Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 199 : Jam Kembar Melawan Jam Tartarus


__ADS_3

Tubuhku terlempar hingga meluncur di permukaan air, tanpa tenggelam aku berdiri di permukaannya begitu juga Ariesta yang berdiri di depanku.


Penampilannya seutuhnya telah berubah dengan gaun hitam yang mengeluarkan aura kegelapan serta sayap dipungungnya pun menjadi semakin besar dan kuat.


Hal seperti ini memang selalu terjadi padaku, sebelumnya aku pernah bertemu buku dosa mematikan sekaligus dan harus melawannya, kemudian bertemu pengguna pedang iblis dengan jumlah banyak dan sekarang aku juga harus mengalahkan dewa-dewi yang sebanyak ini.


Pertarungan satu lawan satu memang jarang terjadi padaku.


Aku mengubah kedua mataku dalam bentuk jam berwarna merah yang menunjukkan jam dua belas dengan angka Romawi, bersamaan itu sebuah jam raksasa dengan setengah warnanya berbeda muncul di atas kepalaku saling berhadapan dengan jam milik Ariesta.


Aku bertanya ke arah Ariesta.


"Bagaimana jika aku menghancurkan jam besar di belakangmu itu."


"Entah aku ataupun kedua dewi bersamamu itu akan berubah menjadi manusia biasa, dengan kata lain kau tidak akan mungkin menghancurkannya."


Aku mengatupkan mulutku sebelum meluncur ke depan, seperti yang dia katakan aku tidak mungkin menghancurkan jamnya.


Satu hal yang bisa kulakukan hanyalah menantang Ariesta secara langsung, aku muncul di belakangnya selagi mengayunkan pedang dari samping.


Ariesta memunculkan pedang yang sedikit berbeda dari sebelumnya dan menahannya dengan baik hingga aku melompat lalu menyerang dari sisi yang lain.


Kilatan cahaya tercipta saat senjata kami saling berbenturan.


"Usaha bagus, tapi kekuatanmu jelas tidak akan cukup... selama ini aku berjuang menemukan dewa-dewi lainnya untuk datangnya hari ini, setelah mengalahkanmu akan kuhabisi para dewi di alam sana."


"Aku tidak akan membiarkannya."

__ADS_1


Trang... Trang... Trang.


Selagi benturan terjadi aku merapalkan mantra.


"Aku adalah pedang yang membunuh dewa..."


Trang.


"...Membawa dunia ke dalam bencana dan memasukkan semuanya ke dalam neraka kehancuran...."


Ariesta memunculkan dua pedang di langit dan aku menangkisnya dengan mudah selagi mengarahkan ujung bilah padanya.


"Sihir Terlarang Abelona."


Ratusan pedang bermunculan dari langit yang mana melesat menghujani Ariesta, dia tidak menghindarinya melainkan mematahkannya dengan pedang di tangannya, gerakannya yang cepat membuat semuanya mudah ditangkis, setelah selesai sebuah balok es menghantam tubuhnya hingga dia sedikit mundur ke belakang.


Aku bisa melihat bahwa para monster telah dikalahkan dan para pelayan selamat.


"Kalian berdua?"


"Kita anggota party, lebih baik kita menyerang bersama-sama," atas pernyataan Naula aku mengangguk mengiyakan sementara Ariesta tertawa.


"Bertambahnya ikan teri tidak akan merubah apapun, majulah kalian akan kuperlihatkan apa itu keputusasaan sesungguhnya."


Beberapa pedang meluncur ke arah kami, semuanya menghasilkan ledakan yang memunculkan asap ke udara, dari dalam asap tersebut kami menerjang maju.


Naula melompat ke udara sambil menyerang dan dengan mudah dihindari Ariesta hingga dia tidak mengenai apapun kecuali permukaan es yang membeku, di saat yang sama Liz menciptakan pedang raksasa untuk mengenai Ariesta, Ariesta menghancurkannya dengan mudah lalu menendang tubuh Liz meluncur.

__ADS_1


"Bodoh, pedang seperti itu tidak akan bisa menahan pedangku, bahkan kalian juga."


Pedangku dan Ariesta saling tertahan satu sama lain, Naula mengambil kesempatan mengayunkan tongkatnya dari belakang, namun sayap di punggung Ariesta menahannya lalu menghembuskan ke belakang hingga dia menembus ke dalam air laut.


"Serahkan padaku."


Liz yang menyadari hal itu melompat untuk menyelamatkannya. Sementara aku didorong ke belakang.


Ariesta mengangkat tangannya dan sebuah meriam raksasa tercipta.


"Mati kau."


Boom.


Sebuah tembakan dilesatkan ke arahku, bersamaan hentakan yang memekakkan telinga seorang jatuh di depanku lalu mengayunkan pedangnya hingga tembakan itu terpantul ke samping.


Saat meriam itu menghilang setelahnya aku mengalihkan pandangan ke arah seorang yang menyelamatkanku.


Dia mengenakan pakaian serba hitam dengan rambut bergaya ekor kuda, hanya ada satu orang yang bisa menggunakan empat pedang sekaligus.


Dia adalah..


"Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada keluargaku."


Tak hanya itu tiga orang lagi menjatuhkan dirinya di sampingku.


Mereka adalah kelompok Ayumi.

__ADS_1


__ADS_2