
Di saat yang sama semua orang telah menemui musuh yang sama, Meliana mendesah pelan saat mengetahui musuh yang dia hadapi.
Bahkan di era ini dia masih bertemu pecahan dari penyihir kegelapan.
Musuh di depannya melesat maju dengan gerakan yang sepenuhnya tidak terlihat, Meliana hanya mengambil ancang-ancang kemudian melewati berbagai serangan beruntun tersebut.
"Kau lebih baik dari yang kuingat."
"Meliana?"
Boom.
Meliana menahan pukulannya menghasilkan hembusan angin yang menerpa di sekelilingnya.
"Berbeda dengan kalian setiap manusia akan bertambah kuat seiring waktu, tapi sepertinya kalian sama sekali tidak berubah... Hell Fire," bersamaan perkataan Meliana musuh di depannya terbakar sekaligus menghasilan debu ke udara.
Meliana meletakkan tangannya di pinggang dan bergumam.
"Di banding mereka sepertinya di masa depan nanti kami harus melawan penyihir kegelapan lagi, apa Vivia dan Heliet tahu? Yah mereka pasti tahu."
Sementara itu Jeanne dan Vivia mengambil lompatan jauh untuk mengayunkan pedangnya dari atas, tanpa kesulitan keduanya menghabisi musuh di depan mereka sebelum baju besi mereka menghilang seutuhnya.
Masing-masing telah menghabisi dua orang dan hanya tersisa pertarungan Heliet dan Ayumi saja, Heliet menciptakan panah-panah terbuat dari cahaya mengirimnya bagaikan sebuah peluru menghancurkan musuhnya, begitu juga Ayumi yang mengalahkan musuhnya dengan sebuah tebasan.
Tidak ada yang menyusahkan bagi mereka namun saat itulah bahaya yang sebenarnya telah datang. Dalam sekejap mereka berlima telah dipindahkan ke sebuah dimensi berbeda yang mana seluruh areanya diisi oleh pedang rumput hijau serta patung raksasa yang membawa sebuah timbangan.
"Tempat ini? Kalian juga?" ucap Ayumi.
"Sepertinya orang itu sengaja membawa kita kemari."
Tatapan semua orang tertuju pada seorang laki-laki bertopeng yang duduk di salah satu timbangan, dengan ringan dia membuang topeng di wajahnya menunjukkan mata ular yang melingkar.
__ADS_1
"Namaku Shinji dengan kalian di sini maka aku akan mengalahkan kalian semua, paling tidak aku akan membuat kalian sebagai tumbal."
"Tumbal, akulah yang akan membunuhmu."
Sebuah tebasan pedang meluncur ke arah Shinji tanpa perlu menghindarinya dia menahannya dengan satu tangan lalu berkata.
"Summon magic... Oktopus."
Sebuah asap muncul di tengah pertarungan mereka di mana seluruh tentakel menangkap mereka semua.
Meliana berkata tanpa memperdulikan rekannya yang mengeluarkan suara aneh.
"Wah, wah, kau memanggil makhluk mesum, tentakel ini mulai meraba-raba tubuhku."
"Ini hanya sedikit hiburan."
"Ini sangat menyenangkan sayangnya aku sekarang lebih ingin melakukannya dengan Aksa."
"Sudah kuduga guru juga mengincar muridku."
"Moo... Vivia juga?"
"Begitulah."
Dalam sekejap gurita itu terpotong-potong dan semua orang mendarat dengan aman.
"Sekarang berhentilah bermain-main lawan kami semua, lima lawan satu tidak akan membuat kau mengatakan bahwa ini tidak adil."
"Tidak, bahkan jika kalian ada sepuluh kalian masih belum bisa mengalahkanku."
Shinji melompat ke bawah selagi membetulkan sarung tangannya.
__ADS_1
"Majulah kalian semua."
"Aku mulai."
Jeanne dan Vivia mengambil langkah pertama, keduanya membuat tubuh mereka diselimuti baju besi sebelum mengayunkan pedang dari tangan mereka.
Shinji menghindarinya dengan mudah lalu menangkap kedua pedang tersebut seolah itu bukan hal sulit baginya.
Ayumi meluncur di depannya bersiap untuk menebasnya sayangnya entah pedang atau tubuhnya itu menembus tubuh Shinji.
"Mustahil."
Dengan menggunakan sihir angin Shinji membuat ketiganya terlempar jauh dengan keras, ia mengarahkan tangannya untuk menciptakan dinding pelindung untuk serangan lanjutan.
Entah Meliana atau Heliet keduanya menembakan berbagai sihir berbeda sayangnya bagi Shinji itu bukanlah hal sulit.
Dia menahan serangan maupun membalas mereka tanpa ampun, bahkan untuk Ayumi ataupun Jeanne yang menggunakan roh agung mereka dapat dikalahkan dan hanya bisa terbaring dengan lainnya.
"Bagaimana bisa, orang ini sangat kuat," ucap Vivia mewakili perasaan semua orang.
"Sekarang jadilah pengorbanan yang sempurna."
Sebelum Shinji menghabisi mereka sebuah sosok meluncur dari atas setelah menghancurkan dimensinya, padang rumput sebelumnya telah berubah menjadi hutan sebelumnya.
"Kau?"
"Shinji, akhirnya aku bisa menemukanmu juga."
Di depannya adalah seorang pemuda yang sedang menodongkan senjata di tangannya.
"Bagaimana bisa? Bukannya seharusnya Nene menghadapimu."
__ADS_1
"Aku tidak bertemu siapapun lagi kecuali kau."
"Jadi begitu, dia memutuskan untuk tidak bertarung... biarlah, aku juga sudah cukup mengalahkanmu."