak akan mudah berubah begitu saja, jika pun kami meloloskan orang ini, tidak ada jaminan dia tidak terlibat dengan hal kriminal seperti ini lagi.
"Seperti biasa, kau tidak ada rasa ampun."
Aku mengabaikan ucapan Meliana untuk bertanya hal yang lebih penting.
"Bagaimana?"
"Mereka bersembunyi di pinggiran kota ini, sayangnya seperti yang kukatakan mereka hanya serikat penjualan orang."
"Begitu."
"Hey, Ayumi kau mau kemana?"
"Karena dekat aku akan menghabisi mereka."
"Suka seenaknya."
Aku dan Meliana menuju bangunan tersembunyi di pinggir kota, saat kami tiba semuanya sudah terlambat, semua orang di dalamnya telah mati kecuali seorang yang duduk di atas meja.
"Heeh, ada yang datang lagi, apa kalian anggota mereka? Kurasa bukan, jangan khawatir... semua wanita di sini sudah aku bebaskan, mereka sudah melarikan diri."
Yang duduk di sana adalah seorang wanita bertubuh mungil dengan pedang besar di tangannya, ia mengenakan topeng putih dengan jubah hitam sementara rambut pirangnya di potong sebahu.
Aku menarik satu pedang mengarahkan ujungnya padanya.
"Siapa kau?"
__ADS_1
"Namaku Nene, salah satu dari sembilan pengguna pedang iblis... Benar juga, sekarang aku bekerja untuk organisasi bernama Kagutsuchi."
"Kagutsuchi? Organisasi apa itu?"
"Bukannya lebih baik memperkenalkan diri kalian dulu."
"Namaku Ayumi, sekarang jawablah pertanyaanku."
Nene mengangkat bahunya lemas.
"Tidak sabaran, Kagutsuchi adalah organisasi yang bertujuan membuat dunia baru setelah menghancurkan dunia yang lama, aku disuruh mencari anggota baru tapi tak kusangka orang-orang di sini begitu lemah, apa kalian tertarik?"
"Sayangnya tidak, mari pergi Meliana."
"Kau membiarkannya begitu saja," ucapnya terkejut.
"Dia bukan lawan yang mudah kita kalahkan, aku sudah cukup lelah untuk melayaninya."
Prang.
Dengan sekali gerakan aku telah berada di depan Nene selagi mengayunkan pedang yang ditahan dengan baik olehnya. Gerakan itu menghasilkan ledakan angin yang menghancurkan bangunan di sekelilingnya hingga hancur tak tersisa.
"Apa-apaan ini?" teriak Meliana yang terhempas ke langit.
Aku hanya fokus dengan sosok di depanku yang dengan santai menggunakan pedang besarnya.
"Matamu itu sangat mengerikan."
Kedua mataku telah berubah menjadi semerah darah, sebelum aku akan mengayunkan pedang lainnya seorang lebih dulu memotong.
"Cukup sampai di situ, kalian berdua."
__ADS_1
Kami berdua segera menengok ke arah datangnya suara dan itu berada di bawah kaki kami berdua, tepatnya sebuah kepala.
"Tidak ada dari kalian yang mengenakan rok pendek, sulit untuk mengintip kalian berdua... wanita jaman sekarang pantasnya menggunakan pakaian seperti itu."
"Apa yang kau lakukan di sini Shinji?"
"Aku ini atasanmu loh tolong bicara lebih lembut."
"Berisik."
Aku segera mundur ke belakang, sedangkan Nene menginjak orang bernama Shinji itu hingga beberapa kali.
Dia juga mengenakan topeng jadi sulit mengetahui wajahnya.
"Sakit, sakit, kenapa kau melakukan ini?"
"Ini karena ulahmu sendiri, muncul dari tempat yang aneh"
Shinji naik kepermukaan tanah menampilkan seluruh tubuhnya, dia mencengkeram kepala Nene.
"Maaf atas keributannya, kami hanya mencoba merekrut banyak orang untuk bergabung, apa kau ingin ikut bersama kami?"
"Sudah kukatakan aku tidak tertarik."
Aku memasukkan pedangku kembali ke dalam sarungnya lalu berbalik selagi berkata.
"Tugasku sekarang hanyalah memburu penyihir, mungkin lain kali aku akan memburu kalian."
"Wanita yang menakutkan, kalau begitu sampai nanti."
Keduanya menghilang dalam sekejap.
__ADS_1