Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 111 : Asal Usul 12 Dewa-Dewi Jahat


__ADS_3

Ini adalah sebuah alam Dewi yang sering kukunjungi, berbeda dari sebelumnya bukan aku yang datang kemari melainkan Dewi Nermala sendiri yang mengundangku datang.


Di beranda rumah aku bisa melihat berbagai pulau terapung membentuk sebuah pola dari rasi bintang yang kuketahui. Masih terkesima akan keindahan itu Dewi Nermala muncul dari arah belakangku dan ia dengan senang menaruh beberapa kue dango serta teh hijau untuk kami berdua nikmati bersama.


Selagi merasakan hembusan angin yang menerpa wajahku, aku bisa merasakan betapa enaknya makanan manis ini serta sensasi teh hangat yang menenangkan.


"Bukannya kita seperti suami istri," atas perkataan Dewi Nermala tanpa sadar aku menyemburkan air teh dari mulutku.


"Hati-hati."


"Maaf."


Dengan lembut dia membersihkan mulutku dengan sapu tangan miliknya.


"Saat Aksa meminta untuk bisa bebas bertemu denganku, aku pikir kau ingin meniduriku atau berbuat hal aneh-aneh dengan dadaku, tapi jika kau menganggapku cuma seperti seorang ibu aku menolaknya."


"Heh, tapi menurutku itu cocok denganmu Dewi."


"Bukan Dewi tapi Nermala, mulai sekarang biasakan untuk memangilku begitu."


"Itu bukannya."


"Ini perintah."


"Aku mengerti," kataku lemas lalu melanjutkan.


"Jika aku tidak bisa menganggapmu sebagai ibuku lalu apa?"


"Itu pertanyaan bagus, bagaimana jika istri."


"Ugh."

__ADS_1


Aku terkena damage yang luar biasa.


"Kekasih."


"Ugh."


"Untuk sekarang teman saja."


Itu melegakan, secara tiba-tiba seperti ini membuatku kesulitan bernafas karena shock.


"Jadi kenapa Nermala mengundangku kemari?"


"Itu karena para Dewa-Dewi jahat telah seutuhnya dibangkitkan, aku terkesan sampai sekarang Aksa tidak pernah menanyakan hal seperti darimana asal mereka padaku."


"Aku hanya berfikir Dewi seperti tidak ingin mengatakan sesuatu tentang mereka, bahkan ketika aku memiliki Sirius di sampingku rasanya aku tidak ingin menanyakan hal itu juga padanya."


"Begitu, kau belum siap mendengar apa yang seharusnya tidak ingin kau dengar tentang dunia yang kau sukai sekarang."


"Jika aku mengatakannya, apa kau sudah siap mendengarnya?"


"Aku sudah siap untuk mengetahuinya."


"Begitukah, di mana aku memulai... Sama seperti yang sekarang kita tahu dunia itu memang seperti itu keadaannya, dulu ada tujuh Dewi utama yang mengelola dunia tersebut termasuk aku di dalamnya, mereka adalah Athena, Aphrodite, Micel, Iris, Diona, Haniel dan tentunya aku sendiri Nermala.


Suatu hari kami membuat sebuah pertemuan yang membahas tentang bagaimana untuk menyelesaikan konflik yang tengah terjadi, kami sudah mencoba mengirim pahlawan untuk mengatasinya namun semuanya gagal hingga membawa dunia ini semakin terpuruk, sampai akhirnya kami mengajukan sebuah pertaruhan."


"Pertaruhan?" tanyaku heran.


"Benar, kami memberikan kekuatan yang setara dengan Dewa Dewi kepada manusia di dunia tersebut."


"Dengan kata lain bahkan Sirius juga manusia awalnya."

__ADS_1


"Benar sekali, awalnya kami para Dewi berfikir bahwa mereka akan memilih jalan untuk menyelamatkan dunia mereka sendiri akan tetapi hal itu jauh dari apa yang kami pikirkan, seiring kekuatan besar manusia cenderung melupakan hal baik yang mereka ingin tempuh, dan kesombongan menelan mereka dalam kegelapan, bukannya memperbaiki dunia mereka semua semakin memperparahnya."


Nermala menyeruput tehnya sesaat lalu melanjutkan.


"Kami yang sudah tidak memilih jalan akhirnya memutuskan untuk menghancurkan dunia itu dengan kekuatan tujuh Dewi Utama."


"Bukannya Dewi dilarang untuk terlibat."


"Ini pengecualian, banyak pembunuh serta kejahatan yang terus menjalar di dunia itu, jika kami membiarkannya itu sama saja kami telah gagal menjadi Dewi.. Hal ini bisa dilakukan dengan persetujuan semuanya. Namun saat itu aku tidak sengaja melihat sosok Meliana hingga aku berubah pikiran dan bilang akan bertanggung jawab untuk dunia itu. Kami para Dewi memutuskan untuk menyegel seluruh Dewa-Dewi yang kami buat ke dalam dimensi lain tanpa menghancurkan dunianya tapi sayangnya beberapa orang malah berusaha membangkitkan mereka, kemudian setelah itu hanya aku yang bertugas mengelola dunia tersebut."


"Apa maksudnya Penyihir Meliana yang kukenal?"


"Benar, kukira dia mampu membawa perdamaian, aku sangat berharap padanya.. Meski terjadi banyak hal padanya paling tidak dia mampu membawa sedikit harapan bagi dunia tersebut, dia mengangkat dua murid yang berbakat bernama Heliet dan Vivia kemudian salah satu dari mereka berdua menjadi gurumu sekarang, dengan kata lain Aksa adalah generasi ketiga yang akan menyelamatkan dunia itu."


"Jika dipikirkan memang begitu, Meliana menyelamatkan dunia dari para penyihir pengguna buku dosa mematikan, Guruku dan Vivia telah menyelamatkan dunia dari penyihir kegelapan dan terakhir adalah aku yang harus menyelamatkan dunia tersebut dari semuanya.


"Maaf melibatkanmu dalam hal sulit."


"Soal itu aku tidak keberatan, aku akan semakin kuat dan merubah dunia yang mengerikan itu menjadi dunia yang jauh lebih baik dari sekarang dan menjadi generasi terakhir yang membawa kedamaian."


"Aksa, terima kasih banyak... Sesekali jika kau lelah aku akan memanjakanmu di sini."


"Sepertinya Anda ingin melakukan hal aneh padaku."


Nermala mengembungkan pipinya.


"Sudah kukatakan jangan terlalu formal," kata Nermala mendekatkan wajahnya selagi cemberut.


"Ah. aku mengerti, kalau begitu aku akan kembali sekarang."


"Oh yah Aksa... aku menyiapkan sebuah kejutan untukmu, aku yakin dalam waktu dekat hal yang kau inginkan akan datang."

__ADS_1


Aku bertanya-tanya soal apa itu, namun saat aku hendak bertanya aku telah kembali ke kamarku.


__ADS_2