Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 340 : Melawan Dua Jenderal Pasukan Raja Iblis


__ADS_3

Aku memperberat pedangku lalu menukik untuk mengirim tebasan dari atas, beratnya sekitar 100 kg yang kuarahkan pada wanita pemakai jarum itu.


Dibanding pria di sebelahnya, orang ini lebih merepotkan bahkan saat dia menahan seranganku dia sama sekali tak bergeming.


Tanah di pijakannya hancur membentuk lubang berdiameter 50 meter dengan retakan mirip jaring laba-laba.


"Melawan sesama orang dari dunia lain memang jauh lebih menyenangkan," katanya demikian.


Dia mengendorkan pertahanannya kemudian mencekik leherku sebelum melemparkannya jauh menabrak tiga rumah sekaligus, di saat aku akan bangun sebuah api hitam yang ditembakan bagaikan sebuah laser menerjang ke arahku meski aku bisa menahannya api itu menyebar ke seluruh kota membakarnya bagaikan lautan api.


Orang-orang yang berlarian untuk menyelamatkan diri mereka sendiri.


Tak hanya sebatas Remis sekarang Flan mengirim sihir miliknya yang sama dengan sebelumnya, hanya saja berelemen cahaya.


"Heh, dia bisa menahan seranganku yang barusan."


"Cuma keberuntungan," balas Remis mengejek.


Prang.


Pedang di tanganku hancur berkeping-keping menghasilkan suara seperti bola kaca pecah.


"Haha pedangnya hancur, sungguh menyedihkan," ucap Flan namun reaksi yang kuberikan membuat mereka sedikit kesal.

__ADS_1


Aku berkata ke arah pedang yang telah hancur.


"Terima kasih untuk semuanya, beristirahatlah dengan tenang," jiwa dari istri pertama kaisar sekarang bisa pergi ke alam akhirat.


Selama ini dia terjebak dalam bentuk pedang, dengan hancurnya pedang ini maka dia telah terbebas selamanya. Sekarang mari bereskan dua orang pengganggu ini.


Aku mengulurkan telapak tanganku menciptakan lingkaran sihir dari sana.


"Hell of the Abyss."


Api bagaikan gelombang tsunami meluncur pada keduanya, Remis mengulurkan tangannya juga untuk memanggil api hitam miliknya namun serangan dari sihirnya terdorong ke belakang membuatnya terpental hingga menabrak dinding bangunan.


"Ya ampun, Remis kau kalah dalam adu sihir."


"Begitukah, kalau begitu aku yang giliran menyerang."


Flan menghentakkan kakinya untuk mengirimkan serangan dari jarak dekat, orang ini terlalu meremehkanku.


Kuciptakan pistol ke tanganku lalu menembakinya.


"Percuma saja senjata itu tidak akan berpengaruh padaku."


Seperti yang dia bilang Flan memiliki gerak refleks yang cukup baik, dia memblokir setiap peluru yang berusaha mengenainya kemudian mengayunkan jarum raksasa di tangannya, aku menarik tanganku lalu membalasku dengan sebuah tendangan yang mana ditahan olehnya.

__ADS_1


Dia mendorong tubuhku ke belakang kemudian mempersempit jarak dengan kakinya, mengayunkan senjatanya aku menghindarinya dengan menarik setengah tubuhku ke belakang.


Ujung jarum yang tajam sedikit menggores leherku namun sejauh itu tidak berefek apapun, tubuhku bisa menetralisir racun ditambah dengan sihir penetral ilusi serangan Flan tidak terlalu memberikan dampak berbahaya.


Aku mengarahkan tanganku untuk menembakkan mantra biasa "Fire Bolt" karena aku menciptakan lingkaran sihir dengan beberapa lapis maka meski ini mantra tingkat bawah itu membuat tubuh Flan terpental ke arah Remis saat dia menahannya.


Kecuali dorongan dia juga tidak terluka sedikitpun.


"Sebaiknya kita harus melawannya secara bersama-sama, bagaimanapun dia adalah murid Heliet Ladeosfa," atas pernyataan Remis, Flan mengangguk mengiyakan sebelum akhirnya keduanya melesat maju.


Sebagai penyihir aku ahli dalam serangan jauh karena itulah kedua orang musuhku mengambil cara untuk menyerangku dari jarak dekat, meski aku tidak menggunakan rapalan perlu setengah detik untuk menciptakan lingkaran sihirnya paling tidak mereka berusaha agar sihirku tidak aktif.


Flan menyerang dari depan sementara Remis menyerang dari atas.


Remis menyelimuti kedua tangannya dengan api hitam sementara Flan menyeringai senang.


Aku membuang pistolku untuk bertarung dengan tangan kosong, aku menangkap jarum dari Flan lalu melemparkannya ke samping, Di saat yang sama Remis mengirim tendangan yang kuhindari.


Secara bergantian aku dan keduanya bertarung tanpa henti, beberapa kali menerima pukulan dan beberapa kali mereka juga mendapatkan hal sama.


"Jangan biarkan dia menggunakan sihirnya."


"Aku tahu."

__ADS_1


Kutangkis tangan Remis kemudian kucengkeram dia sebelum membantingnya ke tanah, sebelum aku menginjaknya Flan muncul untuk memberikan tusukan lewat jarumnya yang mana membuatku sedikit mundur menjaga jarak.


__ADS_2