
Pertama aku menciptakan mansion untuk kami semua kemudian beberapa rumah tambahan untuk para penduduk nantinya, sebelum membuat tembok yang mengelilingi seluruh wilayahku.
Aku bisa membuat tembok besi dengan sihir penciptaanku hanya saja jika kulakukan itu terlihat aneh karena tembok besi merupakan sesuatu yang tidak lazim di dunia ini karena itu aku memilih material biasanya.
Noela muncul dari sampingku dengan penuh kekaguman.
"Kekuatan Aksa memang luar biasa, jadi ini sihir penciptaan."
"Iya, karena kita belum punya penghuni jadi aku hanya membuat beberapa saja."
"Tak masalah, kami juga tidak mungkin membiarkan Aksa melakukannya sendirian, saat kita punya sedikit penduduk kami akan mulai membangun."
Aku mengangguk mengiyakan.
"Tapi wilayah ini benar-benar luas."
"Begitulah, paling tidak kita bisa membuat 12 distrik yang berbeda nantinya."
Itu adalah jumlah yang cukup banyak dalam satu kota, biasanya hanya 4-7 distrik dalam tapi kami memiliki lebih banyak dari itu.
"Kalau begitu aku ingin mengambil distrik 12 khusus untuk para Succubus."
"Succubus? Apa Aksa mau membuat distrik itu menjadi rumah bordil paling besar di kerajaan ini."
"Aku tidak ingin membuat hal seperti itu, aku ingin membuat kota yang bersih dan sehat... hanya saja kupikir jika para Succubus memiliki tempatnya sendiri mereka tidak perlu menjual diri mereka nantinya."
"Ah, jadi begitu.. Succubus kebanyakan tidak memiliki wilayah jadi mereka selalu tinggal di kota-kota asing dan bekerja demi memenuhi kehidupan mereka, kurasa itu ide bagus... rasanya tidak adil juga jika kota ini hanya diisi manusia."
Aku mendekatkan wajahku ke arah Noela.
"Ada apa Aksa? Kau membuatku malu."
"Sebenarnya aku ingin menanyakan satu hal yang selalu menggangguku?"
__ADS_1
"Apa itu?"
"Aku ingin tahu siapa pemilik tanah kota Antares?"
Mendengar itu Noela tertawa kecil.
"Padahal kau sering bersamanya, kukira kau tahu. Dia adalah Kazel."
Aku memasang wajah bermasalah.
"Ada apa Aksa?"
"Tidak, aku hanya syok saja.. pantas saja saat rekan petualang Kazel mengajaknya ke kota lain dia tidak ikut."
"Haha dia pandai menyembunyikan jati dirinya."
"Kurasa benar."
Mungkin sekitar dua jam lagi sampai waktunya tiba.
"Lihat Aksa, menurutmu siapa yang pantas mengenakan pakaian renang diantara kami semua."
"Hmm.. kurasa kalian semua sangat cocok," jawabku pada Ayumi.
Kalau boleh jujur aku memilih Margaret yang mengenakan pakaian renang dewasa. Bagi pria semakin terbuka semakin bagus.
"Aksa sejak tadi terus melirik ke arah Margaret."
"Padaku? Hehe berarti aku menang."
"Jadi tipe Aksa seperti itu, aku juga akan menggantinya."
"Tolong jangan lakukan itu."
__ADS_1
"Aku akan telanjang," ucap Liz memotong dan aku segera menghentikan tangannya.
Mereka tetap sama saja.
Aku menciptakan bola voli untuk mereka mainkan, selagi duduk aku hanya memperhatikan mereka bermain.
Nona Heliet duduk di sampingku selagi meminum minuman dingin yang dia bekukan dengan sihir es.
"Aksa, silahkan ambil."
"Terima kasih."
Kami berbagi gelas yang sama.
"Aku sudah meludahinya."
"Apa?"
"Cuma bercanda."
Itu melegakan.
"Di sini semakin menyenangkan saja.. setelah 900 tahun, kupikir aku sudah kehilangan kesenangan akan dunia ini namun sepertinya jauh dari yang kubayangkan."
"Guru pasti sangat kesepian."
"Sepertinya begitu, hanya guru Meliana dan Vivia yang selalu menghiburku namun saat ia meninggal rasanya percuma saja hidup abadi... aku sangat senang bahwa aku juga bisa bertemu dengannya kembali, terutama dengan Aksa."
Nona Heliet tersenyum lembut lalu melanjutkan.
"Apa boleh kita berciuman?"
Aku mengangguk sebagai jawaban, ini pertama kalinya kami berdua melakukannya.
__ADS_1