Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 314 : Kuil Bawah Laut


__ADS_3

"Jadi bagaimana Aksa?"


"Aku sudah menyalin isinya."


Dengan sedikit sihir, peta yang sebelumnya aku berikan pada Pangli telah ada di tanganku kembali. Dindong yang melihatnya bahkan tak bisa berkata-kata lagi namun akhirnya dia tahu bahwa aku menggunakan sihir.


"Kurasa besok kita harus pergi ke sana lebih dulu dibandingkan mereka," kata Chunhua yang mana kami balas dengan anggukan kecil.


Pagi berikutnya sebelum matahari terbit aku membangunkan Yu'er yang tidur di sampingku.


"Bangunlah."


"Onii-chan apa sudah pagi?"


"Pagi jidatmu, kau menyelinap kemari lalu tidur seenaknya... kita harus pergi sekarang."


"Baiklah."


Aku dan Yu'er hendak keluar dan menemukan bahwa Chunhua dan Dindong pun telah menunggu kami.


"Kalian bangun lebih awal," kataku yang menarik tangan Yu'er.


"Kami tidak ingin ditinggal," balas Chunhua.


Sepertinya mereka tahu apa yang kupikirkan, tadinya aku ingin membuat mereka menyusul nanti tapi kupikir sudah terlambat untuk melakukan itu.


Kini kami berada di pesisir pantai yang dingin di mana di tengah laut itu adalah lokasi yang kami ingin masuki.


Untuk pergi ke sana kami tidaklah masuk ke dalam laut begitu saja, melainkan melalui sebuah portal yang berada di garis pantai.

__ADS_1


Portal itu berbentuk hexagon yang menyerupai sebuah altar. Ketika kami berdiri di atasnya kami dipindahkan ke sebuah taman yang seluruhnya di selimuti oleh bola transparan di dalam air.


Di sana bukan hanya sebatas lahan kosong yang diisi oleh tumbuhan atau berbunga-bunga, melainkan sebuah istana yang menjulang besar dan tinggi.


Menurut Dindong.


Di tempat itu adalah labirin, setiap ruangan berjumlah ribuan pintu dan dipenuhi jebakan, sangat sulit mengetahui ruangan mana tanpa sebuah peta.


Tanpa menunggu lagi kami berempat masuk dari pintu depan, aku sekali lagi memeriksa peta, di dalam sana hanya dituliskan letak lokasi warisan tidak dituliskan jebakan seperti apa yang menunggu.


Aku menciptakan batu lalu melemparkannya ke tengah lorong dan dalam sekejap batu itu tenggelam bagaikan lumpur hisap.


"Mari pergi ke jalan lain."


"Baik."


"Berjalan-jalan dengan Oni-chan seperti ini sangat romantis."


Dindong menatapku dengan ekpresi suram.


"Kau lolicon."


"Begitulah, aku juga sulit untuk mengawasi keduanya, aku yakin telah terjadi sesuatu yang diinginkan saat aku kecolongan," balas Chunhua.


"Aku rasa begitu."


Aku mengabaikan keduanya.


"Oi, jangan abaikan kami," mereka berteriak secara bersamaan.

__ADS_1


Entah kenapa mereka menjadi akrab dalam sehari.


Kami mengaktifkan jebakan berupa panah namun bagi sihirku, aku bisa melindungi kami semua.


Akan aneh jika aku mati hanya karena jebakan seperti ini. Api menyembur dari dinding dan aku membekukannya.


Ada laba-laba raksasa yang menyerang kami, aku hancurkan.


Ketika dinding kami tiba-tiba menyempit aku menahannya dengan tanganku dan membiarkan yang lainnya keluar secepatnya.


Sejauh ini tidak berarti banyak.


"Apa-apaan itu? Bukannya kekuatanmu terlalu nge-cheat."


"Apa maksudmu aku hanya pria biasa."


"Tidak mungkin, jika kau pria biasa berarti aku sampah," teriak Dindong.


Chunhua yang menghela nafas segera menenangkan Dindong selagi menepuk pundak serta mengangkat jempolnya.


"Kekuatan Aksa berada di luar pemahaman kita, karena itulah aku sangat senang bisa memanfaatkannya."


"Niatmu sesungguhnya terbongkar tuh," ucap Yu'er menggantikanku sampai kami tiba di ruangan yang menjadi tujuan utama.


Saat pintu dibuka ruangan luar yang dipenuhi harta telah menanti kami, tidak ada bos atau semacamnya jadi semuanya terasa mudah.


Ketiga anggota partyku melompat secara bersamaan lalu bermain-main ditumpukkan harta tersebut sementara aku yang menyaksikan hanya mendesah pelan.


Aku yakin kami telah melewati 100 lebih jebakan dan semuanya aku yang mengatasinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2