
Para makhluk bencana telah dibombardir dengan segala serangan semua orang, sementara itu kami berempat menyerang penyihir kegelapan secara bergiliran.
Ada Jeanne dan Lesoria di antara para petualang yang menghadapi makhluk bencana, aku jelas sudah tidak harus mengkhawatirkan mereka.
Meliana dan Nona Heliet menggunakan sihir mereka dari jarak jauh sebelum beralih menjadi pertarungan jarak dekat bersama aku dan Vivia.
Penyihir kegelapan memblokir serangan pedangku dan Vivia sebelum dilanjutkan dengan pukulan guruku dan Meliana.
"Kerja bagus Aksa," ucap Vivia memujiku.
"Pedangku tidak menebasnya."
"Paling tidak kau bisa mengalihkannya agar terkena pukulan Meliana."
"Sudah kubilang panggil aku guru."
"Bukan waktunya bertengkar," potong nona Heliet memperingati dan kami terus menyerang penyihir kegelapan yang menggunakan sihir kegelapan.
Itu menerbangkan kami ke segala arah.
"Masih lemah seperti yang kuduga bahkan empat lawan satu masih tidak sebanding denganku."
"Ini masih permulaan, saat kau tersegel kami selalu berkembang untuk menjadi kuat, dengan kekuatan Aksa kami juga akan bisa melenyapkanmu."
"Heliet Ladeosfa kau sudah tua, meski kau terlihat muda kau dengan dua yang lainnya sudah lebih dari seorang nenek-nenek berumur ratusan tahun."
"Aku akan tetap berumur belasan tahun."
Itu sebenarnya pernyataan yang tidak harus dibahas di tempat ini, Meliana dan Vivia menyerang duluan kemudian di susul Nona Heliet.
Aku mengganti pedangku dengan sebuah senapan jarak jauh, saat celah berhasil mereka buka tembakanku mengenai bahu penyihir kegelapan membuatnya terdiam di tempat, Vivia legal mengayunkan pedangnya namun itu bisa dihindari sebelum Vivia ditendang menjauh bersama yang lainnya.
Melihat bagaimana senjataku cukup ampuh padanya penyihir kegelapan jelas tampak kesal.
"Apa yang kau lakukan?"
Aku melemparkan satu peluru ke udara lalu memasukannya ke dalam senapanku.
"Aku sudah menduga bahwa aku akan berhadapan denganmu karena itu aku menggunakan peluru yang sangat special."
Tembakan lain berusaha mengenainya namun dia berhasil menghindarinya dengan mudah, semua orang melirik ke arahku menuntut penjelasan.
"Peluru yang yang mengenai tubuhmu kubuat di alam dewi bahkan jika kau abadi itu bisa membunuhmu."
"Kau pasti bercanda, kau bukan dewa, kau manusia."
"Tentu saja aku manusia, dewa ataupun dewi tidak diperbolehkan untuk mengurusi dunia secara langsung."
__ADS_1
"Tidak masuk akal."
Penyihir kegelapan menciptakan lingkaran sihir raksasa dan dari sana sebuah semburan api hitam menerjang ke arahku.
Aku berkata pada Mai.
"Tak perlu menahan diri untuk pertarungan ini, Mai."
"Laksanakan tuan."
Rentetan sihir muncul di depanku, aku mengarahkan tanganku dan berkata.
"Hell of the Abyss Total Annihilation."
Kedua serangan itu saling bertubrukan di tengah dan menyapu seluruh bangunan di sekelilingnya dengan sebuah angin kencang.
Penyihir kegelapan memiliki ekpresi sulit tapi mau bagian lagi aku sudah berlatih demi mengalahkannya sejak awal, bagaimana kerasnya para dewi melatihku tidak akan aku siakan begitu saja.
