
Seiring kami mencoba naik ke lantai selanjutnya maka level tiap monster telah meningkat pesat. Di depan wanita itu seorang pria telah kehilangan kepalanya. Aku yang berada di depannya tanpa ragu menembakan senjata laras panjang meledakan monster tersebut.
"Cepat berlindung dengan yang lainnya."
"Terima kasih."
Monster ini bahkan harus ditembak dengan senjata anti tank. Sementara itu Yu'er mengayunkan kipasnya beberapa kali dan Chunhua meracuni monster yang masih hidup.
Percuma saja, selain kami mereka tidak akan sanggup mengalahkan monster ini, para ahli bela diri telah banyak mati juga.
Wajar saja karena ini lantai 19 maka semuanya terasa sulit. Aku berteriak pada Yu'er.
"Bawa semuanya naik ke lantai 20, aku yang akan mengatasi semuanya."
"Onii-chan serius."
"Aku punya rencana, Chunhua kau juga."
"Aku mengerti."
Aku meletakkan pedangku kembali di punggungku untuk menciptakan dua lingkaran sihir di depanku.
__ADS_1
"Kenapa ada penyihir di sini?" seorang yang berkata itu adalah pria berotot yang mana langsung dijitak oleh Chunhua.
"Berhenti bertanya, cepat ikuti aku dan Yu'er."
"Aku mengerti."
"Trinity of the Flores," sihirku membekukan semua monster sehingga semua rombongan bisa naik ke lantai 20.
Hanya dalam hitungan sepuluh esku pecah dan membuat para monster tersebut kembali bergerak, mereka menyerupai manusia yang berjalan dengan empat kaki serta bulu di punggung mereka.
"Kaisar sebelumnya pasti orang bodoh karena membuat tempat susah seperti ini, jika dia tidak ingin memberikan hartanya jangan membuat orang lain datang kemari," aku mengeluarkan granat cahaya lalu melemparkannya ke arah kurumunan para monster, bersamaan itu aku menembaki mereka sebelum menjatuhkan pistol ke lantai dan memunculkan kembali pistol yang baru.
Dari lantai keluar seorang wanita dengan rambut ular serta gaun panjang, aku menodongkan senjataku padanya.
"Kau cukup kasar menghina kaisar padahal kau menggunakan warisannya.... kau tidak ingin menjawabnya, jadi apa yang kau inginkan hingga menarikku ke luar?"
"Aku tahu kaulah yang memindahkan monster barusan dari lantai terakhir ke sini, apa aku salah?"
"Kau menyadarinya juga rupanya, bahkan jika seseorang melihatku mereka akan jadi batu akan tetapi kau tidak terpengaruh... biar aku perkenalkan namaku, aku Medusa seorang yang diperintahkan untuk menjaga tempat ini dan kau?"
"Aksa, seorang penyihir."
__ADS_1
Mendengar jawabanku dia tertawa.
"Penyihir, jangan konyol kau bahkan melebihi itu... apa kau pahlawan atau semacamnya? Mereka disebut orang-orang yang mengerikan atau sejenisnya."
"Jawab saja pertanyaanku, apa yang ada di lantai terakhir? Dan aku yakin kau bisa membawaku ke sana dengan cepat."
"Haha, kau benar-benar berpikir bisa memaksaku."
"Jangan khawatir aku tidak akan membunuhmu tapi ini lumayan sakit juga."
Aku menembakkan banyak peluru ke arah Medusa saat dia merubah kakinya menjadi tubuh ular, dia menggunakan dirinya untuk memanjat dinding kemudian meluak liuk di antara bebatuan.
Walau disebut menara situasi di sini lebih mirip di dalam gua. Dia menyemburkan nafas dari mulutnya untuk menyelimuti diriku dengan asap tebal.
"Sayang sekali, racun tidak akan berpengaruh padaku."
"Apa kau pikir ini hanya racun?" balas Medusa dan saat dia mengatupkan mulutnya aku meledak hingga terlempar ke belakang.
Dia melingkar di bebatuan yang runcing.
"Ini pertama kalinya aku melihat seorang belum mati saat terkena teknikku."
__ADS_1
"Barusan memang lumayan," aku menyeka darah yang keluar dari ujung mulutku.
Darah mengalir juga dari kedua tanganku, ada bekas terbakar di sana namun dengan sedikit sihir pemulihan aku telah menyembuhkannya.