
Meninggalkan penginapan untuk terakhir kali, kami telah tiba di tempat yang dikatakan sebagai markas penyihir.
Tempat itu hanya sebuah gubuk kecil di tengah hutan dan kulihat beberapa orang dengan jubah hitam berkerumun di sekitarnya. Aku tanpa ragu menghajar mereka untuk menanyakan di mana penyihir Oracle serta Dewa yang mereka sembah berada. Namun sayangnya mereka hanyalah gerombolan bandit yang bersembunyi di tempat ini.
Aku menginjak tubuh salah satunya hingga dia mengerang kesakitan, di belakangku Cardina hanya mengawasi dengan kedua tangan menopang Meliana.
"Aku sudah bicara sesungguhnya, penyihir telah lenyap seutuhnya di benua ini. Kudengar seseorang telah mengalahkan Dewa Jahat Hermias."
Pada akhirnya aku memilih menyerah dan memutuskan pergi dari sana. Cardina yang berjalan mengikutiku bertanya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
"Jika di benua ini sudah tidak ada berarti tinggal mencarinya di tempat lain, aku akan pergi ke benua Lemuria dan mencarinya di sana."
Meliana terlihat sangat senang.
"Benua Lemuria, apa kau akan membantuku agar aku bisa memiliki tubuh bahenolku lagi."
"Pastikan kau membalasnya nanti."
__ADS_1
"Tentu saja, aku akan membantumu mengalahkan mereka."
Beberapa hari berikutnya kami telah sampai di Benua Lemuria, bahkan dari pelabuhan aku bisa melihat sebuah menara putih yang menembus ke awan. Aku meminta Cardina untuk terbang ke atasnya namun sayangnya itu mustahil.
Menurutnya ada sebuah penghalang yang mencegah siapapun melakukannya karena itu kami akhirnya memutuskan memasuki menara itu dari awal.
Di lantai satu Menara bernama Arcana aku dikejutkan oleh sesuatu yang tidak kusangka-kusangka. Di tengah kota pertama ada sebuah batu mirip seperti penghargaan di mana di sana tertulis nama orang-orang yang pernah mengalahkan bos setiap lantai sampai lantai 600 dan orang itu adalah Aksa.
Jika nama tersebut ada di sini berarti dia berada di benua ini juga, tanpa sadar aku tersenyum tipis, di saat yang sama Cardina malah menangis.
"Richard juga ada di sini rupanya, kenapa bisa?"
"Ada apa Meliana?"
"Vivia legal itu salah satu muridku... Dia itu sangat bandel dibandingkan Heliet."
Aku tidak menyangka bahwa kami semua mengenal salah satu party Aksa kecuali orang bernama Kazel dan Sirius.
Saat aku ingin bertanya lebih jauh tentang murid Meliana, Cardina memotong.
__ADS_1
"Ada bau naga di lantai pertama, ini sangat mengejutkan."
"Mungkin itu aroma Dewi Naga Freya, bisakah kau menuntun kami ke sana?" tanya Meliana.
"Serahkan padaku."
Kami dibawa oleh Cardina ke sebuah kedai sederhana dimana pemiliknya hanyalah gadis kecil berambut biru yang memakai tudung kucing. Dia hendak membuka kedainya dan langsung berhenti saat melihat kami semua.
"Sebuah kehormatan bisa bertemu Dewi Naga Freya di tempat ini," kata Cardina sopan.
Keheningan terasa di antara kami, gadis kecil itu tampak beberapa kali mengalihkan pandangannya ragu.
"Kau mungkin salah orang, namaku Avelin pemilik kedai ini."
"Tidak, aku tidak mungkin salah... Aroma Dewi memang tercampur dengan aroma manusia akan tetapi setelah melihat dari dekat, aku tidak mungkin salah."
"Dewi naga Freya?"
"Tolong jangan memanggilku seperti itu, panggil saja Avelin.. Mari bicara di dalam "
__ADS_1
Kami semua menyetujui penawaran tersebut, di dalam kedai tersebut Cardina menaruh gelas teh untuk kami semua. Bagi dirinya membiarkan seorang Dewi naga melakukannya itu jelas tindakan yang tidak sopan.