Melihat para makhluk bencana berjatuhan, penyihir kegelapan kehilangan kata-katanya, dia hendak melarikan diri namun di sana Nona Heliet menghentikannya dengan sihir pengikat bersama Meliana, dan di saat yang sama Vivia legal melesat maju lalu menusukan pedangnya tepat di jantung penyihir kegelapan.
Alasan dulu dia tidak bisa dihabisi karena dia abadi tapi sekarang berbeda, Vivia legal melepaskan pedangnya dan berteriak ke arahku.
"Aksa lakukan."
"Dengan senang hati."
Aku membidik lalu menambahkan sihir suci dari energi dewi saat menarik pelatuknya.
"Manusia tidak selemah yang kau pikirkan setiap harinya kami terus bertambah kuat, jika dunia hanya ditentukan oleh kau maka lupakan saja, semua orang memiliki jalan untuk memilih takdirnya sendiri."
Peluruku menembus tubuhnya, perlahan penyihir kegelapan mengeluarkan cahaya hingga dia berlari ke arahku berusaha menjangkauku.
"Sialan kau."
Tepat tangannya berada di depanku dia seutuhnya menjadi debu.
Aku menghela nafas lega dan ketiga orang yang membantuku segera memelukku erat.
"Kalian bisa tidak memelukku terlalu lama, kalian semua terasa lembut."
Tidak ada yang menghiraukan perkataanku, aku melirik ke arah pertarungan yang lain di mana makhluk bencana tumbang secara bergiliran Yap, ada Nene dan Asterio juga di sana, kendati demikian kota hancur adalah bayaran untuk semuanya.
Jelas pekerjaan lain untukku di lain hari.
Aku tersenyum masam memikirkan aku yang harus bekerja lembur.
Tiga bulan berikutnya di antar semua orang aku berpamitan pada yang lainnya, nona Heliet tampak menangis namun ini adalah bayaran yang harus kulakukan.
__ADS_1
Aku mendapatkan kekuatan dari para dewi dan sekarang ketika masalah di sini selesai maka sudah waktunya aku juga menyelesaikan masalah di dunia para dewi yang melatihku.
"Maaf aku harus pergi tapi aku berjanji akan kembali secepatnya yang kubisa."
"Janji yah."
"Tentu saja, jaga diri kalian."
"Aksa juga, kami selalu menunggumu."
Aku berpelukan dengan mereka sebelum mereka melambaikan tangan untuk mengantarkan kepergianku.
Aku berjalan meninggalkan kota dan melihat di sana Yu'er bersandar di pohon menungguku.
"Sudah siap pergi, mulai dari sini aku yang akan menemanimu lagi Onii-chan."
"Aku merasakan firasat buruk tapi itu lebih baik dibandingkan pergi sendirian."
"Haha baguslah kalau kau mengerti."
"Tuan tidak sendirian ada aku juga."
"Benar juga ada Mai, Yu'er kau bisa kembali."
"Mana mungkin begitu aku sudah membuat jadwal kencan bersama Onii-chan jadi tidak bisa dibatalkan."
"Sudah kuduga."
Kami berdua berjalan bersama di jalanan setapak.
"Berkat Onii-chan kini dunia ini sudah damai, para dewi utama mengelola dunia ini kembali dan para pengikut kembali jalur yang benar."
"Aku senang mendengarnya."
"Benar juga, wanita bernama Ruri cukup sedih tapi dia akan terus menunggumu sampai kapanpun bersama yang lainnya juga."
"Senang mendengarnya juga."
"Dengan kemampuan Onii-chan cukup satu tahun lebih untuk menyelamatkan semua dunia itu."
"Lalu bagaimana soal Marine dan Sirius?"
"Aku sudah mempromosikan mereka, sekarang mereka memiliki dunia yang harus diawasi juga."
Aku tersenyum sebagai balasan dan sebuah gerbang raksasa muncul di depan kami yang mana akan membawa kami ke setiap dunia.
Petualanganku masih berlanjut.
__ADS_1
Kami berdua menghilang seutuhnya.
Tamat.