
Aku bisa mengkonfirmasi tentang kura-kura yang berada di benua Lemuria ini, akan tetapi ada hal yang ganjil tentang semuanya.
"Bukannya kura-kura itu bukan sesuatu yang bisa membuat bencana bahkan dulu di atas tempurungnya terdapat kota-kota yang bisa ditinggali."
Mendapati pernyataanku Lupin semakin tertawa, tentu suara yang mengerikan berasal dari mulut tambahannya.
"Itu jelas apa yang dikatakan Meliana, para binatang bencana memang belum bergerak namun sangat berbahaya untuk diganggu.. kurasa dia sengaja menyebarkan gosip-gosip aneh diluar demi melindungi banyak orang, tapi jelas semua itu bohong, kota yang berada di atas tempurung itu telah ditinggalkan manusia namun sejujurnya mereka telah mati itulah yang sesungguhnya."
"Jadi begitu, binatang itu belum merusak sampai sekarang karena penyihir kegelapan belum pulih seutuhnya, tapi jika dia akan bangkit 5 tahun lagi maka binatang itu kini telah bergerak."
"Tepat sekali, yah... aku juga lebih berbahaya dari mereka."
"Kalau begitu aku harus membunuhmu di sini."
"Itu jika kau bisa."
Lupin muncul tepat di sampingku dengan sihir perpindahan, dia bukan seorang pengguna senjata kendati demikian tendangannya benar-benar kuat bahkan saat aku menggunakan pedang kakinya sama kerasnya dengan itu.
__ADS_1
Dia berputar di udara, menggunakan teknik kaki gunting, aku melompat ke samping hingga ledakan tercipta di sana.
Dari segi kekuatan maupun kecepatannya dia berada di bawah Athena, kendati demikian dia setingkat berada di atasku.
Dengan mengirimkan tinju dia bergerak lebih cepat, saking cepatnya bayangan dari tangannya terlihat semakin banyak hingga sulit untuk menangkis semuanya.
Aku terlempar menabrak bangunan sebelum melesat ke udara.
Kuarahkan kedua tanganku hingga sihir muncul tanpa kendala.
Tidak ada keraguan untuk menggunakan sihir tingkat atas saat melawan monster sepertinya.
Biasanya aku menggunakan sihir api ini dari atas langit tapi hari ini kugunakan melalui tanganku, api merah bagaikan gelombang Tsunami meluncur, melesat dan melahap keberadaan sosok Lupin.
Berbeda dariku yang harus menghela nafas karena kelelahan, Lupin masih baik-baik saja dia berdiri dengan bayangan keluar dari tubuhnya dengan mulut menempel di sana sini, mulut itu telah menghisap sihirku seolah seperti makanan.
Ketika mulut itu tertawa itu menghasilkan suara mengerikan memecahkan seluruh kaca istana tanpa kesusahan.
__ADS_1
Jika ada teriakan dari dasar neraka, mulut itu bisa diumpamakan sebagai salah satunya.
Aku mendaratkan kakiku mengirim sihir serangan berupa tombak es maupun segala macam elemen yang ada di dunia ini. Jika melihat sekilas mulut-mulut itu seperti sebuah pertahanan mutlak tanpa tertembus namun jika diperhatikan selalu ada kelemahan untuk setiap kekuatan.
Bayangan Lupin mulai membesar kemudian berubah menjadi daging, perlahan tapi pasti tubuhnya mulai terangkat ke udara bersamaan dirinya yang mulai berubah wujud menjadi sosok iblis.
Lupin pada dasarnya bukan petarung dia adalah tangan kanan penyihir kegelapan dalam ilmu pengetahuan dan jika mengasumsikan hal itu bahwa petarung sesungguhnya adalah Nene si pengguna pedang iblis.
Dia dengan sengaja membuang kekuatan dari buku grimore yang dimilikinya, itu membuktikan bahwa dirinya lebih kuat dari sebelumnya dengan Kaleodoskop.
Daging-daging itu merubah dirinya menjadi tentakel tanpa menghilangkan bagian mulutnya.
Dengan kekuatanku hal seperti mengalahkannya adalah sesuatu yang menyulitkan tapi itu tidaklah mustahil terlebih jika kami menggabungkan kekuatan bersama.
Liz dan Alyssa muncul secara bersamaan dengan Naula dan juga Malifana yang membawa orang tuanya.
Ada wanita yang tidak aku kenal di sana namun memiliki aura yang tidak asing bagiku, dia pasti Lola.
__ADS_1
Tanduk dan pitanya sesuatu yang tidak mungkin dimiliki kebanyakan orang pada umumnya.