
Kami dibawa ke ruangan tamu dan di sana seorang pelayan bernama Pamela menyeduhkan teh untuk kami semua.
Sirius mengambil satu toples kue untuk dirinya sendiri sementara aku bertanya pada Ruri.
"Apa benar soal itu?"
"Benar tuan Aksa, aku telah menemukan lokasi yang tuan ingin ketahui."
"Syukurlah, aku ingin pergi ke sana secepatnya."
Ruri tersenyum jahil.
"Sayangnya aku akan mengatakannya setelah festival di kota ini telah selesai digelar, apa tuan Aksa tidak keberatan? Aku hanya ingin berduaan denganmu di festival ini."
"Aku tidak keberatan."
"Tapi kami yang keberatan," ucap seluruh anggotaku.
"Akyu jyuga."
"Jangan bicara saat sedang makan," kataku lemas pada Sirius.
"Aku berhak mengambil waktu bersama tuan Aksa... dia adalah kakakku."
Aku yang sedang menyeruput teh langsung tersedak.
"Apa yang kau katakan Ruri, aku tidak mungkin bisa menggantikan posisi.."
"Aku tidak meminta siapapun mengantikan kakakku Richard hanya saja tuan Aksa sudah menjadi kakak keduaku kalau tidak keberatan aku ingin memanggilmu dengan sebutan Onii-chan mulai sekarang."
"Hubungan kalian seperti itu rupanya, kurasa aku tidak perlu khawatir tentang itu," potong Naula.
Kenapa kalian semua merasa lega? Ruri kembali meminta jawabanku.
__ADS_1
"Tuan Aksa? Apa tidak boleh?"
"Aku mengerti, lakukan saja semaumu."
"Kalau begitu Aksa Onii-chan," ucap Ruri tersenyum puas.
Padahal dia bukan anak kecil lagi tapi karena imut aku tidak mempermasalahkannya. Liz bertanya kepadaku setelah diam beberapa saat.
"Ngomong-ngomong sejak tadi apa yang tuan Aksa bicarakan dengan nona Ruri?"
"Sebenarnya ada tempat yang ingin kukunjungi jadi aku meminta Ruri untuk mencari lokasinya."
"Heh, begitukah."
"Tapi kurasa kita akan tinggal di sini untuk merayakan festival, kurasa kalian juga akan menyukainya."
"Tentu saja, kami menyediakan hiburan sangat hebat... benarkan Pamela?"
"Kalau perlu aku juga akan menjadi bagian dari penarinya."
Kuharap dia tidak melakukannya.
"Penari kah, kami juga sepertinya tertarik," tambah Marine mendapatkan anggukan yang lainnya.
Kami diberi kamar paling atas untuk beristirahat, aku meminta kamar untuk diriku sendiri akan tetapi di luar dugaan 50 pelayan wanita di tempatkan di kamarku juga.
Atau sejujurnya hanya ada pelayan wanita di sini dari berbagai usia terlebih jumlahnya lebih dari 100 orang lebih.
"Ini berlebihan."
Mereka semua berjajar di sebelah kiri kananku.
"Kami sudah menyiapkan pemandian air panas untuk tuan, kami juga bersedia untuk mandi bersama Anda jika diperlukan."
__ADS_1
"Tidak, aku sama sekali tidak punya hobi seperti itu."
Aku jelas menegaskan itu.
"Jangan khawatir, kami akan beruntung jika salah satu dari kami memiliki anak dari Anda."
Aku hanya memasang wajah bermasalah dan membiarkan seluruh pelayan menunggu di luar, pemandian ini sangat luas bahkan ini cukup untuk banyak orang di dalamnya.
Ketika aku memikirkannya seseorang berjalan masuk dari arah belakangku.
"Bagaimana airnya Onii-chan?"
"Ini sangat nyaman."
"Syukurlah."
"Ruri?"
"Jangan khawatir aku tidak keberatan jika tubuhku di lihat semuanya... ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Onii-chan."
"Apa soal Naga Fafnir?"
"Sesuai yang diharapkan dari Onii-chan, sebenarnya aku berharap Onii-chan tidak pergi ke wilayah naga, aku tidak ingin kehilangan lagi kakak yang berharga."
Ruri memelukku sebelum melanjutkan.
"Kita bisa tinggal di sini berdua, bagiku ini sudah cukup aku juga bisa berperan menjadi seorang istri untukmu."
Ruri telah kehilangan kakak yang dia sayangi dan neneknya memutuskan untuk tinggal di desa meskipun Ruri sendiri yang memintanya, kini dia benar-benar kesepian.
Aku mengelus rambutnya, walau tubuhnya sangat lembut aku tidak berfikir untuk mengambil kesempatan seperti itu.
Mungkin sudah waktunya aku memberitahukannya sebuah kebenaran dari dunia ini, tak hanya demi Richard ataupun Leonardo ini semua demi semua orang yang hidup di dunia ini.
__ADS_1