Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 60 : Distrik Bangsawan


__ADS_3

Setelah cukup lama berjalan akhirnya kami menemukan sebuah pintu kecil untuk masuk ke dalam distrik bangsawan, pintu itu tidaklah tinggi seperti yang kupikirkan hingga kami harus merangkak demi melewatinya.


Aku membiarkan Tiffany dan Nicol duluan sebelum akhirnya giliranku tiba.


"Tuan, pakaianmu kotor.. akan kubersihkan."


"Tidak usah Nicol, aku bisa melakukannya sendiri."


"Ini sudah bagian tugasku."


"Kalau begitu aku juga."


Aku segera menangkap tangan Tiffany yang terjulur ke arahku.


"Kau ingin menyentuhku di mana?" teriakku.


"Tidak menarik."


Wanita ini lebih berbahaya dari guruku, aku harus terus mengingatkan diriku untuk berhati-hati dengannya.


Di samping itu.


Distrik ini jelas terlihat berbanding terbalik dengan distrik sebelumnya, bisa disebut bagai langit dan bumi.


Setiap bangunannya berdiri tinggi dan megah, kafe maupun restoran berdiri di sepanjang jalan terlebih beberapa penginapan hampir seluruhnya menyediakan pemandian air panas.


"Tidak ada warung-warung di sepanjang jalan, rasanya seperti ini hanya untuk orang-orang kaya raya," ucap Tiffany tersenyum masam.


Dia pernah bekerja di penginapan sederhana mungkin dia sedikit minder dengan tempat mewah seperti ini.


"Mari berkeliling sebentar sambil mengisi perut kita?"


"Itu ide bagus Aksa, aku ingin daging panggang special dengan segelas wine berkualitas tinggi."


"Permintaanmu sangat sulit."


"Apa tidak boleh?" tanya Tiffany dengan wajah imut.


"Apa boleh buat."

__ADS_1


"Yataaa."


"Nicol sendiri?"


"Apapun yang tuan pesankan akan selalu aku makan."


"Yah, kau tidak boleh seperti... mulai sekarang pesanlah yang kau sukai dan tolak apapun yang kau benci... paham," atas pernyataanku Nicol mengangguk setuju.


Dia sangat manis, kalaupun dia ingin meminta dunia aku tidak akan ragu untuk memberikannya.


Aku mengelus kepalanya hingga pipinya memerah sementara Tiffany mengumpat di belakangku.


"Dasar lolicon."


Aku akan pura-pura tidak mendengarnya saja, pilihan kami jatuh ke sebuah restoran megah berbintang lima, para pelayannya menyambut kami bahkan sebelum kami masuk ke dalam restorannya.


"Untuk tiga orang?'


"Ah iya."


Kami menerima kursi di dekat jendela.


Saat melihatnya kami semua terkejut, tidak seperti bayangan kami harganya terlihat normal.


"Anu... apa menunya salah?" tanya Tiffany sebagai perwakilan.


"Salah? Ah, kalian pasti baru di sini... penduduk kota ini sudah makmur kami sudah tidak terlalu memikirkan soal pendapatan, lagipula semua fasilitas di sini hanya ada untuk membantu para pelancong serta turis saja."


Kota ini jelas kota impian.


"Kalau begitu mohon tunggu sebentar, kami akan menyiapkan pesanannya."


"Terima kasih."


Aku memesan makanan seafood, untuk Tiffany dia memesan seperti apa yang sebelumnya diinginkannya sedangkan Nicol nasi goreng dengan bendera di atasnya.


Melihatnya sedang makan membuat perasaan hangat mengalir di hatiku, dia sangat imut.


"Dasar lolicon."

__ADS_1


"Bisakah kau tidak memandangku seperti itu?"


"Terserahlah."


Kami menikmati makanannya dengan tenang sebelum memesan kamar di sebuah penginapan yang tidak jauh dari restoran, ketika Tiffany dan Nicol sudah naik ke lantai dua aku memaksakan diri untuk bertanya pada pemilik penginapan.


"Apa di kota ini ada buku yang yang jarang dimiliki banyak orang?"


"Buku?"


"Aku seorang kolektor buku, aku datang ke benua ini karena mendengar rumor bahwa di sini ada buku yang sangat langka."


"Ah benar, kalau tidak salah aku baru mengingatnya. Lima hari lagi akan ada pelelangan buku di kota ini, mungkin Anda akan tertarik untuk pergi ke sana."


"Begitu, syukurlah aku datang kemari.. terima kasih untuk infonya."


"Apapun untuk pelanggan kami."


Saat aku hendak menaiki tangga dia memanggilku kembali.


"Aku tahu tuan malam ini akan bersenang-senang dengan dua gadis, tapi tolong jangan sampai mengganggu penyewa kamar di sebelah."


Keheningan terasa di antara kami, sampai.


"Tidak, tidak, kau salah paham... kami tidak memiliki hubungan seperti itu."


"Benarkah?"


"Aksa, kau lama sekali.. cepat bawa barang-barangku kemari."


"Berisik, diam sebentar."


"Oh."


Pemilik itu mengepalkan tangannya.


"Anda pelayannya."


"Bukan," teriakku demikian.

__ADS_1


__ADS_2